Skip to main content

Posts

Showing posts from 2025

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

titik akhir di batas nadir.

A full year has turned, and a history ends without the strike of a gavel. "Do not love something that stands still," you said. For behind the warmest embrace, thorns often work in silence. Ultimately, the seasons shift and your true colors bleed out. You began with words soft as velvet, before letting those hidden thorns sink deep, right when I had nothing left to sacrifice. Now, my chest is wide open. Empty, like a house stripped of its dwellers. I did not die of heartbreak; I simply stopped walking because my path was cleanly severed by the truth you masked behind your grace. Thank you for that kindness—whether genuine or hollow. For the moments that were once beautiful, and the sharp ache that followed. I am backing away now, playing the exact script you wrote. I walk away, pocketing your freezing words. Not because I am giving up, but your thorns have rendered the road ahead impassable. I must salvage what remains of myself. Don't worry, I will remember how seamlessl...

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

dari “1 Kakak 7 Ponakan” aku mengerti…

Dari “1 Kakak 7 Ponakan”, aku belajar sesuatu yang sebenarnya sudah lama aku tahu, tapi belum pernah benar-benar aku pahami: bahwa pengorbanan untuk keluarga tidak akan pernah sia-sia. Selama ini, aku hidup hanya untuk diriku sendiri. Untuk ambisi. Untuk ego. Aku membangun mimpi-mimpi besar, seolah-olah kesuksesan bisa menebus segalanya. Aku ingin membuat semua orang bangga. Ingin diakui. Dihargai. Tapi aku tidak pernah benar-benar bertanya—untuk siapa semua itu? Selama semuanya lancar, aku merasa tak ada beban. Tapi hidup tak selamanya lunak. Satu demi satu masalah datang, dan aku mulai mengerti betapa beratnya berkorban. Bukan sekadar melepas mimpi, tapi merelakan rencana yang sudah kutulis bertahun-tahun, yang kubangun dengan keyakinan penuh… hancur di depan mata. Sejak Ibu sakit, semuanya berubah. Dulu, Ibu adalah poros segalanya. Rumah. Arah. Kekuatan. Tapi setelah stroke berat itu, bahkan suaranya yang dulu selalu berkata “Kamu bisa” pun menghilang. Dan bersamaan dengan itu, arah...

sekenanya

Aku datang tanpa baju perang, membawa hati seperti rumah yang tak pernah kau ketuk, kutawarkan pelukan, kau balas dengan senyum seadanya—kadang pun tak. Kupilih mencintaimu dengan terang, bukan karena aku bodoh, tapi karena aku percaya, cinta tak perlu disembunyikan seperti dosa. Kupijakkan harap di matamu, di tiap percakapan larut malam, di setiap “hati-hati ya” yang kubisikkan, dengan harapan—kau akan paham. Tapi ternyata, aku hanya jadi hiburan, teman main saat sepi, boneka perasaan yang kau tarik-ulur, seolah hatiku cuma lelucon yang bisa kau tertawakan. Kau tak pernah benar-benar peduli, tanganku hanya genggaman yang kau lepaskan saat bosan, rasaku cuma halaman singgah, bukan rumah, apalagi tujuan. Dan yang paling menyakitkan bukan karena kau tak cinta, tapi karena kau tahu aku tulus, dan kau tetap memilih bermain, seolah luka ini bukan apa-apa.

i’m waiting.

because you're the only one who makes me feel truly alive. you brought back my smile when i thought i'd lost it. i’ll wait, not because it's easy, but because i believe one day the time will be right, and we'll be together again. waiting isn’t easy, but for you i’ll gladly to do it. because you’re worth every spent hoping and believing in us. being a part only makes me appreciate what we have even more. each day that i wait I hold on to all reasons why I fell for you, the small moments, the laughter, the understanding between us.  I know deep down that if we’re meant to be together, the right time will come. when it does, we’ll be stronger more certain and ready for whatever comes our way. So here i’am with my heart wide open, willing to wait however long it takes. i believe in us, and i’m not giving up easily. because a love like ours doesn’t just happen, it’s rare and i’d wait a lifetime to make it real. i tell myself i’m okay but the truth is i really miss the days t...

2025

Dimulai dengan amat porak poranda, berantakan, dan kesepian.  Banyak yang gagal, diantaranya yang paling menyakitkan dan menyisakan luka dalam yang teramat, diantaranya yang sangat mengecewakan, sebagian yang sangat memillukan, salah satunya yang sulit dilupakan.   Aku belajar banyak, diantaranya adalah manusia tidak akan pernah bisa terbang tinggi hingga kelangit, apalagi sampai berani bermimpi menggapai “bintang”.  Cukup menapak, berjalan perlahan mencari insan lain yang mau berjalan beriringan menghadapi kerikil cobaan dunia dengan keyakinan yang sama bahwa tidak ada keinginan dan niat untuk saling menyakiti.  Mencari manusia yang jika salah diberi waktu, jika berantakan saling membenahi, tidak menyerah tanpa solusi dan berniat untuk pergi.  Mencari hati yang saling menguatkan dan memegang erat, mencari fikiran yang bangga bukan disembunyikan.  Mencari rindu yang bersambut, mencari hangat yang sama, mencari waktu untuk dihabiskan bersama, mencari le...

Life after breakup.

Ga ada.  Ga ada life. Belum move. Hari-hari cuma berulang-ulang muterin John Mayer, terpaku sama bait ini, Life is full of sweet mistakes, and love's an honest one to make, time leaves no fruit on the tree. But you're gonna live forever in me, I guarantee, it's just meant to be.. Aku tidak tau bagaimana cara melangkah, ketika sudah diam terlalu dalam. Sudah hampir 3 bulan, rasanya masih sepi, belum bisa berdamai dengan keadaan dan menerima kalau ternyata semuanya sudah usai. Aku masih disini, berusaha menanti, entah untuk apa.  Masih bergelut antara hati dan isi fikiran, rasanya semuanya begitu cepat lalu menghilang. Rasanya sudah kucurahkan semua yang ada, tapi nyatanya tidak ada bekasnya. Hal-hal yang kufikir menjaga dan menguatkan, ternyata justru malah menjauhkan. Kalau hidup hanya sekedar hidup, aku pun hidup, bernafas dan berjalan, tapi entah ketujuan yang mana, karena rasanya tujuanku berhenti di orang kemarin.  Sudah berganti tahun, namun kosongnya masih terasa, h...