Kalau ada satu kata yang mewakili perasaan lebih dari kecewa, mungkin aku butuh itu. Aku tau sepertinya semuanya sudah diujung, aku harus bergerak mencari rumah lain, yang setidaknya punya rasa dan keinginan yang sama, supaya berjuangnya juga sama-sama, dengan cara yang sama.
Sudah berbelas-belas hari sejak aku terakhir merasakan rumah itu. Di matamu aku yang jadi penyebab goyahnya pondasimu. Padahal inginku tidak banyak. Aku sudah tidak lagi merasakan hangat yang diawal hadir sebelum seluruh perjalanan panjang yang melelahkan ini, tapi sepertinya makin hari makin dingin. Seolah kebutuhanku sudah tidak pernah jadi concern lagi.
Rumah ini bukan lagi rumah yang damai, yang ada hanya amarah, ego, kesalahpahaman, dan ketidaksesuaian. Apa yang kutuju nampaknya bukan hal sama yang akan kau tuju. Apa yang aku cari sepertinya bukan jadi prioritasmu, apa yang aku harapkan nampaknya justru jadi beban untuk kau hadirkan.
Aku yakin, meski kutulis dengan hati-hatipun, kau akan tetap marah membaca ini, tanpa mau tau perasaanku saat ini. Egomu tinggi sekali, sampai kau lupa aku juga punya hati yang bisa tersakiti. Tapi tak masalah, itu memang tabiatmu. Mungkin aku yang tidak pantas. Seberapapun aku coba tak buatmu marah, sepertinya setitik saja luput dapat membakar seluruh emosimu yang tidak pernah mau kau kendalikan.
Mungkin memang apa yang kucari tidak lagi jadi hal penting, apa yang kubutuhkan mungkin sudah tidak lagi jadi hal yang kau sediakan. Aku mengalah saja. Aku merasa tidak ada nilainya, apapun yang aku lakukan tidak pernah cukup memuaskan egomu. Apa yang coba aku berikan ternyata bukan jadi kebutuhanmu.
Aku lelah. Aku hanya ingin tempat pulang, tanpa makian, tanpa amarah. Aku hanya ingin tempat yang menyambutku untuk rehat yang nyaman. Tapi nampaknya hal itu sudah bukan jadi hal yang kau tawarkan. Penolakan terakhirmu memukulku keras, seolah menyadarkanku kalau apa yang kuprioritaskan memang bukan hal yang kau butuhkan. Aku lelah mengalah tiap ada yang salah, aku tidak mau lagi berdamai dengan amarah yang membuatku tidak bisa pulang. Aku butuh rumah, yang mau menerimaku meski salah, bukan melarangku masuk dan membiarkanku diluar tanpa arah.
Sebelumnya, aku sudah kehilangan rumahku. Aku pikir kamu bisa jadi rumah baru, ternyata mungkin harapanku terlalu tinggi untuk tidak menjadi beban bagimu. Jadi maaf, aku sudah tidak nyaman. Aku sudah tidak ingin apa yang aku butuhkan dianggap beban, aku sudah lelah dianggap sebagai masalah tiap aku butuh jamah.
Terima kasih ya, aku sudah bisa membayangkan amarah seperti apa yang akan kau ucapkan. Aku hanya ingin kamu tau, ini terlalu sering. Aku lelah. Aku butuh rumah yang mau menerima bukan hanya saat aku dirasa benar, tapi juga mau memeluk disaat aku salah. Aku lelah harus mencari tempat singgah tiap aku salah langkah, aku lelah aku harus tidur kedinginan tiap kau anggap salah. Padahal jelas kau tau aku tidak melakukan salah dengan sengaja, tapi penghakimanmu selalu kejam tanpa pernah menimbang aku bagian dari rumah, bukan hanya pelengkap disaat kau butuh hiburan saja. :)
Jadi, apa aku memang bagian dari rumah yang kita usahakan? atau hanya pelengkap seperti perabotan yang jika peyok lalu mudah tergantikan?

Comments
Post a Comment