Skip to main content

Hari Pertama Rantau!

Hari pertama kos, sekarang udah jam setengah 5 sore. Dan masih aja kangen rumah. Yang biasanya jam segini lagi tidur tiduran dikasur. Yang biasanya jam segini ortu baru pada pulang, ngeliat mereka masuk dari pintu, bahagia banget. Ngeliat mereka senyum padahal seharian di kantor itu Surga banget. Sekarang, jam segini di kos, malah nulis keresahan, kegundahan, kesedihan anak kos. Iya, di kostan. Sendirian.

Hari pertama kos mana punya temen. Paling gue sibuk sama handphone, chat chat temen gue buat ngilangin sepi. Biar kek ngerasa ada temen ngobrol aja gitu. Karna kalo telfon orang tua suka ga kuat. Tiba tiba air mata ngalir aja. Baru tau sesedih ini hidup sendiri, seberat ini hidup gak deket sama orang tua. Apa – apa sendiri gak ada yang ngingetin.

Gue tipe orang yang memang gak nurut – nurut amat. Tapi gue bukan tipe orang yang suka sebebas ini. Gue lebih seneng diatur atau disuruh – suruh sama ortu ketimbang gak ada yang ngurusin gini. Meskipun gak semua yang diatur ortu gue lakuin, tapi gue lebih seneng ada orang yang ngatur gue. At least, mau gue ngapain aja itu ada batesannya. Setiap langkah yang gue ambil juga untuk satu tujuan,

Biar ortu seneng, dan gue ga dimarahin.

Sekarang, mau gue ngapain aja, mau pulang jam berapapun, mau tidur jam berapapun, mau gak mandi berapa haripun, gak ada yang ngelarang, gak ada yang nyuruh gue lakuin sesuatu. Hidup berasa tanpa tujuan. Tiap abis pergi, mau pulang kemana bingung. Ya iya, mau ke kost mau nemuin siapa? Mau pulang ke kost mau denger siapa? Pulang ke kost mau ngobrol sama siapa? Keluarga jauh. Gak ada sesuatu yang mengharuskan gue pulang ke kostsan.

Gue curhat ke beberapa temen tentang kesedihan dan kegalauan gue struggle jadi anak kost baru. Tentang gimana usaha mereka buat bertahan jauh dari keluarga, gimana cara mereka ngatasin homesick. Mereka ngingetin gue niat dan tujuan awal gue buat pergi jauh dari rumah buat tinggal sendiri dikost..

“lo kesini bukan buat cari bebas, lo kesini bukan buat ngerasain sedih, lo kesini bukan buat jauh dari orang tua. Lo kesini buat ambil sesuatu yang nantinya bakal bisa lo bawa pulang kerumah dan kasih ke orang tua lo. Lo pergi jauh gini buat jadi orang yang bisa berdiri di kaki sendiri dan gantian buat ngerawat orang tua lo. Lo kesini gak main, lo berjuang buat sesuatu yang besar yang nantinya bakal bisa bikin elo bahagian orang tua lo. Yang namanya berjuang ga ada yang enak. Hidup itu dasarnya berjuang, tapi pejuang yang bijak selalu menikmati proses perjuangannya menuju puncak tertinggi hidupnya. Jadi kalo lo ngeluh terus, tebing gak akan ngebiarin lo sampe ke puncak. Jangan cengeng”.

Insya allah, tiap hari gue bakal update. Walaupun mungkin gak dihari yang tepat saaat gue ceritain. At least, gue Cuma pengen share pengalaman gue hidup sendiri jauh dari orang tua. Yang mungkin banyak dari lo yang ngerasain biar sama sama bisa struggle jalanin hidup. Belajar nikmatin segala bentuk proses perjuangan. Karna hidup gak akan selamanya bakal baik sama elo.

Dan tentunya tergantung internet kostan gue, bisa bersahabat ga sama tulisan gue.

See you guys.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...