Skip to main content

Berkarya?

 Halo gaess..

Tulisan kali ini masih berkutat seputar bagaimana menjadi mahasiswa baru. Tapi kali ini bukan tentang kesedihan lagi. Tapi tentang sebuah karya. Sebelum gue menginjakkan kaki ke Yogyakarta buat kuliah, di otak gue ada sejuta ide yang nantinya bakal gue lakukan pas gue udah jadi mahasiswa. Banyak hal yang udah gue bayangin.

Tapi you know what? Semua itu ternyata gak gampang buat direalisasikan. Kesalahan pertama yang gue lakukan adalah, gue terlalu malas buat mengkonsep sesuatu aau seenggaknya nulis ide ide yang terbayang di otak gue. Gue biarin ide itu membusuk tanpa melakukan sesuatu buat mewujudkannya.

Oke, sejauh ini skill yang gue yakin gue bisa cuma nulis. Gue bisa mengkritik banyak hal, gue jadi buat nyeritain suatu hal dengan tulisan, gue jago bikin kata - kata spontan dengan tulisan, gue bisa secepet itu buat improve nulis. Tapi semua itu gak cukup.

Merealisasikan suatu ide menjadi sebuah karya itu gak gampang. Apalagi dalam bentuk tulisan. Gue orangnya cukup perfeksionis untuk sebuah karya. Gue gak mau ngasal buat ngisi blog ini. Gue butuh banget keresahan atau bahan yang cukup buat gue jadiin tulisan di blog. Butuh mood yang ekstra bagus buat menyampaikan pesan explicit di setiap tulisan gue. Dan itu sangat amat berat. Apalagi bagi amatir kek gue.

Cuma satu yang gue yakin, semakin sering gue berkarya dengan mengerahkan semua yang gue bisa, itu bisa jadi tempat gue mengasah skill gue dalam tulis menulis. Di awal kuliah ini gue mulai sadar, kita kuliah gak cuma buat ngejar sarjana dan dapet pekerjaan. Tapi kita juga harus berkarya. Kita harus membuat sesuatu untuk menunjukkan kalo kita berkembang. Kita harus buat sesuatu yang akan berguna gak cuma buat kita, tapi buat orang banyak.

Karna gue bisa nulis, gue selalu berusaha mengemas tiap postingan gue dengan baik. Harapannya setiap kalian mampir di blog gue dan baca postingan gue ada sesuatu yang bisa kalian ambil. Ada sesuatu yang bermanfaat, ada sesuatu yang bisa kalian fikirkan dan renungkan untuk kedepannya membuat kalian jadi manusia yang lebih baik. Bukan bermaksud menggurui atau apapun. Tapi dasarnya, bagi gue berkarya itu sebuah hak setiap manusia. Jadi kalo kita udah dikasih hak untuk berkarya, kenapa kita gak memanfaatkan itu dengan baik?

Gue dan kebanyakan orang cenderung lebih suka menikmati hasil karya orang lain, kalau bagus. Dan berkomentar seandainya karya itu jelek atau tidak sepaham dengan kita. Dan gue ngerasa itu gak cukup buat jadi manusia hebat. Kita butuh effort lebih dari sekedar menikmati karya orang lain tanpa melakukan apa apa. Betapa hebatnya kekuatan sebuah karya hingga bisa merubah hidup seseorang dari bukan siapa siapa, menjadi dikenal semua orang. Merubah seseorang yang bukan apa apa, menjadi orang yang bisa bersinar terang dengan cahayanya sendiri.

Kating gue sering bilang, kita berkuliah itu bukan lagi mengikuti, tapi berproses menjadi apa yang kita mau dengan bantuan dosen. Kampus bukan tempat mendapatkan sesuatu dari orang lain, tapi kampus jadi wadah untuk kita menggali sendiri potensi yang kita punya. Dalam berproses menjadi hebat, tentu bukan hal yang gampang. Semua orang ingin menjadi yang terbaik. Tapi belum tentu semua orang tau apa yang diri mereka butuhkan, dan apa yang sebenarnya tersimpan dalam diri mereka. Itu semua harus dicari dan di gali dengan usaha.

Berkarya dulu, hasilnya belakangan. 

Ini postingan kesekian gue di blog ini, dan gak sedikit rintangan. Banyak yang menganggap gue lebay, sok drama, norak, dll. Itu nge breakdown mental banget. Banyak dari kalian yang ga sepemahaman dan satu pikiran sama gue. Tapi itu wajar. Hidup memang penuh warna, tinggal kita memadukannya menjadi suatu hal yang bermakna. 

Namanya berproses, jadi bukan hasil yang utama, tapi perjalanan menjadi suatu karyalah kuncinya. Sudah seberapa berkembang kita untuk menjadi apa yang kita bisa. Dunia kreatif itu luas. Hampir semua berpatok pada seni. Dan seni itu tiap orang beda beda tastenya. Jadi kita ga bisa memaksakan orang lain harus sependapat sama kita.

Gue nulis ini bukan untuk mencari simpati kalian atau untuk berusaha menggurui. Tapi gue pengen kita sama sama bisa mengenal potensi diri masing masing. Berkarya sesuatu dengan keahlian dan minat kalian. Ini bentuk keresahan gue terhadap sebagian besar temen temen gue yang punya potensi yang bagus, tapi mereka enggan untuk menghasilkan sesuatu yang keren. Mereka lebih memilih menyimpan itu, lalu mengejar sesuatu yang bukan 'dia banget' karna mau cari aman.

Gaes, gak cuma seniman yang bisa berkarya. Banyak dari kita yang pengen bikin sesuatu tapi gak punya skill dan potensi yang cukup. Tapi kalian punya, lalu di sia siakan tanpa mau dikembangkan karena takut karya kalian gak menarik. 

Dari awal gue nulis juga ga berharap kalian baca dan jadi ikut sepemikiran sama gue. Semua ini gue niatkan untuk bisa gue nikmati sendiri. Terlepas dari bagus atau enggaknya. Lalu, kalo buat sesuatu yang bisa kalian nikmati sendiri aja takut, gimana kalian mengharapkan orang lain buat menikmati karya kalian? Semuanya berawal dari diri sendiri. Lakukan dulu yang terbaik, yakinlah akan ada yang membalas kalian dengan sesuatu yang terbaik pula. 

Tulisan ini gue tujukan untuk kalian dan diri gue sendiri khususnya. 

Bukan untuk sok hebat, tapi untuk jadi pengingat diri sendiri, bahwa hidup tidak akan selamanya bersahabat. Tapi hidup akan merangkul kita disaat kita yakin tentang apa yang kita kerjakan. Sama kek cinta, jangan harap untuk dicintai kalau kalian tidak berusaha mencintai orang lain dengan tulus.

Selamat berkarya..

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...