Berdebar tanpa henti, layaknya berdiri di ujung tebing tinggi,
Sudah lama tak sebersemangat ini, rasanya kian enggan pergi,
Sudah hampir 3 minggu, kucoba langkah berani maju,
Jika ditanya sebab apa, jawabku semestalah yang tuntun cari rasa,
Bahkan aku hanya pejamkan mata, membiarkan hati menari kearah yang dia harapkan
Aku hanya mengamini setiap kata baik, yang hakikatnya adalah untukmu
Aku tak mampu ucap kata, sebab binar matamu membius, sentuhmu melemahkan.
Aku tak pandai mencari topik, tapi niscaya kupunya kompetensi jadi pendengar terbaik.
Pelukmu hangat, kadang hanya ingin dengar keluhmu, jadi tempatmu pulang saat malam telah pekat.
Ingin kutatap, genggam tanganmu saat kau merasa hari begitu penat.
Sulit memang, meski tidak tau dimana garis start, tapi sudah kubayangkan garis akhir, tanpa berfikir tumbang diperjalanan.
Jadi, kuanggap langkah ini adalah pendakian. Harus ada kaki yang melangkah dari bawah untuk sampai ke puncak.
Berat memang, tapi untuk berhenti ditengah jalan? sedikitpun tak pernah jadi opsi difikiran.
Pendakian ini masih panjang, terlihat mustahil memang, kuyakin akan terjal nan melelahkan, tapi kupercaya akan selalu temukan bahagia disela letih pendakian.
Meski nanti ternyata si Puncak mengecewakan, tapi aku simpan banyak keindahan yang menjadi saksi usaha pendakian.
Aku tau kita baru sebentar, tapi menganggumi telah lama kulakukan, tetap jadi yang terbaik, tetap jadi keindahan yang selalu aku usahakan dan semogakan.
Izinkan aku mendakimu, mencobai segala terjal menuju puncakmu,
Terima kasih sudah hadir, meski kesempatan baru sebentar, tapi kamu sudah melekat, jauh sebelum kita saling bertatap.
Comments
Post a Comment