Skip to main content

Anak kecil itu

Melebur rasa menjadi kata memang tidak mudah, apalagi sampai punya makna. 

Sedari kecil memang ia gemar merangkai frasa entah untuk apa, kadang berima, kadang sesukanya saja tak beraturan. Arti sebenarnya hanya ada di pikiran, tapi tak pernah bisa ia tuliskan dengan jelas.

Anak ini tumbuh menjadi laki-laki periang yang menyimpan banyak luka, kadang bisa diliat mata, namun kerap kali ia tutup rapat, dituangkan menjadi kalimat menyayat, mengganti luka di raga menjadi sajak semaunya.

Sering tak jelas, bahkan tulisannya kadang tak punya arah. Tapi itulah bentuk ekspresi kekecewaannya pada semesta, sengaja dibuat sukar ditelaah agar hanya ia dan Tuhannya yang tau apa yang tengah terjadi saat itu.

Usianya baru 10, kalau aku tak salah ingat saat itu. Tapi ia sudah gemar merenung, memegangi pulpen untuk mencoretkan banyak tinta di buku tulisnya. 

Sampai suatu hari Ibunya membaca coretan-coretan itu. Jelas saat itu ia tak mengerti arti kernyitan dahi sang ibu kala itu. Ia tak paham hela nafas dalam dan panjang beliau tak terbaca oleh bocah itu. 

Hingga kini, anak kecil itu sudah jarang menulis lagi. Ia lebih memilih mengobrol dengan diri sendiri setiap melewati jalanan dengan motor putih kesayangannya. Atau kadang, kalau dunia terasa begitu sunyi, ia bergumam dengan tembok kamarnya, hanya untuk sekedar melepas rasa sudah melewati hari-hari berat.

Untungnya bocah ini pelupa, ia bahkan tak mampu mengingat sakit yang sudah dirasa. Ia tak tau luka itu telah sembuh atau justru hanya tertutup kain kasa saja. Yang ia tau hanya berusaha terpejam dengan baik untuk segera tuntaskan harinya. 

Wajahnya terlihat berubah karena semakin sering menerima luka, bocah ini tak sadar raut wajahnya berubah. Senyum hangatnya berubah tipis, mata besarnya berubah sipit, hingga jika dipaksa tersenyum matanya akan segera bersembunyi tak terlihat. Wajahnya yang dulu berbinar kini berubah sayu, eskpresinya menjadi datar, dingin. 

Laki-laki kecil itu kini sudah dewasa, sudah semakin mengerti bagaimana cara mengatasi kesepian dan kekosongan. Meskipun, tak jarang ia hanya berdiam menghisap rokoknya dengan tatapan kosong, sendirian.

Tumbuh semakin dewasa memberinya cara untuk bahagia, Oh, salah. Semakin hari ia makin mengerti cara membuat orang lain tertawa. Baginya, mendengar cerita manusia lain menjadi obat mujarab. Membuat orang lain menghela nafas panjang lega menjadi tanda keberhasilannya menjadi tempat untuk bercerita. 

Tapi apa dia bahagia?

Bocah itu bahkan lupa, bahagia itu bukan hanya sekedar melihat orang lain tersenyum. Bahkan cara tersenyum saja ia tak tau. Ia paham cara bagaimana memeluk orang lain, tapi apa ia tau rasanya dipeluk? Mimpi anak itu setinggi langit, ambisinya sebesar tata surya. Tapi apa ia sadar, jika usahanya kadang hanya berbuah kesia-siaan? bahkan berujung tangisan dan meninggalkan luka yang sulit sembuh.

Anak itu tumbuh menjadi remaja yang cukup disukai lingkungannya. Ia berhasil menutupi gelap hidupnya dengan laku hangat kepada siapa saja yang membutuhkannya. Ia hampir tak punya musuh, karena pada akhirnya sang pembenci akan luluh jika sudah mengobrol dengannya. Mungkin itu anugerah sang kuasa, merubahnya menjadi pribadi yang terasa nyaman dan damai bagi orang lain.

Masuki usia menuju dewasa, ia makin jadi pribadi pendiam namun tak sukar bergaul, tapi dalam kesendiriannya bahkan ia tak tau harus berbuat apa dengan dirinya. Ia hanya fokus mengejar mimpi jangka pendeknya. Karena tak punya pegangan untuk mengejar mimpi panjangnya. Ia memang berhasil, mimpinya tercapai, meski harus berdarah-darah dan kedinginan tertiup angin sepi.

Kini bocah itu sudah dewasa, namun jiwa kecilnya masih mengikuti, seakan ada yang belum tuntas. Padahal hidup menjadi dewasa saja sudah berat, tapi ia harus berkutat dan memeluk jiwa kecilnya dengan erat. Haus akan sentuhan, perhatian, dan kesempatan.

Kuat-kuat ya, bocah! Banyak orang membutuhkan kehangatanmu, banyak orang ingin melihat senyum yang kau paksakan itu, masih ada orang yang membutuhkan peluk hangatmu. Tidak ada yang menjamin kau akan jadi apa, tapi setidaknya kau punya kendali penuh untuk menjadi manusia baik hari ini.

Tetap berbaik hati, simpan semua duka dan luka itu sendiri, jangan sulitkan orang lain, pada akhirnya hidup akan memaksamu mencari bahagia sendiri. Jadilah versi terbaik yang bisa kau usahakan, berhenti mengeluh pada insan lain, jangan buat orang lain terbebani masalah hidupmu. Tutup buku itu, jika kau merasa ceritanya begitu pahit dan menyakitkan. Ambil buku lain, mana tau ceritanya lebih menyenangkan. 

Baik-baik ya. Dunia selalu akan menempamu menjadi tajam dengan palu yang akan semakin besar. Pasti akan semakin sakit, tapi yakinlah, kelak kau akan dengan mudah menebas pohon besar yang tumbang menutupi jalanmu menuju kebahagiaan.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...