Skip to main content

A Little Piece of Mine.

Halo, aku Halim.

Lahir di Palembang, 12 Oktober 1998. Tempatnya disebuah daerah kecil bernama Prabumulih, Sumatra Selatan. Anak kedua dari tiga bersaudara. Gue lahir dengan bobot mini dan berwajah tampan. Lahir dari pasangan suami istri asal Jawa. Lalu kenapa aku lahir di Sumatera?

Kisah itu berawal dari sini.

Kedua orang tuaku adalah seorang guru. Waktu itu, menjadi seorang PNS bukan perkara mudah. Selesai kuliah keguruan disebuah PTN ternama di Jawa, Ayah mendaftarkan diri jadi Guru yang berkerja untuk pemerintah, dan diwajibkan bertugas di daerah Gelumbang, Muara Enim tahun 1990. Ibu dan Ayah sudah dekat sejak masa sekolah dulu, karna mereka berada di satu SMA yang sama namun beda angkatan. Saat kuliah, Ibu di Yogyakarta di IKIP Muhammadiyah yang saat ini berganti nama menjadi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sedangkan ayah kebetulan mendapat beasiswa di ITB Bandung. 

Mereka menikah tahun 1995, yang saat itu ayah sudah menjadi PNS dan diharuskan mengajar di Gelumbang, Muara Enim. Yang kemudian Ibu lalu ikut ayah ke Sumatera. Tahun 1995 tepat bulan oktober Kakakku lahir. Menjadi guru di luar Jawa saat itu bukan sesuatu yang hebat. Dengan jadi seadanya, mereka berusaha bertahan ditengah sulitnya perekonomian di tahun 90an. Tinggal disebuah rumah yang hanya berukuran kurang lebih sebesar kelas ini, kami hidup sangat pas pasan. Tapi orang tuaku tidak pernah mengeluh, mereka selalu mengajarkan arti sebuah keikhlasan dan kesabaran. Hanya dengan bermodal yakin, bahwa Allah tidak akan pernah menguji hambanya diluar kemampuannya.

Singkat cerita, lahirlah bocah mungil yang tampan tahun 1998 di Prabumulih, Sumatera Selatan.  Saat aku lahir, kebetulan ibu diharuskan mengikuti PLPG selama 2 bulan. Aku yang baru berusia 2 bulan pun terpaksa di tinggal ibu tanpa mendapat ASI eksluksif. Sepulang ibu PLPG aku sudah tidak mau menyusu lagi. Lahir dengan bobot seadanya, hanya seukuran botol Aqua besar, aku dapat bertahan hidup sampai sekarang. Tapi tidak dengan kesehatan yang baik. Dari bayi aku sudah banyak mengidap penyakit, dari mulai muntaber dan bronkitis turunan dari ayah.

Dengan nama Ahmad Halim Amrullah, aku tumbuh disana sampai tahun 2002. Bulan Agustus 2002, permohonan pindah ayah disetujui oleh pemerintah. Namun sedihnya, ibu harus tetap tinggal disana, karena permohonan pindah ibu belum disetujui. Akhirnya aku dan kakaku ikut pulang ke Jawa meninggalkan ibu ku seorang diri di pulau orang. Ibu baru bisa pindah kembali ke Jawa 2 tahun berselang.

Selama 2 tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Ibu, tiap malam aku hanya membayangkan aku tidur di temani ibu sembari membelai kepalaku dengan lembut seraya membacakan cerita pengantar tidur. Sedih, bahkan untuk sekedar menangis saja aku sudah tidak kuasa. 2 tahun itu terasa berat bagi bocah berumur 3 tahun berbadan ceking ini. Tapi aku tumbuh jadi anak yang lincah dan cukup tangkas.

Riwayat pendidikanku terbilang biasa biasa saja. Tidak ada yang mencolok. Semua berhasil kuselesaikan dengan baik. Namun ketertarikanku pada sesuatu melebihi yang lain. Sejak usia 7 tahun aku sudah tertarik dengan dunia tulis menulis dan teknologi. Aku mulai merambah komputer diusia belia. Tapi tidak untuk bermain game, melaikan untuk mencari sesuatu yang kadang anak seusiaku tidak terfikirkan. Aku begitu menikmati dunia maya sampai sampai aku punya sebagian besar social media yang ada didunia ini yang pada saat itu teman temanku sibuk bermain diluar.

Sampai tiba saat aku bertemu dengan situs bernama Blogger. Sebuah platform untuk berbagi cerita dan hal hal menarik. Aku sangat tertarik ketika itu untuk menulis apa saja yang ada di otakku lalu kemudian aku publish di blog untuk dibaca orang banyak. Seperti ada suatu kebanggaan yang aku rasakan. Kebetulan saat itu aku juga sangat suka membaca jadi hampir semua forum diskusi online dan berbagai postingan blog aku lahap.

Saat aku SD kelas 2, minatku untuk membaca dan menulis makin tidak terbendung lagi. Pernah suatu hari, selama hampir 1 minggu lebih uang saku ku tidak pernah aku bawa kesekolah. Aku simpan di dalam sebuah boneka yang perutnya aku lubangi kemudian aku simpan uang itu didalamnya. Uang itu hanya untuk membeli sejumlah komik yang saat itu harnya masih 7.500 – 9.000 rupiah. Dari satu toko ke toko yang lain kususuri dengan kayuhan sepedaku. Seharian penuh. Hanya untuk mencari komik kemudian membacanya.

Setahun berselang, kakakku mulai mengenalkanku pada dunia musik. Segala lagu yang ia dengarkan aku ikuti. Sampai saat hari ulang tahunku tiba, kebetulan saat itu aku baru pulang dari rumah sakit karena typus. Aku dirawat selama 1 minggu. Bagiku kamar rumah sakit sudah menjadi rutinitas tahunan. Hampir setahun sekali aku dirawat di RS karena sakit.

1 minggu adalah waktu yang lama. Keluarga dan sanak saudara bergantian menjengukku dengan sedikit memberiku “Uang Kesembuhan”. Dari uang itulah kemudian aku minta dibelikan sebuah gitar. Tepat 1 hari setelah hari ulang tahunku, aku diajak ke toko musik untuk membeli gitar pertamaku. Saat itulah aku mulai fokus untuk bagaimana caranya aku bisa bermain gitar dengan hebat. Orang tuaku tidak ada yang bisa main musik, alhasil aku belajar otodidak selama hampir 1 tahun untuk bisa lancar memindahkan chord chord gitar dengan baik dengan bekal buku “Belajar Main Gitar” aku mulai tenggelam dalam dunia itu.

Memasuki SMP, hobiku tentang gitar dan menulis tidak surut, malah makin kuat. Kebetulan disekolahku dulu ada ekstrakurikuler musik yang jelas itu adalah ekskul yang sangat aku minati meninggalkan kecintaanku pada sepak bola dan bola basket. Aku membentuk band pertamaku saat menjelang perpisahan kakak kelasku saat aku kelas 7.

Hello Kitty adalah nama yang kami pilih. Terdengar lucu dan menggemaskan kan. Tapi sayangnya sampai sekarang aku tidak benar benar menggeluti dunia itu. Karna bagiku, bermain musik adalah sebuah hiburan semata. Intinya aku hanya ingin berdiri diatas panggung dan menghibur orang yang melihatku. Aku hanya ingin berinteraksi dengan mereka melalu lagu lagu yang aku mainkan. Hello Kitty bertahan sampai sekarang tapi tidak pernah menghasilkan lagu karya sendiri.

Masuk SMA aku makin yakin bahwa duniaku bukan tentang duduk didepan meja kerja lalu menghitung dan merencanakan program kerja disuatu perusahaan orang, tapi tentang berdiri di kaki sendiri lalu berusaha menghibur orang lain didepanku. Masuk lah aku kejurusan IPS. Aku mulai belajar memahi cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain, berusaha mengintertaint orang dengan apapun yang aku bisa lakukan. Berusaha memahami setiap karakter orang, mendalami cara berbicara, berkomunikasi yang bukan hanya interaktif, tapi jika bermanfaat.

Aku mulai belajar menulis sajak, belajar menulis apapun yang terjadi di hidup dan dapat menjadi bahan bacaan orang lain yang kemudian mereka dapat ambil sesuatu setelah membaca tulisanku yang harapannya bisa membuat mereka menjadi lebih baik. That’s why aku pilih ilmu komunikasi sebagai landasan kurikulum terakhir dalam pendidikan formalku. Aku ingin tidak sekedar bisa menulis, tapi juga dapat menyampaikan sesuatu bagi orang banyak yang bermanfaat. Entah dapat bentuk tulisan maupun karya karya lain.

Karna aku percaya, bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana kita melakukan sesuatu untuk diri kita, tapi tentang bagaimana sesuatu yang kita kerjaan bukan hanya dapat kita rasakan tapi juga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Itu tujuan akhir hidupku.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...