Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.
aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.
tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.
begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.
tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.
setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal untuk sebuah kekosongan.
katanya, selalu ada arti dari sebuah perpisahan, dan aku tidak menapikkan hal itu. tentu aku belajar, berbenah, lalu mencoba perbaiki. walaupun entah untuk siapa saat ini.
semoga lekas tercipta tenang yang diimpikan itu tanpaku. semoga segala hal yang luput dariku segera dijumpai. segala upaya dan usaha yang ternilai itu segera ditemukan. agar semuanya layak untuk dihargai.

Comments
Post a Comment