Skip to main content

Hari Kelima Rantau!

Sudah mulai terbiasa sendiri. Udah mulai tau tempat laundry yang murah dimana, udah mulai punya warung nasi langganan. Udah mulai punya temen chat. Ya masih 4 hari lagi sebelum ospek, dan 8 hari lagi sebelum pulang kerumah untuk 10 hari kemudian memulai kehidupan mahasiswa yang nyata.

Sudah mulai menata pemasukan dan pengeluaran, sudah mulai terbiasa bangun subuh, sudah mulai terbiasa dengan udara pagi jogja yang sangat menusuk. Hari ini agenda nya cari sabun cuci buat nyuci, kan gak semua jenis baju di laundry juga, demi alasan kesehatan kata ibu mending sebagian dicuci sendiri.

Jam 10.00 WIB

Disibukkan dengan kegiatan Kelompok di kampus untuk persiapan ospek. Seru. Tapi belum ada yang seperti keluarga. Memang susah cari teman yang sejalan yang bisa selalu beriringan secepat menunggu kopi panas hingga dingin.

Berbagai bahasa melebur jadi satu makna. Berbeda beda memang indah. Bukan tentang darimana asal, bukan tentang bagaimana cara kita berbicara. Tapi tentang bagaimana kita melihat segala sesuatu dari berbagai sudut. Menjangkau keseluruh arah, melihat kayanya budaya di negeri kita Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku.

Anak kos baru ya susah buat ikut ngerayain 17. Gak kayak dirumah, segala lomba tingkat RT, RW, Sekolah pun kita ramaikan. Disini kita asing. Hanya mampu melihat antusiasme warga sekitar daerah kos yang tengah berlomba dikelilingi hiruk pikuk kegembiraan menyambut hari kemerdekaan. Kami hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat semangat warga sekitar.

Kami hanya bisa mendengar lagu Indonesia diputar di radio radio dan televisi. Tanpa bisa ikut serta dilapangan berupacara. Rindu rasanya ketika melihat paskibraka mengibarkan bendera. Terlintas suasana lapangan upacara SMA yang begitu hangat. Mengangkat tangan memberi hormat kepada Sang Merah putih yang dikibarkan.

Melihat muka muka lesu dari sebagian teman teman yang setengah hati ikut upacara karna itu hari libur. Melihat tatapan tajam dari kawan yang begitu memaknai arti sebuah kemerdekaan, sampai ketika bendera telah berkibar diatas, tangan kanan kami mulai terasa pegal. Lalu kemudian perlahan kami goyang - goyangkan. Berharap pegal itu hilang.

Ketika matahari mulai menyilaukan mata, kami pindahkan songkong topi OSIS kami kearah datang matahari, agar terlindung sudah wajah dan mata kami dari teriknya Mentari Pagi. Ketika kaki mulai pegal, lutut mulai lelah, kami gerak gerakan keduanya berharap energi kembali hadir.

Ketika bosan mulai menerpa, kami ayun - ayunkan kami ke depan kebelakang. Iseng menyentuh tangan teman sebaris kami. Lalu pura pura tak tahu. Ketika kaki mulai bosan, kami dorong lutut bagian belakang teman didepan kami agar mereka tertekuk kaget. Kemudian senyum dan gelak tawa pecah saat reaksi mereka kocak.

Waiit... Ini apaan sih..

Tugas essay sudah mulai numpuk, tugas tugas pra ospek udah mulai terlintas di kepala. Tinggal 3 hari batas waktu. Dan semua barang harus sudah lengkap. Kebutuhan dan tugas ospek begitu menyita waktu dan pikiran, sampai sampai mau jalan jalan aja pikir pikir. Beli kebutuhan OSPEK itu sama kek lebaran ke tiga. Segala kemeja, celana bahan, peci, dasi, sepatu, pin, dan berbagai pernak pernik lainnya harus tersedia.

Belum lagi aneka snack, lalu buku - buku, kemudian bahan bakti sosial lain yang musti juga dipenuhi. Semua itu begitu menyita tenaga, uang, dan waktu. Tapi ya memang dari tahun ke tahun seperti ini. Ini adalah serangkaian proses perjuangan yang harus dilalui. Belajar mengatur waktu yang sedemikian rupa, belajar menata hati, diri, dan pikiran, belajar hemat, belajar teliti. Semua ini guna pemanasan sebelum nantinya kita benar benar jadi Mahasiswa.

Apalagi OSPEK sekarang katanya berbeda dengan ospek yang dulu. Sekarang ospek benar benar jadi ajang pengenalan dan orientasi. Bukan lagi ajang untuk balas dendam kakak tingkat. Memang seharusnya begini. Ospek itu edukatif, komunikatif, dan inovatif. Dengan begini, para maba jadi lebih betah, lebih antusias, dan lebih bersemangat. Kami mengikuti ospek dengan semangat, bukan dengan kecemasan dan tekanan.

Semoga 72 tahun Negeri ini merdeka, program program mutu pendidikan meningkat. Sehingga dapat menghasilkan generasi generasi penerus bangsa yang bukan hanya kuat raga, tapi juga jiwa. Kreatif, komunikatif, inovatif, dinamis, agamis, dan bersahaja. Saya rasa itulah seharusnya tujuan ospek yang sesungguhnya selain pengenalan kampus. Yaah.. semoga saja OSPEKku menyenangkan dan bermanfaat untukku kelak dalam menjalani hidup baru sebagai mahasiswa. 

Amin.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...