Skip to main content

....

First of all, I'm really sorry for everything that i've done.

Aku gagal, maaf aku gagal. Aku gagal menjadi tempat ternyaman dan teraman untukmu, gagal ada disampingmu menyeka air matamu, justru aku membuatmu menangis. Aku gagal menjadi orang yang memelukkmu saat tanganmu bergetar hebat, gagal menjagamu, menjadi orang terdekat yang harusnya paling mengertimu.

Maaf, aku belum berhasil. Kini bisaku hanya berusaha tak mati jika kau melangkah pergi,
berusaha tetap 'hidup' meski hati tak lagi ada isi, perasaan sudah kosong lantaran seluruhnya kuberi dan kau bawa pergi. Aku tak akan membela diri, nyatanya aku salah telak tanpa bisa dielak.
Bisaku hanya memohon ampun, lalu berjanji untuk tak luput lagi, sembari berusaha mendidik diri untuk tak menjadi sebodoh itu lagi, itupun jika kesempatan masih kau beri.

Kau tau?

Memilikimu itu sebuah mimpi yang tinggi sekali, sebegitu tingginya sampai-sampai aku tak berani berandai.
Dicintai olehmu itu seperti happy ending yang terlalu indah, bahkan untuk menjadi akhir sebuah kisah di film romansa.
Ditatap sedekat itu olehmu jauh lebih mendebarkan dibanding olahraga ekstrim manapun.
Deburan ombak kesukaanku bahkan kalah menenangkannya dibanding pelukmu yang begitu hangat, tapi membuat jantung bergemuruh hebat mengalahkan badai tropis dari samudra pasifik.

I know what love is, it is because of you. You make me wanna be a better man, cause you are the best thing that’s ever been mine. everytime I look at you, all I see just the rest of my life in front of my eyes.

Tapi apa? Bocah ini justru menghancurkan diri sendiri, memporak porandakan jerih payahnya sendiri, menghanyutkan kebahagiaan yang baru saja terpantik, lalu padam begitu cepatnya karena kebodohannya sendiri.

Maaf jika aku belum sedewasa itu, maaf jika luputku masih banyak, aku harus berbenah, bahkan jika bukan untukmu, tapi harus untukku. Karena jika kehilanganmu, aku harus bisa bereinkarnasi agar hidup seperti biasa kembali. Jika tidak denganmu maka tidak dengan siapapun, jika tak menua bersamamu, maka biarlah aku sendiri, meratapi kebodohanku hingga akhir nanti. You know why? because loving you is the beginning and end of everything.

"If you live to be a hundred, I want to live to be a hundred minus one day, so I never have to live without you."

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...