Kalau ada satu kata yang mewakili perasaan lebih dari kecewa, mungkin aku butuh itu. Aku tau sepertinya semuanya sudah diujung, aku harus bergerak mencari rumah lain, yang setidaknya punya rasa dan keinginan yang sama, supaya berjuangnya juga sama-sama, dengan cara yang sama. Sudah berbelas-belas hari sejak aku terakhir merasakan rumah itu. Di matamu aku yang jadi penyebab goyahnya pondasimu. Padahal inginku tidak banyak. Aku sudah tidak lagi merasakan hangat yang diawal hadir sebelum seluruh perjalanan panjang yang melelahkan ini, tapi sepertinya makin hari makin dingin. Seolah kebutuhanku sudah tidak pernah jadi concern lagi. Rumah ini bukan lagi rumah yang damai, yang ada hanya amarah, ego, kesalahpahaman, dan ketidaksesuaian. Apa yang kutuju nampaknya bukan hal sama yang akan kau tuju. Apa yang aku cari sepertinya bukan jadi prioritasmu, apa yang aku harapkan nampaknya justru jadi beban untuk kau hadirkan. Aku yakin, meski kutulis dengan hati-hatipun, kau akan tetap marah memb...
an ordinary story writer.