Skip to main content

Sekelumit Awal Juni

Awal bulan ini diawali bangun tidur dengan kepala sakit sampe ke tengkuk, sepertinya kena common cold. Mungkin karena tidur tidak nyenyak dengan banyak fikiran mengganggu di kepala. Perasaan resah dan tidak tenang yang terus menghantui. Ingin sekali senang, tapi seperti ada kabut menutupi pelangi kebahagiaan itu. 

Untungnya aku diberi Tuhan penyelamat. Cantik sekali, lho. Entah karma baik apa, tapi Tuhan menyelipkan aku diantara kehidupan, fikiran, kesibukan dan aktivitasnya. Acapkali aku tak enak hati, tapi aku begitu menikmati tiap hal kecil hingga besar yang ia lakukan untukku, sampai bingung harus membalas baiknya dengan apa. 

Namun aku pastikan, apapun akan kulakukan agar ia bahagia, asal tak kehilangan dirinya saja. Aku ingin sekali selalu berada disisinya, mendengar keluh kesahnya, menemani penatnya, membantu semaksimalku untuk bahagianya, mengusahakan semua hal-hal yang dirasa perlu, agar ia dapat hidup nyaman bersamaku. 

Semua butuh waktu, aku tau. Aku belajar pantaskan diri hari demi hari agar semuanya jadi baik dan menyenangkan untuknya dan untukku. Semoga awal baik ini akan menemukan jalan indah bersama, entah sesulit apa. Aku percaya rasa kami harusnya setulus itu, setidaknya rasaku. Mungkin sekarang aku terlihat lemah, tapi Tuhan harusnya tau aku seberjuang apa memantaskan diri, bukan hanya soal raga, tapi semua yang bisa diusahakan. 

Kini bisaku hanya berusaha, menebak dan bertanya hal apa yang dia butuhkan, agar aku siap ketika suatu hari ia benar-benar akan bersamaku. Aku fikir, perasaan ini mendorongku jauh menembus batas, memikirkan segala kemungkinan agar menjadi versi terbaik untuknya. Semoga segera ya. 

Aku ingin menjadi manusia tempatnya berpulang, tempatnya bersandar, menjadi individu yang siap saat dibutuhkan dan bisa diandalkan. Aku ingin menjadi tempat terakhir tujuannya berlabuh dan menua bersama. Menemani hari tuanya dengan romantis dan bahagia. Aku ingin menjadi bagian yang melekat, yang benar-benar ia butuhkan dan harapkan. 

Doakan aku ya.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...