Skip to main content

Hari Keempat Rantau!

Tujuan gue nulis semua keresahan keresahan beberapa hari ini jadi anak kost baru itu bukan cuma untuk nunjukkin kesedihan atau kekalutan gue doang. Dibalik semua cerita cerita cengeng gue, gue cuma mau ngingetin ke kalian bahwa seberapa penting waktu yang kita punya bareng keluarga, orang tua, saudara. Sepenting itu sampai saat kalian jauh, kalian ngerasa kehilangan banget.

Makanya, mumpung mungkin masih ada yang tinggal tiap hari satu atap sama ortu, tiap pagi bisa berangkat pamit sama ortu, pulang kerumah ada ortu yang nyambut, atau sebaliknya kalian yang nyambut ortu, itu dimanfaatin bener - bener. Jangan sampe ketika kalian udah jauh, kalian baru nyesel kenapa selama ini waktu yang begitu banyak kalian miliki bareng ortu itu ga kalian manfaatin.

Gue contoh banget. Anak mamah yang jarang dirumah. Kelayaban tiap hari. Pulang tengah malem, pagi ga ketemu ortu karna masih tidur, ntar sore cuma sampe ba'da maghrib, abis itu nglayab lagi sampe tengah malem. Pulang kerumah ortu udah pada tidur. Sampe bener bener ga sempet buat ngobrol sama mereka sangking begonya gue.

Sekarang setelah udah jauh, gue baru sadar kenapa gue seegois itu ngehabisin waktu gue buat engga lebih deket sama mereka. Jujur, gue sangat menyesal dan kehilangan momen momen yang seharusnya bisa gue lewatin bareng mereka, malah gue pake buat kelayaban ga jelas. Padahal itu ga penting penting amat.

Betapa berharganya kebersamaan bareng orang tua sampe akhirnya gue sadar setelah di titik dimana gue harus mandiri, malah gue ngerasa berat. Karena selama ini gue ga memanfaatkan waktu dengan baik sama mereka. Harapan gue buat kalian yang masih seatap, yang masih bisa ketemu mereka setiap saat, yang masih bisa denger omelan mereka, yang masih bisa cium tangan mereka, yang masih bisa ngerasain sentuhan lembut mereka, yang bisa meluk mereka, kalian manfaatin dengan baik.

Segalak apapun, se bawel apapun, se rewel apapun, se ketat apapun orang tua kalian, hal hal itu lah yang terbaik. Mereka ngelakuin semua itu bukan untuk ngebatasin kalian. Mereka cuma pengen membentuk diri kalian biar terbiasa dengan aturan aturan. Jadi ketika kalian jauh, kalian bisa dengan mudah hidup mandiri dengan hebat.

Penyesalan terbesar dalam hidup adalah ketika kita berada dekat dengan orang tua, tapi bahkan untuk membuat mereka tersenyum saja kita tidak mampu. Penyesalan itu bakal terbayang dan terngiang ngiang. Memberatkan langkah untuk berjalan pergi menjauh untuk mengejar mimpi kalian. Mereka butuh kalian. Apa kalian pikir mereka membuat sedemikian aturan, membeberkan ribuan omelan itu untuk apa? Agar kalian jadi lebih baik.

Gue yakin, disaat kalian melangkah pergi jauh dari rumah untuk waktu yang lama, dalam hati mereka merasa berat, mereka butuh kalian untuk menemani hari hari mereka. Mereka ingin selalu bisa melindungi kalian. Mereka ingin selalu mengusap kepala kalian serasa mendoakan hal hal terbaik untuk hidup kalian. Gue bukan menggurui. Gue cuma berbagi apa yang selama ini gue rasakan. Gue yang dulu sangat menginginkan kebebasan, semau gue, sekarang tersentak saat dihadapkan pada dunia lepas, tanpa kontrol siapapun, tanpa peringatan dari siapapun, tanpa arahan dari siapapun.

Disaat - saat ini, gue bener bener ngerasa belum ada apa apanya. Gue terlalu berfikir jauh kedepan tentang apa yang gue hadapi ketimbang memikirkan sesuatu yang ada didepan mata. Visioner itu perlu, tapi acuh pada hal terdekat itu bodoh. Kelak semua itu bakal sangat kalian rindukan ketika kalian jauh dari mereka. Jangan sampe menyesal karna kelalaian kalian memanfaatkan waktu sebaik - baiknya dengan mereka.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...