Skip to main content

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu.

Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa.

Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol.

Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tentang luka yang belum kering. Gue dengerin. Gue coba kasih pendapat sebisa gue. Lalu, entah kenapa, cerita kita tuh kayak nyambung. Mirip, tapi posisinya kebalik.

Setelah itu, frekuensi ketemu makin sering. Kadang bareng sama temen kita yang lain, tapi dibeberapa kesempatan terakhir, cuma berdua. Nonton, nongkrong, sekadar jalan. Dan semua itu terjadi dalam waktu yang cepet banget. Kayaknya belum dua bulan, tapi rasanya udah sedeket itu. Gue mulai ngerasa, kayaknya gue suka. Dan kayaknya, perasaan itu makin sulit gue sembunyiin. Entah dia sadar atau enggak, tapi harusnya sih kebaca. Masalahnya, ini pertama kalinya gue suka sama temen sendiri.  Jadi, takutnya tuh bukan cuma soal ditolak, tapi kehilangan. Kehilangan orang yang belakangan ini paling sering ada buat gue.

Jujur, di titik ini hidup gue lagi gak stabil-stabil amat. Gue gak yakin bisa jadi provider yang baik buat siapa pun. Gue lagi banyak mikirin prioritas hidup, tanggung jawab, hal-hal besar yang belum kelar. Tapi dia justru hadir di momen paling rawan ini. Memang bukan buat menyembuhkan, tapi cukup buat bikin hari gue lebih bisa dijalani. Di saat gue lagi capek banget dan bingung “pulang ke siapa?”, dia tuh ada. 

Karena dia, gue bisa ketawa, bisa senyum, bisa happy ngeliat dia happy, bukan cuma berkutat sama isi kepala sendiri.

Makanya, ketika perasaan ini mulai tumbuh, ketakutan pun ikut tumbuh. Gimana kalau dia gak punya rasa yang sama? Gimana kalau setelah gue confess, semuanya jadi canggung? Gimana kalau gue harus kehilangan salah satu orang yang bisa bikin hari-hari gue terasa nggak sepi-sepi amat? Gue lebih takut kehilangan dia as a person, daripada ditolak cintanya. Tapi gue juga gak bisa bohong: setiap kali bareng dia, semuanya terasa “klik”.

Beberapa waktu lalu, ada hal kecil yang bikin hati gue hangat banget. Pas kami lagi nongkrong berdua, terus nggak sengaja ketemu temen gue dan pacarnya. Akhirnya ngobrol bareng. Dan dia... beneran bisa banget bawa diri. Gak canggung, gak kikuk, justru malah seru. Tapi saat itu, gue pikir, ah itu cuma karena situasi ketemu dadakan aja.

Tapi semalem lebih gila lagi. Kita emang janjian mau jalan berdua, tapi di tengah jalan, temen-temen gua ngabarin kalo lagi ada di daerah yang sama. Akhirnya gua bilang ke dia, 

“Ini temen aku lagi pada ngumpul. Jarang-jarang sekarang kami ngumpul gini, kamu keberatan ga kalo kita gabung aja?” 

Dan dia jawab, 

“Gapapa banget, aku ikut kamu aja. Aku happy aja kok.”

Deg. Disitu dia menjawab semua hal yang gua pikirkan kalo kita berdua join temen-temen gua, gua takut dia bete, mati gaya, canggung atau gak betah. Tapi justru dia berhasil meyakinkan gua kalo dia akan baik-baik aja. Reaksi dia lebih dari yang gue harapkan. Ternyata... dia nyatu banget. Kita nongkrong sampe jam setengah 3 pagi dan dia nggak keliatan capek atau jenuh sama sekali. Buat gue, itu big deal. Dia berhasil masuk, dengan cara yang natural dan effortless, bahkan kita belum ada status apapun lho, cuma temenan aja.

Di momen itu, gue ngerasa kayak... semesta mendukung. Kok bisa semudah ini dia masuk ke hidup gue? Kok bisa segampang itu nyambungnya? Gimana nggak kepatil coba? Tapi ya balik lagi, kita ‘cuma temen’. Gue nggak bisa berekspektasi lebih.

Gue tahu, mungkin di kepalanya kita cuma temen. Gue juga gak mau overthinking, apalagi naruh harapan berlebih. Tapi gue juga gak bisa pura-pura gak ngerasa apa-apa. Temen-temen gue pun udah notice, mereka udah ngerti dari cara gue ngeliat dia, dari cara gue bawa dia nongkrong, dari gimana gue bersikap. Tapi sekarang gue bingung, harus gimana. Haruskah gue pura-pura biasa aja? Karena gue takut ini cuma gue yang ngerasa, dia engga.

Tapi setidaknya, sekarang gue udah ngelakuin apa yang bisa gue lakuin. Berusaha maksimal, se-maksimal yang gue mampu di situasi sekarang. Apapun nanti hasilnya, yang penting gue gak kehilangan dia. Untuk sekarang, gue akan liat dari jauh, mencoba bikin dia nyaman, bikin dia tertarik, pelan-pelan. 

Fun fact, gua nemu satu lagu yang pas ngegambarin banget rasa gue ke dia: “I Like Me Better” by Lauv. Karena ya, bareng dia gue ngerasa lebih baik, gue ngerasa lebih happy, lebih ringan, dan lebih hidup.

Jadi ya... sekarang, gue cuma pengen bilang ke semesta:

Semoga yang bisa didoakan, dikabulkan.

Yang bisa diusahakan, temui jalannya.

Dan meskipun nanti akhirnya gue harus patah hati lagi, gue rasa... kali ini worth it. Gue akan mencoba belajar mengikhlaskan segala hal yang emang nggak bisa gue kontrol.

xoxo.

Comments

Popular posts from this blog

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...