Skip to main content

Senyummu

Kopi pagi ini tak sepahit biasanya

Udara pagi ini tak sedingin pagi kemarin

Tidur malam tadi lebih nyenyak dari hari yang lalu

Badan ini lebih sigap daripada hari kemarin

Jiwa ini sangat bersemangat, siap dengan entah apa yang kan dilewati hari ini.

Tiap tegukan caffeine begitu nikmat terasa

Kudapan pagi ini begitu khidmat disantap

Waktu pun berlalu dengan perlahan,  ia tak tega melewatkan momen pagi ini dengan cepat, ia tau saat seperti ini jarang didapat


Nona manis..

Begitu biasa ingin kusapa. Mencoba dapati senyum dari bibir mungilnya untuk sekedar melengkapi pagi syahdu hari ini

Sapaan menyejukkan, tatapan tajamnya, mengobarkan semangat pagi dalam jiwa.

Oh sungguh indah bidadari ini.

Tiap derap langkahnya tak pernah luput dari pandang mata, tawanya satupun tak ada yang terlewat

Entah mengapa, raut wajahnya selalu punya cerita dibalik kisah hariku

Baru saja sekejap menatap, hati seketika berbunga-bunga

Indah, seperti pelangi yang tercipta tanpa melewatkan deras hujan

Menyejukkan terik matahari yang menyengat

Ini bukan tentang siapa kau sebelumnya, bukan tentang bagaimana kau bisa menetap di benakku waktu itu, ini tentang bagaimana senyummu tercipta indah, lalu kemudian membayangi ditiap gerak

Ini tentang apa yang selalu disuguhkan oleh keindahan senyum yang selalu kau ciptakan.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...