Skip to main content

MAKING MY CHILDHOOD DREAM COME TRUE!!


SEVENFOLD! SEVENFOLD! SEVENFOLD!

FINALLY!

Setelah nunggu 9 tahun, we did it kid! 

Deg-degannya baru berasa pas masuk venue, mungkin karena emang gak terbiasa dengan situasi seramai itu. Pas lampu mati, gebukan drum Brooks mulai kedengeran.... magis. Ini band yang aku dengerin dari 2009, my childhood hero! Synyster yang bikin aku serius main gitar, yang bikin ngerokok Marlboro karena dia punya tattoo "Marlboro" di jari-jarinya. Band yang lagu pertamanya bikin orang tepuk tangan dan nyanyi bareng pas dibawain di panggung. GILA!


Agak nyesel karena beli tiketnya di CAT paling belakang, jadi cuma ngandelin big screen. Tapiii, semua lagunya sukses menghujam jantung, bikin suara ilang teriak-teriak dan sing a long bareng ribuan penonton. PECAH! Band yang ga pernah absen masuk playlist jaman masih main di warnet. Dan ga pernah absen ada di handphone jaman belum ada streaming music platform. Sampe ke poster-poster yang menutupi hampir seluruh tembok kamar. 


Dari dulu cuma bisa nontonin mereka live dari youtube, dengan modal speaker diputer kenceng atau pake headphone, itu aja udah berasa banget merindingnya kalo pas lagi khidmat-khidmatnya. Malem tadi akhirnya penantian itu tuntas. one of my childhood dreams came true!


Selalu dibuat terdiam denger petikan melodius Synyster. Riff-riff yang selama ini cuma bisa didengerin di Spotify, akhirnya bisa didengerin langsung depan mata! Lengkingan suara Shadows yang gila, rapinya rhythm Zacky, presisinya ketukan Brooks, funky-nya Johnny yang sekarang udah kalem banget. Sayang ga dapet foto Johnny sama Brooks. 

Konser dibuka dengan lagu dari album baru, "Game Over" dan "Mattel" yang tbh aku belum terlalu hafal. Habis ituuu, kuping dimanjain sampe mentok sama Afterlife, Hail to the King, Almost Easy,  The Stage, So Far Away sembari Shadows mengenang The Rev yang dua kali sempet manggung di Jakarta juga, dilanjut Seize the Day, bahkan Bat Country! sampe lagu lawas yang baru viral di tiktok, Gunslinger karena emang liriknya se-deep itu woi!


Sampe habis, selalu dimanjakan sama aksi panggung mereka yang udah gak muda lagi, tapi energinya nampol banget. Sempet agak selow pas mereka bawain Nobody, tapi langsung digempur habis lagi dengan Nightmare, Unholy Confession, dan surprisingly mereka bawain Save Me! Setelah itu penonton dibuat santai lagi dengan bawain Cosmic. DAAAAAN, dibuat nostalgia habis-habisan dengan lagu yang ditunggu-tunggu banget, Dear God! Konser ditutup dengan lantunan A Little Piece of Heaven. Lengkap sudah setlist mereka di Jakarta malam itu. Aku pulang dengan leher sakit karena ga berenti-berenti headbang, dan sampe sekarang masih berasa hahaha.

Terima kasih, konsernya tertib, menyenangkan, sukses! Salah satu mimpi masa kecil sudah terwujud, sekarang tinggal nonton Manchester United di Old Trafford! Hahaha.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...