Setelah selama ini, aku baru kembali merasakan nyaman seindah ini, mendengar semua tuturmu sekhidmat ini. Aku fikir ini tidak berlebihan, tapi mungkin aku memang jatuh sudah sangat dalam.
Waktu kala itu hanya dihabiskan beberapa jam, namun rasanya begitu menyenangkan. Seperti meneguk air pelepas dahaga setelah berjalan jauh ditengah gurun tanpa pernah tau dimana mata air nyata yang bukan fatamorgana.
Itu persinggahan yang lama aku inginkan, untuk sekedar rehat, atau menghabiskan waktu barang sejenak bersama orang yang ingin tinggalkan jejak, atau bahkan menetap. Kenapa di Bandung? aku juga tidak tau.
Namun yang bisa kuamini, di waktu yang sesingkat itu aku bisa menikmati banyak hal tentangmu. Sentuhan lembutmu, gerakan rahangmu saat kau mengajakku ketempat makan pertamaku denganmu, Perhatian kecilmu, membius membuat aku tak ingin beranjak. Sederhana, tapi melekat kuat. Seperti saat kau bantu aku makan dengan susah payah karna lesi mulutku. Tanganmu cekatan tanpa perlu aku minta.
Kamu begitu eloknya, sampai-sampai aku takut jatuh dari tempat kau terbangkanku setinggi satya loka, tak terbayang sakitnya akan seperti apa.
Sekarang aku mulai takut untuk terbang lebih tinggi, takut ternyata sayapku tak kuat, takut ternyata angin bertiup kencang mengaburkan tujuan, takut hujan badai datang lalu segera menghepaskanku kembali ke tanah dengan penuh kecewa.
Tapi kata ayah, hidup itu soal perjuangan. Tidak pernah semudah itu berdiri setelah kita terjatuh lalu kembali berdiri dengan tulang-tulang retak dan hancur disemua bagian. Masih beruntung kalau ingatan tidak hilang akibat benturan hebat pasca terhempas dari khayangan.
Tapi kamu tau? bagian terberat justru adalah disaat aku tidak mampu menggenggam sesuatu yang terasa nyaman. Ayahku tidak pernah mengajarkan bagaimana bangkit pasca hati yang rusak parah, hilang arah. Ia tidak pernah mengajarkan bagaimana cara menata kembali perasaan yang porak poranda.
Aku harus mulai bersiap, kalau-kalau angan itu hanya mampu dicapai pandang mata tanpa bisa dimiliki raga. Aku harus mampu menampung seluruh reruntuhan jika nanti inginku tak cukup kuat jadi pondasi harapan itu.
Aku hanya mendoakan semoga segala persiapan tadi tak perlu benar-benar aku lakukan, karena bagian melepaskanmu akan jadi soal tersulit yang tak pernah bisa kujawab. Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku menggantikan part berdoa bersama sebelum makan dengan berpegangan tangan? bagaimana mungkin aku menghapus memori kala suapanmu tak semua sampai, lalu aku harus jeli memungutnya kembali? Bagaimana bisa aku mengganti banyak hal kecil kecerobohanmu yang lucu itu? Atau keinginan-keinginan randommu yang menyenangkan itu?
Lalu, apa bisa aku menggantikan usapan lembutmu di kepalaku setiap kita berpapasan tanpa sengaja itu? Bagaimana mungkin aku melupakan kecupan kecilmu di kereta kala itu? atau bahkan kecurangan ayam-ayamanmu yang karenamu aku dipaksa kalah melulu? Bicara tentangmu bukan hanya soal kelebihan, tapi semua kekurangan yang aku rasa bisa aku terima dan maklumi, karena kata Ibu, cinta itu soal pemakluman dan penerimaan.
Segitu dulu ya? belum banyak yang bisa kutulis. Aku terlalu fokus menikmati setiap detik denganmu lewat tatap, suara dan sentuhan. Karena banyak kesempatan jantung berdegup cepat, bahkan berhenti sesaat karena sesuatu yang kau lakukan. Dinamis sekali, tubuh tak siap, sampai memoriku tak cukup kuat untuk mengingat ledakan endorfin yang cepat dan hebat seperti itu.
Banyak terima kasih, tapi harusnya sudah aku ucapkan berulang kali padamu. Terima kasih, ya!
Comments
Post a Comment