Skip to main content

Hujan Sore Ini

Hujan sore ini membawa tanya. Disaat hati gundah, rintik air makin mempertegas kesendirian tanpa ada tegur sapa.

Hujan sore ini membawa cerita. Kisah lama yang sukar tuk dilupakan, namun selalu menyesak tiap dibenakkan. Selalu meraung bak singa lapar yang gusar mencari perburuan.

Hujan sore ini membawa rindu. Lelah rasanya menahan getar hati yang begitu ngilu tiap aku mengingatmu. Seperti obor yang menyala sendirian di gelap malam. Hanya bisa menghangatkan diri sendiri di tengah dinginnya hati yang kau bekukan ini.

Angin menerpa lirih, meyakinkan diri bahwa aku benar-benar sendiri tanpa ada yang peduli 'tuk sekedar menemani.

Gemuruh petir menyambar kesana kemari tanpa arah yang pasti, mirip dengan hati yang gusar tanpa ada tempat 'tuk mengobati.

Aku harusnya sudah biasa disituasi seperti ini. Disaat sepi begini, disaat hujan deras yang berbaik hati menemani jiwa ini menangis dengan lirih namun menyayati luka sanubari.

Aku ingin berkisah pada Tuhan, bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Kuusahakan menenangkan diri ditengah kekalutan yang begitu mencekam, ditengah riuh ramai orang tapi aku sellau merasa sendirian.

Aku ingin berkisah kepada jutaan malaikat yang mungkin sekarang melihatku terkapar sendirian. Aku butuh sandaran. Untuk sekedar mengusap keringat yang deras mengucur mengiringi kerja kerasku tuk bertahan di dunia yang makin sulit kudapati bahagia.

Aku ingin bertutur pada kalian bukan untuk dikasihani, tapi untuk sekedar mengisi kekosongan hati ditengah peliknya masalah rohani. Ingin sekedar melarikan diri dari cinta yang tak pernah bisa dimengerti.

Hujan sore ini membawa ketenangan, kesejukan ditengah dinginnya kesendirian.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...