Skip to main content

Belajar Banyak

Hubungan ini berat sekali, entah kenapa. Berat menjalaninya, berat memikirkannya, berat juga bobotnya. Bahagia? tentu saja. Sangat. Lancar? belum tentu. Banyak hal yang mendewasakan, banyak hal baru, banyak ekspektasi yang patah, tapi banyak momen-momen takjub yang unexpected. 

Disatu sisi terlihat egois jika aku bahagia sendiri, sedang kamu mengusahakan banyak hal dengan segala pengorbananmu. Tapi apakah aku diam? tentu saja tidak. Setiap hari, bahkan setiap saat, aku selalu mendewasa, belajar banyak hal yang mungkin dulu tak terfikirkan, atau mungkin belum tau cara menghadapinya. Berat? Tentu saja. Pedang tidak ditempa dengan usapan lembur, tapi dengan pukulan palu yang keras, lalu dipanaskan hingga merah mentereng. 


Hubungan ini begitu berat. Begitu beratnya sampai tak terfikirkan untuk menyudahi, karena akan banyak hal baru, tantangan baru, ujian dan cobaan baru. Aku harap kamu berfikir sama denganku. Ini proses panjang yang tak cukup satu dua bulan untuk mengerti. Aku perlu berusaha lebih keras, melawan ego sendiri, yang kadang tak terasa jadi menyusahkanmu. 


Aku pikir, aku pikir, aku pikir. Tapi ternyata tak semua yang aku pikir sesuai dengan apa yang kamu ingin dan butuhkan. Mungkin aku masih awam soal menjaga perasaan, meskipun aku tak pernah sengaja menyakiti, tapi nyatanya ketidaktahuanku akan banyak hal dapat menyulitkanmu. 


Hubungan ini banyak takjubnya, seperti kesabaranmu menghadapi ketidaktahuanku, sikap tenangmu ketika menjelaskan dengan lembut maksud hatimu, atau tentang bagaimana kamu menegurku saat aku salah hingga akhirnya aku mengerti perlahan-lahan.


Kamu memang tidak sempurna, aku tidak mengatakan aku tak memberikan pengertian. Tapi mungkin aku belum tau cara menyampaikannya, sedangkan kamu begitu hebat membuatku terpukau kalau sudah soal mendewasakan. Aku bahkan tak pernah setakut ini berbuat salah, bukan karena berpura-pura agar kamu bertahan, tapi justru takut salah karena aku tau kamu begitu menyayangiku. Merubah diri menjadi lebih baik ternyata tak hanya menguntungkan diri sendiri, tapi juga bagi orang yang menyayangiku. 


Selama ini aku dipaksa untuk memikirkan diri sendiri karena aku merasa tak ada orang yang mau peduli sebegitunya. Sampai akhirnya kamu datang, merubah segala mindset dan memporak porandakan ego yang selama ini aku yakini. Aku hidup bukan untuk diri sendiri, ada orang lain yang peduli, ada orang lain yang harus aku mengerti, dan itu kamu. 


Tak pernah lelah aku mengucap terima kasih, karena kamu sudah begitu hebat mengerti dengan segala daya upayamu agar aku mendewasa dengan baik, tentu saja itu juga untukmu, untuk kita juga. Tak luput maafku layangkan, jika dalam memahamimu aku lelet, aku tak cekatan menangkap sinyalmu, aku masih harus banyak mengerti arti mencintai, memiliki tanpa menyakiti. 


Selalu ada keributan kecil karena ketidaktahuanku, dan mungkin kesalahpahamanmu memahami tingkahku, tapi aku selalu berbenah, kok. Aku sadar kamu mencintaiku, maka tugasku adalah menjaga itu, merawat agar rasa itu tetap sama dan tak pudar meski banyak rintangan kedepan. Terima kasih ya sudah mau membantuku dengan begitu hebat. Kalau bukan denganmu, mungkin aku tak akan mengerti. Kalau bukan karena mencintaimu, mungkin aku akan tetap menjadi manusia “egois” yang tak tau cara menyayangi dengan baik. 


Boleh ya, aku usahakan lagi? Salahku banyak, tapi harus kau tau itu tanpa intensi menyakiti, apalagi menyelipkan unsur kesengajaan, aku memang masih perlu belajar menyayangimu dengan hebat. Mirip seperti pedang, keributan-keributan itu aku anggap tempaan darimu agar aku dapat mencintaimu dengan lebih hebat, agar sama sepertimu. Agar rasanya setara, bahagianya bertambah, cintanya tumbuh dan mendewasa. Karena aku tak ingin berakhir denganmu, aku ingin selalu menjadi penyebab senyum dan tawamu. Aku ingin selalu menjadi tempat ternyamanmu untuk bercerita. Aku ingin selalu membantumu mencapai apapun yang kamu inginkan, asal kita sama-sama. 


Berbahagialah bersamaku. Kita usahakan sekuatnya, aku tidak akan mengecewakanmu, apalagi sampai berniat menyakiti hati baikmu, tidak pernah. Aku ingin menjadi sebab kamu tersenyum, dan menjadi akibat kamu bahagia. 


Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...