Malam itu langit tampak pekat, wanita bertudung gelap itu menyeruak dalam ingat Kadang aku sungkan menerka hujan Tentang butir-butir gelisah, tentang dinginnya resah Tentang hujan disenja hari yang kata orang menenangkan Aku malah tertegun, terpejam dalam diam Dari pejam mengingat tatap, dari tatap mengingat genggam Aku sendiri bahkan hanya melayang, iktu angin yang sedari awal menerbangkan keinginan Aku tau aku bukan butiran beras, yang banyak orang butuhkan, atau segelas air sejuk selepas makan siang ditengah penat Dibawah terik, beratapkan gedung itu Sebuah prolog sebuah kisah telah ditorehkan Lalu narasi itu dimulai dengan tatap tajamku Mulai ku simak warita asal usulnya Tentang bagaimana ia mulai merakit rasa Tentang seberapa kuat tataran hidup yang ia lakoni Semakin larut malam kala itu, aku masih termenung Diterpa dingin, kukepulkan asap tinggi-tinggi merobek dinding-dinding perasaan Berharap lega akan segera hadir, berharap kantuk segera menyerang Karena kutau, jika aku terus t...
an ordinary story writer.