Ini bukan soal waktu yang terbuang sia-sia, tapi hanya soal seberapa kuat raga menunggu datang si asa, mungkin datang, atau justru tak pernah nyata.
Ini soal bagaimana diri mengenal lebih jauh hendak hati ingin apa, lalu mampu menyelami lebih dalam dengan perhitungan, untuk tau dibatas mana dapat terjatuh agar bisa kembali naik ke permukaaan.
Perasaan tak menentu setahun lalu itu tak kusangka akan punya cerita, aku pikir hanya akan lewat saja. Sebegitu rumit hingga tak berdaya, mencoba merangkai serpihan-serpihan, tapi sulit untuk menjadi sebuah wujud bentuk nyata.
Hari demi hari dilewati dengan tak pasti, hanya menunggu datangnya si Cahaya, tanpa tau kapan dapat kugenggam. Sedikit menghangatkan, namun acapkali hilang meninggalkan gelap tanpa tuntunan.
Banyak ku ditemani lilin-lilin kecil, siap kunyalakan, kalau-kalau telah sesak dengan gelap. Namun lilin ini berasap, tak nyaman jika dipakai terlalu lama. Tak jarang kupilih diam dalam gelap.
Lilin-lilin ini kadang kuajak keluar, mencoba mengarungi dingin malam. Namun mereka mudah mati tertiup angin, bahkan langsung padam tersiram hujan. Mereka tak perkasa, hadirnya hanya sementara. Padahal aku ingin melihat jalan di depan yang katanya indah. Tapi ini terlalu gelap, mataku sulit melihat cantik yang kata orang menenangkan.
Aku sudah lama tak pulang. Mencoba cari jalan dengan puluhan lilin-lilin yang tak bertahan lama. Aku sudah rindu hangat sang rumah, tempat yang katanya menyejukkan. Sudah lama aku terombang-ambing di lautan hingga akhirnya temui dataran, lalu berjalan ribuan langkah hingga menemukanmu, yang kupikir rumah.
Tapi harusnya rumah tempat pulang, bukan singgah. Rumah tak sekedar mampir, tapi menetap. Rumah tak sekedar api, tapi menghangatkan. Rumah harusnya tak sekedar elok, tapi juga buat nyaman.
Aku masih menunggu hadirmu yang tiba-tiba datang, cahaya terang yang langsung menghangatkan. Suara sedikit parau khasmu, senyum manis tipis dan pelit, tatap mata tajam membius, tawa renyah mudah didengar. Semua terekam, memori kecil itu bahkan menancap dalam, meski pertemuan-pertemuan itu tak direncanakan, dan akhirnya kan kembali berakhir gelap.
Tapi aku lupa, perasaan ini hadir sejak lama. Dulu tak pernah segelap dan sesakit ini. Bahkan, sebelumnya lilin-lilin kecil itu terasa cukup menemaniku terombang-ambing di tengah lautan diatas kapal yang bernahkodakan semesta. Tapi kapal itu ternyata menabrak karang, dan ombak memaksaku terseret hingga jauh, hingga akhirnya aku terdampar tepat dihadapanmu. Siapa yang mengira? entahlah. Rasa ini tumbuh telah lama, apa lantas salah kini aku menuntut balas?
Aku fikir dulu kapalku cukup kuat untuk membawaku arungi samudera luas menghadapi pasang surut airnya. Namun ternyata itu hanya sementara, aku butuh rumah untuk pulang, aku butuh bahu untuk bersandar, aku butuh cahaya, untuk menghangatkan kulit jari yang keriput kedinginan entah sejak kapan.
Aku ingin kamu, tempatku bisa duduk, merasa aman, bercerita dan mendengar semua hal, membersihkanmu saat kau kotor, memperbaikimu saat kau rusak, merawatmu agar jadi tempat bertumbuh, apa kau mau?
Semoga persediaan lilin-lilinku masih banyak, korek apiku juga masih cukup, agar saat kau pergi dan kembali tinggalkan gelap, aku masih bisa menunggumu, dengan sedikit cahaya kecil, bersiap-siap, kalau-kalau kamu datang dengan Cahaya besar, menuntun kembali ke Rumah yang aku usahakan.
Comments
Post a Comment