Skip to main content

Selamat Malam

Selamat malam kenangan.

Hanya bermaksud menyapa dalam gelap yang semakin penuh duka.

Aku hanya ingin bercerita tentang bagaimana cara hati ini terbebas dari perangkap nestapa.

Di malam yang selarut ini, disaat mata enggan terpejam tertahan rindu yang menikam, aku masih disini menunggu cinta yang tak kunjung kembali dalam pelukan.

Rasanya rokok ini pun tak perlu lagi kuhisap, karna kepulan kenangan manis yang dulu terkisah begitu pekat menikam kesendirian.

Rasanya dinginnya malam pun tak cukup untuk meredakan api rindu yang begitu hebat berkobar dalam jiwa yang penuh kekalutan.


Rindu ini bagai candu, menghujam kuat dalam pilu, mengerang hebat menebar bius senyum di bibir tipis penuh palsu.

Kadang rindu hanya perlu tempat untuk ia mengisahkan luka, walau perih tak kunjung tertangani, meski hati yang tak kunjung dapati dirinya kembali, tapi raga ini masih mampu berdiri, menunggu dia datang menghibur lagi.

Sampai nanti, saat hati mulai usang berdebukan pilu, saat cinta tak mampu lagi memberi warna dalam cerita, disaat senyum tak mampu lagi memberikan ketenangan palsu dalam kerinduan, disaat tawa mulai sayup-sayup tak terdengar menutupi rasa yang begitu gusar di sekap cinta yang tak terbalaskan.


Selamat malam kenangan yang tak bisa kusebutkan, kisahmu akan terus bersemayam, menemani cinta yang begitu dalam. Menguatkan hati untuk tetap bersabar menunggumu yang kuharap kembali datang.

Mampirlah, karna cinta yang telah kuberikan takkan pernah jatuh kepada hati lainnya. Tengoklah walau sekejap, karna senyummu mengisahkan segala upayaku untuk membuatnya terlukis indah di wajah ayu nan menggemaskan. Liriklah sebentar, karna rindu ini begitu dahsyat menggetarkan ketenangan.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...