Skip to main content

Pencarian peti hati itupun gagal.

Jika kau pikir aku takut kehilanganmu, kau tidak sepenuhnya benar. Kehilanganmu mungkin akan sangat menyakitkan, memuakkan, dan menakutkan. Tapi aku lebih memilih untuk tumbuh dari penderitaan dan perjuangan melepaskan, daripada sekarat dan terseok-seok berusaha mendapatkan cinta dan kasih sayangmu yang memang tidak tersedia. Jika krusial, aku berkenan berhadapan dengan rasa sakit, melihatmu dengan sudut pandang lain dan perasaan yang perlahan harus kukubur dalam-dalam, karena gayungku tak kau sambut.

Mencintaimu seperti balita yang belajar berjalan. Sedari awal aku harus menangis, merangkak, berdiri dengan tertatih, melangkah dengan perlahan dan berpegangan, lalu mulai berjalan pelan dan berkali-kali terjatuh, hingga akhirnya aku dapat berlari. Mungkin esensi hadirku di hidupmu hanya untuk pergi melepaskanmu, melatih diriku menerima sakit yang teramat, hingga akhirnya aku dapat melihatmu disebrang sana. 

Menyayangimu perlu kekuatan dan kesabaran batin yang amat tinggi, agar dapat mendekati frekuensi rasa nyamanmu. Berusaha mengerti pikirmu perlu jaket dan baju tebal agar kuat menahan dingin. Mencoba menebak kehendakmu perlu nagivasi paling mutakhir di muka bumi ini agar tak boleh sedikitpun salah langkah kedepan. 

Tapi nyatanya aku hanya anak desa yang belum punya teknologi apa-apa. Dengan bodohnya aku mendatangimu dengan tangan kosong tanpa punya apa-apa, lalu kemudian berharap kau memberikan dunia dan seisinya. Aku terlalu naif untuk menilai aku sangat mencintaimu meskipun tak pernah tau apa kenginan dan kebutuhanmu. Perbekalanku sudah habis, lilin-lilin yang kupersiapkan kalau-kalau tak ada penerangan sudah semua meleleh. Aku hilang arah. 

Mencoba meraihmu seperti mencari peti harta karun di pulau kecil antah berantah. Dengan bodohnya aku berlari mencarimu tanpa punya persiapan apa-apa. Hanya bermodal tekad dan keberanian ternyata tak cukup untuk dapat menyentuhmu barang sejengkal. Aku pikir niatku tulus, namun berkali-kali aku salah langkah, karna sedari awal aku tak pernah punya peta untuk menavigasiku kemana arah harus kutuju. Berkali-kali salah jalan, tersasar, hingga akhirnya kembali di titik awal. Kesulitan-kesulitan itu kuanggap bahan bakarku untuk terus melaju, tapi ternyata aku tak pernah satu jengkalpun mendekati peti hatimu.

Tibalah aku di penghujung kisah, akhirnya aku kalah. Segala daya upaya sudah kukerahkan, tapi sayang perbekalanku habis. Aku tak ingin mati ditengah hutan belantara tanpa bisa kembali pulang. Aku bahkan tak punya tenda untuk bermalam. Hari sudah mulai gelap, aku harus bergegas. Kepulanganku ini menyisakan luka bekas perjalanan. Kakiku bengkak, lututku lecet, tanganku memar, hatiku koyak. Aku kembali dengan tangan hampa tanpa pernah tau sebetulnya peti hatimu itu dimana. Perjalanan ini hanya menyisakan burung kecil yang sejak awal kutangkap untuk menemaniku berpetualangan mencari peti hatimu.

Terima kasih atas perjalanannya, meski aku tak bisa menemui peti itu, tapi kau sungguhkan banyak hal, buah dan tumbuhan segar untuk bertahan dari lapar, air bersih yang mengalir dari mata air untukku hilangkan dahaga, sinar matahari yang membuatku kuat, oksigen-oksigen dari pepohonan yang kau tanam, hingga hewan-hewan yang bisa kumakan. Perjalanan ini begitu membekas, kubelajar banyak dari sulitnya mendapatkan hatimu. Keangkuhan dan egomu memaksaku untuk memanjat pohon-pohon tinggi agar aku tak mati dimakannya. Emosimu memaksaku membangun jembatan agar ku tak hanyut dibuatnya. Keenggannmu memaksaku membuat api unggun agar ku tak mati kedinginan ditengah malam.

Meskipun sudah tertatih-tatih mencoba untuk bertahan dalam pencarian, nyatanya yang kau butuhkan bukan usahaku. Meski sudah berteriak dan membuat asap, tetap saja aku bukan hal yang kau tunggu-tunggu. Mungkin kelak, pengalaman ini akan membuatku lebih bersiap dalam melangkah. Kesalahanku yang tiba-tiba langsung mendaki rinjani tanpa pernah mencoba menyusuri papandayan. Mungkin kebodohanku untuk tiba-tiba free diving di laut lepas tanpa pernah berenang di kolam dalam. 

Aku sudah berusaha, meski kau tak pernah melihatnya, tapi biarkan susuran jalan di hutan itu menjadi saksi, pohon-pohon itu bercerita, air mengalir itu mengadu, bahkan biarkan hewan-hewan itu menuturkan padamu kelak, bagaimana seorang petualang kecil berhati baik yang kurang persiapan ini mencoba mendapatkanmu peti harta karunmu untuk dibuatkan rumah nyaman di desanya untuk tempat pulang dan mengadu. Biarkan tetesan-tetesan darah sisa luka-lukaku yang telah mengering di tanah menjadi pengingatmu, bahwa aku pernah sedekat mata dan bibirmu, bahwa aku pernah menjaga tidurmu, bahwa aku pernah berusaha untuk membuatmu tersenyum meski tak mudah, bahwa aku pernah menggenggam tanganmu saat kau butuh, aku pernah memelukmu saat kau kedinginan, bahkan pelukanmu pernah jadi satu-satunya tempatku meneteskan air mata saat tak ada lagi tempatku mengadu. 

Aku tak pernah lupa, bagaimana tangan gemasmu menyuapiku, membenahi badanku yang sakit ini, aku tak pernah lupa rasa berdebar saat aku melihatmu dari kejauhan, hingga saat ini rasanya tak berubah. Aku tak pernah bisa menghilangkan gemetar tanganku saat menyentuhmu sampai detik ini, aku tak pernah lupa tajamnya tatapmu saat kita saling dekat. 

Terima kasih, peta harta karun ini akan kusimpan selamanya, meskipun suatu hari kelak dtemukan teknologi mutakhir dan akhirnya kau jadi milik yang lain, ketahuilah aku tak akan pernah membagi kesenangan, kebahagiaan dan perasaanku untukmu pada yang lain. 

Akan selalu ada tempat untukmu singgah, kalau-kalau kau lelah, akan selalu ada bahu untuk bersandar kalau-kalau kau letih, akan selalu ada aku menantimu, hingga akhirnya kau berhasil melawan ego dan emosimu. 

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...