HARI KEDUA.
Gue tidur dengan sangat tidak nyenyak. Bangun di jam 00.30 WIB, lalu berusaha tidur dan kebangun di jam 03.00 WIB, lalu kembali tidur dan bangun saat adzan shubuh. Dan drama pun dimulai.
Suara adzan shubuh & maghrib emang bikin homesick banget. Sayup sayup dalam hati terdengar suara ibu membangunkan. ”Dek, bangun.. sholat.. ayo bangun.. sholat dulu nanti tidur lagi gapapa”.
Suara itu menggema dari dalem hati. Air mata pun menetes tanpa pamit. Mengalir membasahi ruang diwajah. Ingin mencoba kuat pun sia sia. Air mata tak mau berenti mengalir. Lalu kemudian dering handphone memecah keheningan shubuh..
“IBU is calling...”
Segera saja ku angkat telfon Ibu.
“halo..”
“Halo dek.. sudah bangun?”
“sudah bu..”
“sholat dulu oo sana.. nanti kalo masih ngantuk ya tidur lagi..”
“iya bu..”
“ya sudah sholat dulu..”
Lalu lepas drama itu, ku tunaikan ibadahku. Dengan berharap Tuhan menguatkan hati serta jiwaku untuk tetap kuat. Doa ku selalu mengalir deras dari ucapku untuk kebahagiaan keluargaku. Hanya itu yang dapat aku berikan sekarang. Hanya Tuhan yang dapat mengirim semua rasa rindu ini pada keluarga. Aku meminta Tuhan untuk merangkul mereka, menjaga dari segala malapetaka dan api neraka, lalu mendekatkan mereka pada Surga yang di janjikanNya.
Aku memohon, agar tangisku saat ini kelak akan membuahkan keberhasilan untuk mereka. Dapat menjadi jalan menuju segala citaku agar dapat kembali dan menaikan derajat mereka lebih tinggi. Aku berharap Tuhan selalu memegangiku disetiap langkah dan tujuan yang ku tempuh. Agar aku tak salah. Agar semua yang aku lakukan berguna. Agar aku selalu dilindungiNya.
“halo.. dek, sudah sholat?”
“sudah bu..”
“hari ini apa acaranya?”
“daftar ulang ospek bu..”
“yasudah kalo ini masih capek tidur lagi aja, tapi kalo berangkat pagi ya jangan tidur, siap siap.. sekalian nanti kalo di kampus cari temen yang sejurusan, yang sekelas. Jadi kalo ada apa apa bisa minta tolong..”
“iya bu..”
“Ibu kan ga setiap saat bisa telpon. Jadi kamu harus cari temen. Yang kuat ya dek.. jangan nangis terus. Ibu percaya kamu bisa, kamu hebat.”
(lalu aku terdiam menahan isak.. tak mampu menjawab apapun..)
“jaga diri ya, di sehat sehat. Jangan sakit, Ibu jauh ndak bisa jagain kamu..”
“iya bu...”
“iya dek.. sudah ya, hati – hati disana. Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalaam...”
Sekarang jam sudah menunjuk pukul 16.18 WIB. Seharian hanya terpaku di kos, chat sana sini demi menghilangkan sepi, lalu lanjut menulis keresahan ini. Udah dapet temen sih, tapi baru di chat. Tapi entah kenapa hati masih enggan untuk tegar dan tenang. Kegojak kerinduan dan kehilangan begitu kuat. Ingin rasanya segera pulang, bertemu keluarga dirumah. Tapi bagaimana? Citaku masih jauh. Dan belum waktunya pulang. Masih ada 11 hari lagi, sebelum kembali pulang untuk beberapa hari kemudian kembali kesini bertarung menjadi mahasiswa sebenarnya 10 hari kemudian.
Entah akan seberat apa nanti ketika kembali berjuang disini. Rasanya enggan membayangkan. Tapi aku tak patah arah. Terus kucari nyamannya hidup sendiri ditengah kegundahan hati yang membuat perut mual enggan makan, hati gelisah enggan bersenang senang. Rasanya hanya ingin terdiam sambil menunggu jam berdetak cepat agar waktu cepat berlalu. Ini masih hari kedua, ataupun sudah hari kedua. Tapi aku masih tetap stuck di titik yang sama. Tanpa pergerakan.
Yang kata orang Yogyakarta adalah kota dengan ribuan cerita, ribuan tempat hebat, jutaan manusia manusia spesial ini masih belum dapat aku temui. Aku masih terdiam diruangan 4x5 meter ini. Sendiri.
Sepagian tadi aku masih belum menemukan hasrat untuk beranjak mencari bahagiaku disini. Meski tekad kuat, tapi hati enggan bergerak. Hawa dingin mendung sedih sendu masih terus menerpa. Entah sampai kapan aku akan seperti ini. Hanya duduk terdiam memandangi langit langit, tanpa pergerakan. Padahal anganku sudah berkeliling kemana mana, tapi ragaku seolah kaku beku.
“Percayalah Jogja itu kota yang menyenangkan, coba explore Jogja dengan semua kearifan lokalnya. Keluar kosan, coba ngobrol sama orang asing, cari sesuatu yang baru. JANGAN BIARKAN KEADAAN MENGALAHKANMU, BUAT DIRIMU YANG MENGATUR KEADAAN. JANGAN MENYERAH DENGAN KEADAAN, NIKMATI PROSESNYA.”
Semoga besok menjadi hari baik, untuk segera keluar dari kekalutan, dan mulai merajut asa yang sedari rumahku tenteng dijiwa. Jadi hebat, mengatur hidup dengan percaya bahwa sejak saat ini, mimpi itu mulai turun dari langit untuk segera memintaku menjemput.
Amiin..
Comments
Post a Comment