Skip to main content

Hari Ketiga Rantau!

Seperti biasa, pagi dibuka dengan dering telfon dari ibu. Membangunkan dengan penuh kasih, sampai tak sadar basah di pipi. Tapi aku sadar, ini hari ketiga. Dan sudah tiga hari pula aku terkurung kesedihan. Rasa kesendirian masih melekat kuat. Lalu mau sampai kapan hati ini terus bergejolak tanpa arah? Kumpulan semangat kukerahkan, kumparan tekad mulai kembali ku bulatkan. Dengan niat bakti, aku tak boleh terus merengek cengeng seperti bocah kecil. Aku harus bisa bangkit berdiri di kaki sendiri. Jadi orang hebat, yang nanti dapat membanggakan.

Tidurku tak pulas seperti kemarin, padahal ragaku lelah menyemangati hati yang lemah. Aku masih belum temukan tawa seperti saat dirumah. Aku belum dapat tersenyum lebar. Aku belum bisa mengangkat telfon ibu dengan ceria.

Aku berusaha menguatkan diri dengan mendekat pada yang Maha Kuasa. Berkeluh kesah denganNya, mengharap Dia menguatkan dan melindungiku. Lepas itu mulai kuhisap sebatang asap, berharap hati lebih tenang tuk bisa melanjutkan hari diperantauan.

Hari ketiga terasa lebih berbeda. Mulai banyak orang mengelilingi. Kegabutan berkurang. Mulai nongkrong di warmindo deket kampus, ikut nimbrung sama temen kampus yang kebetulan sore ini asli jogja semua. Kebayang anak Tegal gabung sama orang Jogja asli piye jal? Yo rak ngerti bahasane.

Aku wis mung manthuk manthuk tok. Paham dikit dikit. aku meh jawabin takut salah, akhire pake bahasa indonesia yo jarang ngomong. Akeh ngrungoke timbang nimpali omongan. Tapi ya setidaknya sore ku tidak sesepi hari hari sebelumnya yang hanya duduk bersandar memandangi langit langit atap kost. Harapannya sih, besok besok lebih banyak temen, jadi gak sepi kek hari hari kemaren. Karna di kostku udah sepi, pada sibuk sendiri sendiri.

Btw, sekarang udh jam 5 lebih, siap siap mandi sambil nunggu adzan maghrib buat sholat berjamaah di masjid. Alhamdulillah, hikmah kesendirian ini berbuah lebih dekat dengan yang Maha Kuasa. Semoga tetap istiqomah, minta doanya ya gaes. Segini dulu ah, besok mau bangun pagi. TM mulai jam 06.00 WIB BANGEEET. Jadi nanti malem usahain tidur cepet.

See you gaes...

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...