Skip to main content

2020

2020. Dari Januari hingga hari ini, tahun ini masih diselimuti kesedihan.

Bencana silih berganti datang, sampe detik ini saja kita masih #StayatHome 

Satu dunia tunduk pada COVID-19. Virus menyebalkan bagi manusia. Iya bagi manusia, tidak bisa kemana-mana, dirumah aja, tidak produktif seperti biasa. Tapi mungkin alam murka. Ia mengurung manusia supaya alam bisa mengobati luka dari tingkah kita. Sungai makin jernih, langit makin bersih, asap menipis. Dunia sedang recovery.

Halo gaes, sekarang udah semester 6 kuliah. Seperti biasa, agenda tahunan adalah update setahun sekali wkwkwk. Kali ini emang agak telat, karena memang awal tahun hectic banget, ditambah ada pandemi, mood makin ancur-ancuran buat nulis.

Situasi terkini? 

Oke. Berat badan naik, baru putus, belum magang, belum kkn, freelance ngadat, semua terhambat, bahkan ada yang berakhir. Tapi mungkin bukan alam saja yang marah padaku, manusia, tapi mungkin hati dan raga ini juga. Satu tahun lebih, aku memilih untuk mencintai dan menyayangi individu lain ketimbang diri sendiri. Merelakan kesahatan, fikiran, tenaga, hanya untuk membahagiakan individu lain. Mungkin awal tahun ini aku "ditampar" alam untuk kembali mencintai, menghargai, dan merawat diri sendiri. 

Harapan tahun ini? 

Semoga semua membaik, dunia membaik, aku membaik, hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam membaik, semuanya membaik. Lancar disemua urusan, didekatkan dengan yang harus dimiliki, menjaga dan merawat apa yang sudah didapat, serta belajar merelakan apa yang seharusnya di ikhlaskan.

Mungkin itu saja update rutin tahunan kali ini, sampai jumpa tahun depan, dengan berita baik, semangat baru, hati yang baru, serta jasmani yang hebat!

See you soon !

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...