Skip to main content

Posts

Showing posts from 2024

Kini

Walaupun sekarang aku bukan lagi jadi penyebab bahagiamu, bukan lagi hal yang kau nantikan untuk dapat kau sentuh dan peluk, dan bukan lagi manusia yg kau rindukan, tapi percayalah, seluruh ruang dalam diri dan hatiku penuh oleh semua tentangmu. aku bingung kenapa rasa itu masih begitu kuat, padahal berkali-kali kau lepaskan.  Aku selalu mengingat belaimu sebagai sentuhan ternyaman yg pernah aku rasakan. aku menangisi kenapa akhirnya ini harus berakhir dengan tragis, aku meratapi kenapa pada akhirnya hanya aku yg masih menantikan dan mengharapkan bahagia itu kembali tumbuh.  Kini bisaku hanya menatapmu dari jauh, kembali bersembunyi dibalik bayangan banyak orang, menjadi asing tanpa pernah lagi kau acuhkan, hanya kembali berharap kau ulurkan tanganmu lagi, merangkulku dengan hangat, mendekapku dengan kuat dengan tatap yang menenangkan. Sukar sekali rasanya tak mengingat segalanya tentangmu, tentang bagaimana aku berusaha merubah jadi seperti yang kau mau, tentang bagaimana ras...

Pencarian peti hati itupun gagal.

Jika kau pikir aku takut kehilanganmu, kau tidak sepenuhnya benar. Kehilanganmu mungkin akan sangat menyakitkan, memuakkan, dan menakutkan. Tapi aku lebih memilih untuk tumbuh dari penderitaan dan perjuangan melepaskan, daripada sekarat dan terseok-seok berusaha mendapatkan cinta dan kasih sayangmu yang memang tidak tersedia. Jika krusial, aku berkenan berhadapan dengan rasa sakit, melihatmu dengan sudut pandang lain dan perasaan yang perlahan harus kukubur dalam-dalam, karena gayungku tak kau sambut. Mencintaimu seperti balita yang belajar berjalan. Sedari awal aku harus menangis, merangkak, berdiri dengan tertatih, melangkah dengan perlahan dan berpegangan, lalu mulai berjalan pelan dan berkali-kali terjatuh, hingga akhirnya aku dapat berlari. Mungkin esensi hadirku di hidupmu hanya untuk pergi melepaskanmu, melatih diriku menerima sakit yang teramat, hingga akhirnya aku dapat melihatmu disebrang sana.  Menyayangimu perlu kekuatan dan kesabaran batin yang amat tinggi, agar dapat ...

apa aku bagian dari rumah yang kita usahakan?

Kalau ada satu kata yang mewakili perasaan lebih dari kecewa, mungkin aku butuh itu. Aku tau sepertinya semuanya sudah diujung, aku harus bergerak mencari rumah lain, yang setidaknya punya rasa dan keinginan yang sama, supaya berjuangnya juga sama-sama, dengan cara yang sama. Sudah berbelas-belas hari sejak aku terakhir merasakan rumah itu. Di matamu aku yang jadi penyebab goyahnya pondasimu. Padahal inginku tidak banyak. Aku sudah tidak lagi merasakan hangat yang diawal hadir sebelum seluruh perjalanan panjang yang melelahkan ini, tapi sepertinya makin hari makin dingin. Seolah kebutuhanku sudah tidak pernah jadi concern lagi.  Rumah ini bukan lagi rumah yang damai, yang ada hanya amarah, ego, kesalahpahaman, dan ketidaksesuaian. Apa yang kutuju nampaknya bukan hal sama yang akan kau tuju. Apa yang aku cari sepertinya bukan jadi prioritasmu, apa yang aku harapkan nampaknya justru jadi beban untuk kau hadirkan. Aku yakin, meski kutulis dengan hati-hatipun, kau akan tetap marah memb...

Belajar Banyak

Hubungan ini berat sekali, entah kenapa.   Berat menjalaninya, berat memikirkannya, berat juga bobotnya. Bahagia? tentu saja. Sangat. Lancar? belum tentu. Banyak hal yang mendewasakan, banyak hal baru, banyak ekspektasi yang patah, tapi banyak momen-momen takjub yang unexpected.   Disatu sisi terlihat egois jika aku bahagia sendiri, sedang kamu mengusahakan banyak hal dengan segala pengorbananmu. Tapi apakah aku diam? tentu saja tidak. Setiap hari, bahkan setiap saat, aku selalu mendewasa, belajar banyak hal yang mungkin dulu tak terfikirkan, atau mungkin belum tau cara menghadapinya. Berat? Tentu saja. Pedang tidak ditempa dengan usapan lembur, tapi dengan pukulan palu yang keras, lalu dipanaskan hingga merah mentereng.  Hubungan ini begitu berat. Begitu beratnya sampai tak terfikirkan untuk menyudahi, karena akan banyak hal baru, tantangan baru, ujian dan cobaan baru. Aku harap kamu berfikir sama denganku. Ini proses panjang yang tak cukup satu dua bulan untuk mengerti....

....

First of all, I'm really sorry for everything that i've done. Aku gagal, maaf aku gagal. Aku gagal menjadi tempat ternyaman dan teraman untukmu, gagal ada disampingmu menyeka air matamu, justru aku membuatmu menangis. Aku gagal menjadi orang yang memelukkmu saat tanganmu bergetar hebat, gagal menjagamu, menjadi orang terdekat yang harusnya paling mengertimu. Maaf, aku belum berhasil. Kini bisaku hanya berusaha tak mati jika kau melangkah pergi, berusaha tetap 'hidup' meski hati tak lagi ada isi, perasaan sudah kosong lantaran seluruhnya kuberi dan kau bawa pergi. Aku tak akan membela diri, nyatanya aku salah telak tanpa bisa dielak. Bisaku hanya memohon ampun, lalu berjanji untuk tak luput lagi, sembari berusaha mendidik diri untuk tak menjadi sebodoh itu lagi, itupun jika kesempatan masih kau beri. Kau tau? Memilikimu itu sebuah mimpi yang tinggi sekali, sebegitu tingginya sampai-sampai aku tak berani berandai. Dicintai olehmu itu seperti happy ending yang terlalu inda...

Sekelumit Awal Juni

Awal bulan ini diawali bangun tidur dengan kepala sakit sampe ke tengkuk, sepertinya kena common cold. Mungkin karena tidur tidak nyenyak dengan banyak fikiran mengganggu di kepala. Perasaan resah dan tidak tenang yang terus menghantui. Ingin sekali senang, tapi seperti ada kabut menutupi pelangi kebahagiaan itu.  Untungnya aku diberi Tuhan penyelamat. Cantik sekali, lho. Entah karma baik apa, tapi Tuhan menyelipkan aku diantara kehidupan, fikiran, kesibukan dan aktivitasnya. Acapkali aku tak enak hati, tapi aku begitu menikmati tiap hal kecil hingga besar yang ia lakukan untukku, sampai bingung harus membalas baiknya dengan apa.  Namun aku pastikan, apapun akan kulakukan agar ia bahagia, asal tak kehilangan dirinya saja. Aku ingin sekali selalu berada disisinya, mendengar keluh kesahnya, menemani penatnya, membantu semaksimalku untuk bahagianya, mengusahakan semua hal-hal yang dirasa perlu, agar ia dapat hidup nyaman bersamaku.  Semua butuh waktu, aku tau. Aku belajar pa...

MAKING MY CHILDHOOD DREAM COME TRUE!!

SEVENFOLD! SEVENFOLD! SEVENFOLD! FINALLY! Setelah nunggu 9 tahun, we did it kid!  Deg-degannya baru berasa pas masuk venue, mungkin karena emang gak terbiasa dengan situasi seramai itu. Pas lampu mati, gebukan drum Brooks mulai kedengeran.... magis. Ini band yang aku dengerin dari 2009, my childhood hero! Synyster yang bikin aku serius main gitar, yang bikin ngerokok Marlboro karena dia punya tattoo "Marlboro" di jari-jarinya. Band yang lagu pertamanya bikin orang tepuk tangan dan nyanyi bareng pas dibawain di panggung. GILA! Agak nyesel karena beli tiketnya di CAT paling belakang, jadi cuma ngandelin big screen. Tapiii, semua lagunya sukses menghujam jantung, bikin suara ilang teriak-teriak dan sing a long bareng ribuan penonton. PECAH! Band yang ga pernah absen masuk playlist jaman masih main di warnet. Dan ga pernah absen ada di handphone jaman belum ada streaming music platform. Sampe ke poster-poster yang menutupi hampir seluruh tembok kamar.  Dari dulu cuma bisa nontoni...

Anak kecil itu

Melebur rasa menjadi kata memang tidak mudah, apalagi sampai punya makna.  Sedari kecil memang ia gemar merangkai frasa entah untuk apa, kadang berima, kadang sesukanya saja tak beraturan. Arti sebenarnya hanya ada di pikiran, tapi tak pernah bisa ia tuliskan dengan jelas. Anak ini tumbuh menjadi laki-laki periang yang menyimpan banyak luka, kadang bisa diliat mata, namun kerap kali ia tutup rapat, dituangkan menjadi kalimat menyayat, mengganti luka di raga menjadi sajak semaunya. Sering tak jelas, bahkan tulisannya kadang tak punya arah. Tapi itulah bentuk ekspresi kekecewaannya pada semesta, sengaja dibuat sukar ditelaah agar hanya ia dan Tuhannya yang tau apa yang tengah terjadi saat itu. Usianya baru 10, kalau aku tak salah ingat saat itu. Tapi ia sudah gemar merenung, memegangi pulpen untuk mencoretkan banyak tinta di buku tulisnya.  Sampai suatu hari Ibunya membaca coretan-coretan itu. Jelas saat itu ia tak mengerti arti kernyitan dahi sang ibu kala itu. Ia tak paham hel...

#30DaysWritingChallenge Day 7 : List 10 songs that you've loving right now.

 - List 10 songs that you've loving right now. Ini agak susah sih, karena aku cenderung mendengarkan lagu dari musisi yang itu-itu aja. Kalau ada yang lain, ya selewatan aja. Mungkin kita ubah dikit kali ya, jadi 10 lagu yang punya cerita? Oke ga si? Oke lah ya? ya okelah gua yang nulis. Hahaha. 1. d'Masiv - Diantara Kalian Ini lagu yang nge-trigger aku beneran pengen bisa main gitar. Cuma karena denger melodi gitarnya Rama, aku ngerasa bakal keren banget kalo bisa main gitar di panggung mainin nada se-catchy itu. Aku lupa tahun berapa, kalau gak salah SD kelas 2 atau 3. Gitar pertama yang aku punya, waktu itu habis sakit typus dan dirawat di rumah sakit beberapa hari. Waktu itu entah kenapa banyak banget yang jengukin. Kalau di daerahku, biasanya besuk orang sakit either bawa makanan atau amplop, haha. Apalagi waktu itu aku masih kicil. Singkat cerita pulang dari rumah sakit, pas diitung kok banyak kali amplopnya haha. Yaudahlah dipake buat beli gitar pertama waktu itu. ...

#30DaysWritingChallenge Day 6 : Five ways to win your heart.

 - Five ways to win your heart Sebenarnya aku tidak pernah tau aku punya syarat pasti, atau langkah pasti untuk seseorang bisa aku sukai. Kadang daya tarik mereka yang mengundang hati untuk mendekat sendiri. Jadi kalau ditanya apa saja, aku akan mencoba merasakan, walaupun mungkin yang aku tulis tidak bisa jadi patokan, at least hal-hal ini yang terlintas atau mungkin pernah aku rasakan. Mari kita coba ya.. 1. Cantik Menurut psikolog Bondan Seno Prasetyadi, "secara fisiologis pria merupakan makhluk visual karena lebih banyak menggunakan sisi rasional, sementara wanita kebalikannya lebih banyak memakai emosional. Jadi pria dan wanita tentu berbeda,"  Sementara dari data yang aku baca, hampir 50% dari otak manusia selalu terlibat dalam memproses visual. Meskipun manusia punya panca indera, namun 70% dari seluruh laporan sensorik ada di mata. Mata kita sangat bagus, bahkan dinilai jauh lebih baik dibandingkan indra kita yang lain, sehingga kita dapat menangkap pemandang...

Sedikit Tentangmu

Aku izin menulis tentangmu ya, boleh? Setelah selama ini, aku baru kembali merasakan nyaman seindah ini, mendengar semua tuturmu sekhidmat ini. Aku fikir ini tidak berlebihan, tapi mungkin aku memang jatuh sudah sangat dalam.  Waktu kala itu hanya dihabiskan beberapa jam, namun rasanya begitu menyenangkan. Seperti meneguk air pelepas dahaga setelah berjalan jauh ditengah gurun tanpa pernah tau dimana mata air nyata yang bukan fatamorgana.  Itu persinggahan yang lama aku inginkan, untuk sekedar rehat, atau menghabiskan waktu barang sejenak bersama orang yang ingin tinggalkan jejak, atau bahkan menetap. Kenapa di Bandung? aku juga tidak tau.  Namun yang bisa kuamini, di waktu yang sesingkat itu aku bisa menikmati banyak hal tentangmu. Sentuhan lembutmu, gerakan rahangmu saat kau mengajakku ketempat makan pertamaku denganmu, Perhatian kecilmu, membius membuat aku tak ingin beranjak. Sederhana, tapi melekat kuat. Seperti saat kau bantu aku makan dengan susah payah karna lesi ...

Mencari Rumah

Ketakutan itu soal perspektif dan pengalaman, tapi bukan berarti tak beralasan. Rasa yang teramat dalam kadang tak mengenal dataran, yang ia tau hanya kedalaman tak berbatas. Ini bukan soal waktu yang terbuang sia-sia, tapi hanya soal seberapa kuat raga menunggu datang si asa, mungkin datang, atau justru tak pernah nyata.  Ini soal bagaimana diri mengenal lebih jauh hendak hati ingin apa, lalu mampu menyelami lebih dalam dengan perhitungan, untuk tau dibatas mana dapat terjatuh agar bisa kembali naik ke permukaaan.  Perasaan tak menentu setahun lalu itu tak kusangka akan punya cerita, aku pikir hanya akan lewat saja. Sebegitu rumit hingga tak berdaya, mencoba merangkai serpihan-serpihan, tapi sulit untuk menjadi sebuah wujud bentuk nyata.  Hari demi hari dilewati dengan tak pasti, hanya menunggu datangnya si Cahaya, tanpa tau kapan dapat kugenggam. Sedikit menghangatkan, namun acapkali hilang meninggalkan gelap tanpa tuntunan.  Banyak ku ditemani lilin-lilin kecil, s...

Layangan usang itu temui pemiliknya..

Hebat sekali ya, Tuhan menyimpan serpihan kenangan dengan sangat rapi tanpa goyah.  Selamat ya. Akhirnya layangan usang yang dulu terlewatkan kini ditemukan pemiliknya, yang jelas bukan aku. Enggan untuk menerka kemana arah layangan itu terbang hingga akhirnya ditemukan, meski sedikit terkejut melihatnya diterbangkan oleh tangan lain. Selamat, terima kasih Tuhan telah menyimpan potongan kecil kenangan ini dengan rapat, saatnya kubakar. Sudah waktunya untuk membuang sisa memori itu, cukup andalkan ingatan lemah ini. Kalau nanti ada kesempatan, biarkan otak mungil ini memunculkan memorinya, tanpa perlu lagi dengan sengaja disimpan. Tidak bersedih, sedikit terkejut, banyak senangnya, melihat akhirnya layangan itu jatuh ketangan yang tepat. Ikut kudoakan agar terawat dan menjadi kuat, agar mampu lagi terbangkan harapan setinggi mungkin agar lebih dekat ke Tuhan dan segera diwujudkan. Cinta tak harus memiliki mungkin kali ini di situasi yang tepat, karena sejak awal ketakutan menjadi so...

Akhir Pekan Akhir April

Penghujung April, 01.23 pagi.  Pasca menonton kekalahan timnas Indonesia yang penuh intrik dan ketidakadilan dari sang pengadil, aku belum terkantuk.  Sepertinya hari ini kekopian, asam lambung bikin anxiety? berlebihan sih, mungkin lebih pantas disebut overthinking? entah. Aku hanya ingin tidur pulas sebenarnya.  Hari ini berjalan cepat, seperti tidak terjadi apa-apa. Jarum jam berputar saja seperti biasanya tanpa meninggalkan bekas apa-apa.  Ini hari kesekian, aku mencoba menjadi sesuatu, entah berhasil atau tidak. Mencobai sesuatu yang tak biasa sukar sekali rasanya.  Akhir pekan kemarin, ditemani kawan lama sedari sore hingga lewat hari. Banyak hal dibahas, banyak obrolan terlontar. Dari mulai tawa bahagia pengantin baru, hingga hancurnya hati ditinggal yang baru jadi pengantin. Dunia memang selucu dan seunik itu, kita bahkan belum sempat bersiap, tapi takdir? berkata lain.  Sukar rasanya bilang mereka tidak berjuang, karena nyatanya perjuangan mereka m...

April 5th,

Sudah lama tidak merasakan getaran rasa sehebat ini, Berdebar tanpa henti, layaknya berdiri di ujung tebing tinggi, Sudah lama tak sebersemangat ini, rasanya kian enggan pergi, Sudah hampir 3 minggu, kucoba langkah berani maju, Jika ditanya sebab apa, jawabku semestalah yang tuntun cari rasa, Bahkan aku hanya pejamkan mata, membiarkan hati menari kearah yang dia harapkan Aku hanya mengamini setiap kata baik, yang hakikatnya adalah untukmu Aku tak mampu ucap kata, sebab binar matamu membius, sentuhmu melemahkan.  Aku tak pandai mencari topik, tapi niscaya kupunya kompetensi jadi pendengar terbaik.  Pelukmu hangat, kadang hanya ingin dengar keluhmu, jadi tempatmu pulang saat malam telah pekat. Ingin kutatap, genggam tanganmu saat kau merasa hari begitu penat.  Sulit memang, meski tidak tau dimana garis start, tapi sudah kubayangkan garis akhir, tanpa berfikir tumbang diperjalanan.  Jadi, kuanggap langkah ini adalah pendakian. Harus ada kaki yang melangkah dari bawah un...