Juni tiba tanpa ketukan pintu. Ia menyelinap seperti kabut yang menguap sebelum jemari sempat merapat. Setengah tahun melandai jadi padang tandus, dan aku berdiri di sana, mencatat sunyi sejauh mata memandang. Tidak ada perayaan di atas meja. Hanya sedimen duka yang mengendap perlahan di dasar sungai batin, menyulap langkah kaki menjadi begitu berat. Terlalu lama aku merawat luka ini seperti taman rahasia, menyiramnya dengan air mata yang membatu di tenggorokan, hingga aku akrab dengan gelap dan asing pada cahaya. Namun pagi ini, ada yang bergeser dalam dada. Sebuah retakan tipis muncul pada dinding yang lama menahan beban. Bukan tanda akan runtuh, melainkan celah kecil tempat cahaya mulai menawar gelap. Cukup. Biarkan sendu luruh seperti daun di ujung musim, gugur bukan karena kalah, melainkan karena tanah sudah bersiap melahirkan yang lebih terang. Aku memilih kembali mendaki. Bukan karena puncaknya menjanjikan keindahan, melainkan karena diam di le...
Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam. aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan. tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi. begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan. tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam. setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...