Sudah mulai terbiasa sendiri. Udah mulai tau tempat laundry yang murah dimana, udah mulai punya warung nasi langganan. Udah mulai punya temen chat. Ya masih 4 hari lagi sebelum ospek, dan 8 hari lagi sebelum pulang kerumah untuk 10 hari kemudian memulai kehidupan mahasiswa yang nyata.
Sudah mulai menata pemasukan dan pengeluaran, sudah mulai terbiasa bangun subuh, sudah mulai terbiasa dengan udara pagi jogja yang sangat menusuk. Hari ini agenda nya cari sabun cuci buat nyuci, kan gak semua jenis baju di laundry juga, demi alasan kesehatan kata ibu mending sebagian dicuci sendiri.
Jam 10.00 WIB
Disibukkan dengan kegiatan Kelompok di kampus untuk persiapan ospek. Seru. Tapi belum ada yang seperti keluarga. Memang susah cari teman yang sejalan yang bisa selalu beriringan secepat menunggu kopi panas hingga dingin.
Berbagai bahasa melebur jadi satu makna. Berbeda beda memang indah. Bukan tentang darimana asal, bukan tentang bagaimana cara kita berbicara. Tapi tentang bagaimana kita melihat segala sesuatu dari berbagai sudut. Menjangkau keseluruh arah, melihat kayanya budaya di negeri kita Indonesia.
Dirgahayu Indonesiaku.
Anak kos baru ya susah buat ikut ngerayain 17. Gak kayak dirumah, segala lomba tingkat RT, RW, Sekolah pun kita ramaikan. Disini kita asing. Hanya mampu melihat antusiasme warga sekitar daerah kos yang tengah berlomba dikelilingi hiruk pikuk kegembiraan menyambut hari kemerdekaan. Kami hanya bisa tersenyum dan tertawa melihat semangat warga sekitar.
Kami hanya bisa mendengar lagu Indonesia diputar di radio radio dan televisi. Tanpa bisa ikut serta dilapangan berupacara. Rindu rasanya ketika melihat paskibraka mengibarkan bendera. Terlintas suasana lapangan upacara SMA yang begitu hangat. Mengangkat tangan memberi hormat kepada Sang Merah putih yang dikibarkan.
Melihat muka muka lesu dari sebagian teman teman yang setengah hati ikut upacara karna itu hari libur. Melihat tatapan tajam dari kawan yang begitu memaknai arti sebuah kemerdekaan, sampai ketika bendera telah berkibar diatas, tangan kanan kami mulai terasa pegal. Lalu kemudian perlahan kami goyang - goyangkan. Berharap pegal itu hilang.
Ketika matahari mulai menyilaukan mata, kami pindahkan songkong topi OSIS kami kearah datang matahari, agar terlindung sudah wajah dan mata kami dari teriknya Mentari Pagi. Ketika kaki mulai pegal, lutut mulai lelah, kami gerak gerakan keduanya berharap energi kembali hadir.
Ketika bosan mulai menerpa, kami ayun - ayunkan kami ke depan kebelakang. Iseng menyentuh tangan teman sebaris kami. Lalu pura pura tak tahu. Ketika kaki mulai bosan, kami dorong lutut bagian belakang teman didepan kami agar mereka tertekuk kaget. Kemudian senyum dan gelak tawa pecah saat reaksi mereka kocak.
Waiit... Ini apaan sih..
Tugas essay sudah mulai numpuk, tugas tugas pra ospek udah mulai terlintas di kepala. Tinggal 3 hari batas waktu. Dan semua barang harus sudah lengkap. Kebutuhan dan tugas ospek begitu menyita waktu dan pikiran, sampai sampai mau jalan jalan aja pikir pikir. Beli kebutuhan OSPEK itu sama kek lebaran ke tiga. Segala kemeja, celana bahan, peci, dasi, sepatu, pin, dan berbagai pernak pernik lainnya harus tersedia.
Belum lagi aneka snack, lalu buku - buku, kemudian bahan bakti sosial lain yang musti juga dipenuhi. Semua itu begitu menyita tenaga, uang, dan waktu. Tapi ya memang dari tahun ke tahun seperti ini. Ini adalah serangkaian proses perjuangan yang harus dilalui. Belajar mengatur waktu yang sedemikian rupa, belajar menata hati, diri, dan pikiran, belajar hemat, belajar teliti. Semua ini guna pemanasan sebelum nantinya kita benar benar jadi Mahasiswa.
Apalagi OSPEK sekarang katanya berbeda dengan ospek yang dulu. Sekarang ospek benar benar jadi ajang pengenalan dan orientasi. Bukan lagi ajang untuk balas dendam kakak tingkat. Memang seharusnya begini. Ospek itu edukatif, komunikatif, dan inovatif. Dengan begini, para maba jadi lebih betah, lebih antusias, dan lebih bersemangat. Kami mengikuti ospek dengan semangat, bukan dengan kecemasan dan tekanan.
Semoga 72 tahun Negeri ini merdeka, program program mutu pendidikan meningkat. Sehingga dapat menghasilkan generasi generasi penerus bangsa yang bukan hanya kuat raga, tapi juga jiwa. Kreatif, komunikatif, inovatif, dinamis, agamis, dan bersahaja. Saya rasa itulah seharusnya tujuan ospek yang sesungguhnya selain pengenalan kampus. Yaah.. semoga saja OSPEKku menyenangkan dan bermanfaat untukku kelak dalam menjalani hidup baru sebagai mahasiswa.
Amin.
Comments
Post a Comment