Sejenak rasa itu datang memeluk mesra,
Sekejap senyum itu menyapa hati rasa,
Sebentar hati bahagia bersama,
Namun secepat itu cinta meninggalkan luka.
Setetes air yang terteguk takkan mampu melipur dahaga,
Sejumput senyum yang tersungging takkan bisa menyembuhkan duka,
Namun sebentar wajahmu menyapa, mampu mengindahkan semuanya.
Tawa itu tak lagi ada, bahagia itu tak lagi tercipta, hati ini tak kunjung berhenti merana,
Cinta tlah sirna, bersama habisnya kopi pahit yang kuteguk malam ini.
Februari ini, dibulan yang kata orang penuh cinta, tak berlaku bagi hati yang termenung sendiri mencoba mengikis luka yang kau tinggalkan.
Sekelumit manusia berusaha datang tuk temani luka, selusin mata hadir tuk melahirkan tawa, tapi senyum ini masih enggan nampak, ia masih tertawan luka yang begitu hebat mengukir luka..
Ombak pantai sore begitu tenang menyapa, sedikit melegakan hati yang begitu sempit tuk menerima.
Ketika ia tlah hancur lebur oleh cinta tanpa bisa berbuat apa apa.
Angin sore pantai ini begitu sejuk menemani jiwa yang panas oleh duka yang begitu menyiksa batin. Mencoba memeluk dengan mesra tuk memunculkan kebahagiaan.
Andai kau tau, jiwa yang terduduk dipinggiran pantai ini ingin berjumpa, membagi kisah yang dulu belum usai, ingin kembali menyapa dengan senyum penuh cinta. Tapi apa daya, kala kau tlah jauh entah kemana, cinta ini masih enggan singgah dihati lainnya.
Ia masih ingin menunggu, sampai suatu saat kau kan kembali memelukku erat, tepati janji yang dulu kau ucap. Aku hanya ingin bercerita, saat ini, detik ini aku hanya ingin melihatmu tertawa didepan mataku. Ingin berjumpa untuk menghapus rindu yang tlah lama menyiksa.
Semoga kau mengerti, mendengarkan, melihat, merasa, lalu kembali.
Kembali ke hati yang selalu setia menemani.

Comments
Post a Comment