Siapa yang tak kenal dengan band legenda Guns 'n Roses? Siapa yang tak terkesima melihat aksi panggung Axl yang berlarian kesana kemari diatas panggung dengan energik? Siapa yang tak kenal Slash dengan topi ikonik dan rambut yang terurai menutupi hampir seluruh wajahnya sambil memainkan interlude Sweet Child o' Mine. Kesuksesan dan kepopuleran Guns 'n Roses bisa dibilang tak lepas dari pesona mereka berdua.
Namun, siapa sangka ending dari formasi ini tidaklah mulus. Slash dan Duff hengkang lalu membentuk band baru, Adler harus menjalani rehabilitasi kecanduan narkoba, dan Izzy memilih untuk menutup popularitasnya. Hanya Axl yang mendeklarasikan dirinya masih Empunya GNR.
Terlepas dari peran vital Axl dan melodi-melodi Slash, Izzy Stradlin adalah sosok vital di balik ke-Rock 'n Roll-an GNR meski dirinya kurang disoroti media timbang dua rekan bandnya tersebut. Kolaborasi Slash-Izzy yang terkesan tidak selaras namun justru menghasilkan sound Rock n Roll yang baru. Sentuhan rock n roll yang keras dan terkesan malas dari Izzy membuat lagu-lagu GNR malah menjadi sesuatu yang unik dan segar.
Dengan bubarnya GNR, boleh jadi menjadi masa merosotnya era Rock n Roll pada masa itu. Pun juga dengan Izzy Stradlin and The Juju Hounds yang bubar tak lama setelah album mereka rilis. Namun, bubarnya band baru itu tak meredupkan ke Rock 'n Rollan Izzy, ia tetap produktif membuat album meski tidak di jalur populer seleb rock. Izzy kembali merilis album 177 Degrees. Ia pun terkesan menghindari wawancara, konferensi pers bahkan konsernya di album-album berikutnya untuk media manapun. Sebab Izzy memang ingin 'pergi' setelah albumnya rilis. Lagu Old Hat mungkin menjadi gambaran bagaimana Izzy benar-benar ingin menghindari hingar-bingar bintang rock saat di GNR.
Meskipun sudah bersikeras untuk tidak terikat dengan popularitas, namun bagi semua mantan personil GNR, nama besar Guns n Roses akan selalu melekat pada nama mereka. Izzy Stradlin memang pernah menyabet gelar Rock n Roll Hall of Fame, namun itu tak lepas dari kejayaan GNR, bukan karena konsistensinya bersolo karir. Album-album Izzy setelah 177 Degrees memang terkesan kuno. Seperti Ride On (1999) yang memiliki kejutan di lagu instrumental berjudul Trance Mission. Kemudian berlanjut di album-album seperti River (2001), Like a dog (2003) Fire 'The Acoustic Album' dan Miami (2007), Concrete (2008), Smoke (2009) dan Wave of Heat (2010).
Semua album itu membuktikan bahwa Izzy Stradlin tetap Rocker sejati yang tak perlu popularitas untuk memainkan musiknya. Populer atau tidaknya musik rock, Izzy tetap teguh ber-Rock n Roll. Izzy tak peduli tentang popularitas atau berapa banyak albumnya terjual. Ia hanya memainkan apa yang ia suka.
### Postingan ini sudah pernah saya muat di Kaskus dengan Judul yang sama ###
Comments
Post a Comment