Skip to main content

Posts

Utthana

Juni tiba tanpa ketukan pintu. Ia menyelinap seperti kabut yang menguap sebelum jemari sempat merapat.  Setengah tahun melandai jadi padang tandus, dan aku berdiri di sana, mencatat sunyi sejauh mata memandang. Tidak ada perayaan di atas meja.  Hanya sedimen duka yang mengendap perlahan di dasar sungai batin, menyulap langkah kaki menjadi begitu berat.  Terlalu lama aku merawat luka ini seperti taman rahasia, menyiramnya dengan air mata yang membatu di tenggorokan, hingga aku akrab dengan gelap dan asing pada cahaya. Namun pagi ini, ada yang bergeser dalam dada. Sebuah retakan tipis muncul pada dinding yang lama menahan beban.  Bukan tanda akan runtuh, melainkan celah kecil tempat cahaya mulai menawar gelap. Cukup.  Biarkan sendu luruh seperti daun di ujung musim, gugur bukan karena kalah, melainkan karena tanah sudah bersiap melahirkan yang lebih terang. Aku memilih kembali mendaki.  Bukan karena puncaknya menjanjikan keindahan, melainkan karena diam di le...
Recent posts

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...

Ibu, aku rindu.

Hari ini aku makan di sebuah tempat yang biasa saja.  Lalu mataku tertuju pada satu meja yang riuh di seberang: seorang ayah, ibu, dan tiga anak yang sedang bertukar tawa dengan bebas. Pemandangan itu sederhana, tapi mendadak dadaku sesak.  Aku tersenyum, sambil diam-diam iri pada kehangatan yang dulu terasa begitu wajar bagi kita.  Sudah lama rumah kita tidak duduk dalam kebersamaan yang utuh seperti itu. Tidak ada lagi dirimu yang memarahiku pelan karena malas makan, lalu tetap menyuapiku di tengah restoran. Siang ini, aku sengaja memesan semangkuk sayur asem. Rasanya memang tidak sepenuhnya sama dengan racikanmu, Bu. Namun, sesapan pertama sudah cukup dekat untuk membuatku terdiam. Menemukan rasa yang mirip saja sudah terasa seperti mengetuk pintu masa lalu, membuatku pulang sebentar. Tadi malam kau mampir lagi dalam mimpiku.  Aku lupa kalimat apa yang kau ucapkan sebelum aku terjaga, tapi hangat belaian tanganmu di kepalaku masih tinggal, dan senyum tenangmu terl...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

titik akhir di batas nadir.

A full year has turned, and a history ends without the strike of a gavel. "Do not love something that stands still," you said. For behind the warmest embrace, thorns often work in silence. Ultimately, the seasons shift and your true colors bleed out. You began with words soft as velvet, before letting those hidden thorns sink deep, right when I had nothing left to sacrifice. Now, my chest is wide open. Empty, like a house stripped of its dwellers. I did not die of heartbreak; I simply stopped walking because my path was cleanly severed by the truth you masked behind your grace. Thank you for that kindness—whether genuine or hollow. For the moments that were once beautiful, and the sharp ache that followed. I am backing away now, playing the exact script you wrote. I walk away, pocketing your freezing words. Not because I am giving up, but your thorns have rendered the road ahead impassable. I must salvage what remains of myself. Don't worry, I will remember how seamlessl...

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

dari “1 Kakak 7 Ponakan” aku mengerti…

Dari “1 Kakak 7 Ponakan”, aku belajar sesuatu yang sebenarnya sudah lama aku tahu, tapi belum pernah benar-benar aku pahami: bahwa pengorbanan untuk keluarga tidak akan pernah sia-sia. Selama ini, aku hidup hanya untuk diriku sendiri. Untuk ambisi. Untuk ego. Aku membangun mimpi-mimpi besar, seolah-olah kesuksesan bisa menebus segalanya. Aku ingin membuat semua orang bangga. Ingin diakui. Dihargai. Tapi aku tidak pernah benar-benar bertanya—untuk siapa semua itu? Selama semuanya lancar, aku merasa tak ada beban. Tapi hidup tak selamanya lunak. Satu demi satu masalah datang, dan aku mulai mengerti betapa beratnya berkorban. Bukan sekadar melepas mimpi, tapi merelakan rencana yang sudah kutulis bertahun-tahun, yang kubangun dengan keyakinan penuh… hancur di depan mata. Sejak Ibu sakit, semuanya berubah. Dulu, Ibu adalah poros segalanya. Rumah. Arah. Kekuatan. Tapi setelah stroke berat itu, bahkan suaranya yang dulu selalu berkata “Kamu bisa” pun menghilang. Dan bersamaan dengan itu, arah...