Skip to main content

SISI LAIN : Pollsmoor Maximum Security Prison, Kisah Seram dibalik Jeruji!

 

Penjara Pollsmoor, atau yang dikenal luas sebagai Pollsmoor Maximum Security Prison, yang bediri sejak 1964, berada di Cape Town, pinggiran Tokai di Afrika Selatan. Sampai artikel ini ditulis, penjara ini memiliki kapatitas maksimal 4.336 tahanan dengan 1.278 staff penjara.



Pollsmoor juga dikenal karena adanya geng-geng yang saling berebut kekuasaan di dalam. Ada tradisi dimana jika napi masuk geng di Pollsmoor, ia harus mentato tubuhnya sesuai dengan nomor atau nama geng yang ia masuki. Mereka akan disumpah kemudian ditato. Jika ada anggota yang melanggar sumpah geng, ia akan dihukum, dibunuh dan jantungnya akan menjadi santapan anggota geng yang mengeksekusinya.

Terdapat 3 geng yang sangat berkuasa di Pollsmoor, mereka menamai ketiganya Geng 26, 27 dan 28. Di dalam Pollsmoor erat dengan kehidupan gangster. Geng-geng dipisah menjadi 3 bagian di satu lantai yang dijaga ketat oleh sipir, yang menampung 500-750an tahanan. Pemisahan ini bentuk upaya membatasi adanya perekrutan anggota bagi para tahanan baru. 

Anggota geng 26, biasanya beranggotakan pria yang bugar secara fisik dan mampu mencuri. Anggota geng 27, khusus bertugas untuk melukai penjaga. Sedangkan di geng 28, para anggota bebas memilih 2 peran, pertama garis emas, yang khusus bergerak dalam kekerasan, kemudian perak, dengan tugas melayani secara seksual. Untuk menjadi anggota geng 28 jalur perak, napi harus berhubungann seks dengan pemimpin geng.

Dari penuturan eks narapidana, disana kerap terjadi pembunuhan yang didasari perebutan kekuasaaan antar geng. Bahkan Chris Mullins, mantan napi Pollsmoor, menguak fakta yang mencengangkan, ujarnya, setelah membunuh musuh pelaku memakan jantung korbannya untuk menunjukkan sehebat apa dirinya. Tradisi makan jantung lawan ini sudah menjadi rahasia umum para gangster di Afrika Selatan. Katanya, ada mitos bahwa jika memakan jantung lawan yang sudah dikalahkan akan menambah kekuatan dan keselamatannya.

Penuturan yang sama juga dilontarkan oleh anggota Nice Time Kids, salah satu geng di Cape Town, yang mengatakan bahwa cerita itu bukan mitos atau bualan belaka. Banyak kriminal di Cape Town melakukan tradisi ini, mereka banyak yang ditahan di Pollsmoor. Tidak hanya perkelahian antar geng saja, sesama anggota geng pun kerap saling bunuh untuk berebut kekuasaan atau menjadi pimpinan. Para sipir penjara pun tak dapat berbuat banyak untuk mencegah adanya tradisi tersebut karena para tahanan melakukannya sembunyi-sembunyi, bahkan mereka tak segan untuk menghabisi para petugas.

Pada 2001, penjara ini jadi subjek dokumenter BBC oleh Clifford Bestall, dimana menceritakan dua napi yang akan segera bebas, Erefan Jacobs dan Mogamat Benjamin, pemimpin geng 28 saat itu, serta mengikuti perjalanan mereka kembali ke masyarakat setelah bebas dari Pollsmoor. Dalam dokumenter yang diproduksi oleh Ross Kemp (ane gatau judulnya apa, susah banget carinya. kalo ga salah series dengan judul Ross Kemp on Gangs, episode Cape Town) diperlihatkan bahwa pemimpin geng selalu mendapat perlakuan khusus oleh napi lain. Jika menjadi tahanan baru di Pollsmoor, ia akan berhadapan dengan pemimpin geng untuk kemudian ditawari masuk geng atau dibunuh. Selain itu, jika sang pemimpin tertarik, napi baru tersebut akan tidur bersama pemimpin geng dan harus melayani keinginan seksualnya selama yang ia mau. Tidak ada pilihan lain, mau atau menolak dan dibunuh.

Pada 27 April 2005, Mikhael Subotzky memamerkan hasil fotonya yang menggambarkan suasana dalam Pollsmoor dengan judul Die Vier Hoeke (The Four Corners). 

Sangking mengerikan dan rusuhnya penjara ini, pada 21 September 2015, setidaknya 4.100 napi di Pollsmoor dievakuasi karena penjara dipenuhi tikus yang menyebabkan banyak napi terkena wabah akibat infeksi dari gigitan tikus atau yang NICD sebut sebagai leptospirosis, yaitu infeksi akibat urin tikus.


Fakta menarik, pada April 1982, Nelson Mandela sempat menghuni Pollsmoor bersama Walter Sisulu, Ahmed Kathrada, Andrew Mlangeni, dan Raymond Mhlaba selama 6 tahun, setelah sebelumnya dipindahkan dari Pulau Robben.



### Postingan ini sudah pernah Saya muat di Kaskus dengan Judul yang sama. ###

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...