Skip to main content

Pagi Buta

Hai..

Mungkin dulu kau pernah melihatku, meski tak lama

Mungkin dulu kau pernah menyapaku hangat, meski kini tlah dingin

Dahulu mungkin kau pernah merindu, mungkin kini tak ada rasa

Mungkin dulu kau pernah tersenyum olehku, tapi kini tidak lagi

Bukan karna aku tak ingin membuatmu bahagia lagi

Bukan karna aku tak mampu lagi mengusahakan senyummu

Bukan pula karna aku yang telah bosan bersamamu

Tapi karna apa yang kau pilih tuk merobohkan segalanya.


Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi, mungkin aku yang masih belum bisa membahagiakanmu dengan sempurna.

Aku tidak pula membencimu, karna aku tau dulu kau tak pernah membenciku

Aku tidak jua menghakimimu karna kau begitu saja pergi tanpa berpamitan dengan layak.

Aku hanya menyayangkan kenapa sikapmu begitu menyakitkan diujung akhir kisah yang selalu aku perjuangkan.


Berat hati untuk pergi, bukan berarti aku bisa memaksamu untuk tetap tinggal disini bersamaku.

Luka yang tergores juga tak lantas membuatku marah, aku hanya kecewa.

Tapi apa pula lantas aku membencimu atas apa yang telah kau perbuat?


Tidak.


Tujuanku menemuimu dari awal hanya untukmu bahagia.

Sejak awal aku melihatmu aku tak pernah membayangkan tangismu.

Sedari mata memandang senyummu dan bola mata besarmu, hanya ketenangan yang terlintas dalam benak.

Jangankan untuk berpisah, untuk tidak sanggup melihatmu saja aku takut untuk membayangkan.

Semua begitu cepat rasanya terlewat.


Kini aku hanya ingin segera menghapus luka. Bukan karna aku ingin melupakanmu.

Tapi aku tidak pula ingin mengingatmu sebagai orang yang sudah seperih itu menyakitiku.

Aku hanya ingin sekedar menyapamu dalam doa, karna sekarang memandangmu saja rasanya tidak mungkin.

Rasa sakit ini tidak mudah hilang, tak sepertimu yang tega meninggalkan, lalu segera melupakan dengan mudah.

Memang seperti itu, akan sangat mudah melupakan setelah menyakiti, tanpa ada bekas luka dalam hati.


Semakin hari, aku mulai makin terbiasa dengan kekosongan ini. Aku tak berharap ada hati lain yang akan mengisi.

Semakin hari aku makin sadar apa yang kurang dariku untuk membahagiakanmu, untuk melukis senyum di bibir kecilmu.

Semakin jauh kau meninggalkanku, semakin besar pula diri ini berbenah meski ku tak tau lagi untuk apa.


Karna cinta itu bukan perkara mudah.

Ini tidak sesepele membuang ampas sisa kopi dalam gelas yang sedari malam tadi entah sudah gelas keberapa.

Tidak semudah mematikan puntung rokok yang tak tau lagi sudah batang keberapa.

Tapi ini tentang membiasakan hati tuk tidak lagi bersamamu, hati yang sedari dulu kuusahakan untukmu.


Tapi tak apa, mungkin luka hanya sebatas cerita.

Rindu hanya sebatas kenangan, kisah hanya sebatas duka yang menyayat dalam nestapa, yang mungkin juga akan sembuh dengan sendirinya.

Aku tak pernah ingin menyalahkanmu atas kesakitan ini. Aku hanya menyesal kenapa aku tak lebih bisa menyayangimu.

Semalaman ini, rindu begitu memuncak. Hati begitu gusar tanpa arah. Perasaanku mulai perih tak beralasan.

Aku tak mengerti.

Semalaman ini, entah sudah berapa lagu berusaha kumainkan dalam tangis yang tertutup oleh tawa semu bersama gitar kesayanganku yang kau berikan sebagai kenangan terakhirmu.

Tiap gesekan jariku, tiap melodi yang terdengar, tiap tekanan dalam fret gitar, selalu ada perasaan rindu yang teramat sangat.


Aku mungkin bodoh, hatiku mungkin sudah mati untuk mencintai hati lain selain dirimu yang dulu. Aku tak mengerti mengapa aku sekeras ini.

Hari ini adalah hari terakhir aku menyimpan foto kenangan kita dulu, berhari-hari, tiap malam, aku selalu memandangi kenangan kita tanpa sebab.

Satu persatu foto dalam cerita kuhapuskan satu demi satu. Dan kini hanya tersisa satu. Hanya satu senyummu, yang dengan sangat berat hati harus ku enyahkan. Agar tak bisa lagi aku melihat tawamu, yang dulu selalu aku rindukan.

Rencananya aku akan menguburnya dalam-dalam. Kemudian menyiramnya dengan tangis, berharap kenangan itu akan tumbuh, mekar, cantik, nan lebat.

Agar kemudian orang tau, betapa besar hati ini menanamkan cinta dan merawat rasa dalam duka yang kau tinggalkan bersama luka.


Aku mungkin saat ini sedang merindumu dengan sangat hebat. Mungkin sekarang aku sedang membayangkanmu dalam benak dengan pekat. Mungkin hari ini hati begitu ingin memelukmu erat. Tapi aku hanya dapat memandang langit dikedinginan pagi buta ini. Berharap ragamu tak kedinginan karna udara pagi tak pernah bersahabat dengan hangat.

Selamat pagi, kenangan hebat yang pernah membuatku berdiri kuat dengan kaki sendiri. Cerita manis yang dulu selalu membumbui kisah pahit dalam hidup. Selimut terhangat yang dulu melindungiku dari dinginnya dunia.


Aku, yang tak pernah ingin berhenti menyayangimu dengan khidmat.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...