Skip to main content

Story of the Band : Dibalik Bubarnya the Beatles !!

Dibalik nama besar dan ketenaran the Beatles yang sangat meroket pada masanya, ternyata bukan hanya dibalik tubuh para personilnya saja yang menyimpan banyak cerita, pun juga dalam tubuh band asal Inggris ini menyimpan jutaan cerita yang menarik untuk di ikuti. Termasuk fakta dan cerita dibalik bubarnya the Beatles dan misteri-misteri dibaliknya.

Penasaran? Cekidot gan !

Salah satu momen yang menggambarkan perpecahan mereka terjadi pada Januari, 1969, the Beatles sedang berada di soundstage di Twickenham Film Studios, London. Berhari - hari mereka berkumpul untuk membuat dan melatih materi baru untuk sebuah konser pertama sejak 1966 setelah para personil membujuk Paul McCartney untuk mereka sebaiknya berhenti melakukan konser setelah melakukan tur bertahun-tahun. Namun sesi itu tak pernah berjalan dengan menyenangkan. Mereka sama sekali tak menginginkan berada dalam kondisi tersebut. 

Paul McCartney adalah personil yang pertama kali buka suara, "Aku tidak mengerti kenapa kalian terlibat ini jika memang tidak berminat. Untuk apa? bukan soal uangnya. Mengapa kalian ada disini? Aku disini karena ingin melakukan konser. Tapi aku tidak melihat adanya dukungan",  kata Paul kepada semua personil. Mereka saling bertatapan tanpa ekspresi dan respon. Setelah itu, Paul kembali bersuara, "Hanya ada dua pilihan, kita akan melakukannya atau tidak. Aku ingin sebuah keputusan. Karena aku tidak berminat menghabiskan hari-hariku dengan bermain-main disini, sementara semua orang masih mempertimbangkan akan melakukannya atau tidak". Dan Paul masih belum menemukan jawaban dari personil lain. Mereka hanya saling bertatapan.

Brian Epstein. Iya, bisa dibilang dialah sang tonggak yang menyangga the Beatles serta menyeret the Beatles dari yang bukan siapa-siapa, menjadi sekumpulan remaja yang melegenda hingga sekarang. Ia juga menjadi salah satu penengah bagi konflik antar anggota yang saat itu masih dalam usia-usia yang ber-ego tinggi. Pelan-pelan, band makin goyah selepas meninggalnya Epstein pada Agustus 1967 di London akibat overdosis obat-obatan yang tidak disengaja. the Beatles serasa lepas kendali ketika merasakan kekosongan yang ia tinggalkan. Begitupun bagi John Lennon karena mereka memiliki kedekatan yang sangat kuat  merasa sangat terpukul. 

Magical Mystery Tour film

Ditengah keterpurukan tersebut, dan ditambah John yang melepas kepemimpinan band dalam beberapa hal, ia tidak ingin dibatasi oleh the Beatles, membuat Paul McCartney dengan kecintaannya terhadap band, ia menganggap Beatleslah tujuan hidupnya, mencoba mengambil alih kepemimpinan band dan mulai menahkodai band dengan menggagas proyek untuk band, diantaranya adalah film Magical Mistery Tour dan album Let It Be.

Namun, mungkin personil lain merasa terganggu dengan Paul yang mencoba mendominasi kepemimpinan band. Ringo Star, George Harrison, dan John Lennon mulai menentang gagasan-gagasan yang Paul angkat. Semakin kuatnya kebencian para personil, di tunjukkan Lennon salah satunya dengan membawa Yoko Ono saat proses rekaman yang jelas menentang aturan yang dari awal mereka sepakati untuk tidak membawa istri ataupun pacar saat proses rekaman.

recording Sgt. Peppers

Lalu perkembangan George dalam menulis lagu pun menjadi salah satu pemicu makin retaknya hubungan dalam tubuh the Beatles. Kemunculan George sebagai penulis lagu di Beatles membuat para personil lain tidak nyaman. Karena George dan Ringo dianggap 'sebagai pelengkap saja', sementara yang berhak menulis lagu hanya Lennon dan Paul. Kemampuan George pun makin baik di tahuh 1965 dan mulai mendapat apresiasi dari banyak pihak. Potensinya dalam menulis lagu makin terlihat mencuat kepermukaan. Namun, meskipun banyak mendapat apresiasi dari banyak pihak mengenai ide dan kemampuan menulisnya, semua itu selalu di tolak oleh Lennon dan Paul yang membuat George makin merasa diasingkan dalam band.

Lalu, karena George mulai terasa diasingkan, namun ia juga tak ingin ide-idenya sia-sia, lahirlah album solonya bertajuk "Wonderwall Music" hasil dari kolaborasi George dengan beberapa musisi seperti John Barham, dan beberapa musisi India seperti Aashish Khan, Shivkumar Sharma, Shankar Ghosh, hingga Mahapurush Misra

Dengan makin tidak harmonisnya hubungan internal band, mereka masih mampu merampungkan album "Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band". Pada November 1966. Sejak saat itu, selera musik antar personil mulai tidak bisa menyatu. Paul tetap kukuh dengan minatnya di dunia Pop, Lennon lebih ke musik eksperimental, dan George jelas lebih berminat ke musik India. Hal tersebut membuat ego mereka makin susah dilebur dan jadi sukar untuk berkolaborasi. Ditambah dengan hadirnya manajer baru mereka Allen Klein yang disukai Lennon tapi sangat dibenci Paul, juga dengan keputusan Allen membayar Phil Spector untuk penambahan musik tambahan di album 'Let It Be' membuat Paul semakin kesal.   

with Allen Klein

Phil Spector

Paul pun yang mencoba untuk menjadi penengah dengan memimpin proyek artistik yang justru tidak membuat hubungan mereka menjadi lebih baik, malah semakin kacau karena sering berdebat. Disamping itu, keputusan Lennon untuk selalu membawa Yoko Ono dalam setiap sesi rekaman, membuat para personil lain tidak nyaman karena sering berkomentar dan memberi saran yang justru membuat personil lain kesal dan memicu perdebatan dan gesekan yang sebelumnya juga pernah terjadi. 

Plastic Ono Band

Paul dan Lennon juga makin memperkeruh suasana dengan saling berkomentar dan mencela album solo mereka. Lennon juga menghina lagu yang di tulis Paul seperti "My Martha My Dear" dan "Honey Pie". John juga membuat band dengan Yoko Ono dengan nama Plastic Ono Band. John juga sempat mengatakan ingin mundur dari band namun tidak diberitakan ke media, sebelum akhirnya Paul membuat pernyataan bubarnya the Beatles di media dan membuat Paul dituntut oleh personil yang lain terkait pembubaran partnership secara legal di pengadilan. 

McCartney with Sid Bernstein

Ada fakta menarik setelah bubarnya the Beatles. Pada tahun 1967 seorang promotor bernama Sid Bernstein asal New York, berencana membayar the Beatles sebesar 1 juta dolar jika mereka mau tampil dalam 1 konser. Sid memperkirakan di tahun 1976 ia akan meraup keuntungan sekitar 230an juta dolar andai saja saat itu the Beatles mau. Tapi mereka sudah keburu bubar. 

Sampai pada tahun 1985, the Beatles sempat tercatat dalam Guiness Book of Records karena berhasil menjual kaset dan CDnya sebanyak kurang lebih 1 milyar kopi! Pun di tahun 1995, para pengusaha AS berusaha menawari personil Beatles yang tersisa untuk tampil 10 kali konser di seputaran Amerika dengan bayaran fantastis senilai 33.330.000 per orang. Tentunya dengan membawa bendera the Beatles. Namun Ringo, George dan Paul menolak. Karena mereka beralasan tidak akan bisa tampil sebagai the Beatles tanpa kehadiran mendiang sahabatnya, John Lennon.

Meskipun sudah lama bubar, ternyata tuduhan pada Yoko Ono tekait sebagai dalang bubarnya the Beatles masih sering terdengar. Tahun 1987, dalam sebuah wawancara dengan Joe Smith, Yoko membantah tuduhan tersebut dengan mengatakan, bahwa perpecahan tersebut membuat para personil menjadi makin bebas."Tiap orang jadi sangat bebas. John sebenarnya bukan orang pertama yang ingin meninggalkan band". katanya seperti yang di kutip dari Huffington Post

Ringo with Maureen

Yoko menambahkan, "Ringo suatu malam dengan Maureen Starkey Tigrett. Dan dia datang ke John dan saya dan mengatakan ingin keluar. Lalu George, kemudian John. Paul satu-satunya yang mau mempertahankan the Beatles. Tapi tiga lainnya berfikir Paul menganggap the Beatles sebagai bandnya. Mereka jadi seperti bandnya Paul, mereka tidak suka", ujar Yoko.

Paul with David Frost

Kendati demikian, Paul sempat mengatakan pada David Frost bahwa Yoko bukan penyebab bubarnya band. "Dia tidak membuat grup bubar, saat itu grup sedang pecah. Ia bukan biang keladi kehancuran grup kami". kutip The Guardian. Justru menurut Paul, Yoko malah menambah inspirasi bagi sahabatnya. John tidak akan bisa menulis lagu sehebat "Imagine" jika tidak ada Yoko. "Saya pikir dia tidak akan mungkin melakukannya tanpa Yoko. Jadi saya pikir, anda tidak bisa menyalahkannya untuk apapun. Ia menunjukkan kepada John sisi lain dari segala sesuatu yang sangat menarik bagi John, sehingga itu merupakan saat bagi John untuk pergi". Dalam wawancara itu juga, Paul justru menyalahkan Allen Klein sebagai penyebab bubarnya the Beatles.

10 April 1970 akhirnya dicetuskan sebagai hari bubarnya the Beatles, band legendaris yang mendunia yang bukan saja mampu merevolusi musik dan hampir membunuh Jazz pada masanya, tapi juga mengubah keadaan sosial dan budaya, yang hingga kini masih sering ditepis oleh para penggemarnya. Namun memang band ini sudah tidak bisa lagi bertahan. Ego dan perbedaan keinginan sudah tidak mampu membendung kehancuran grup.

Kisah kontroversial bubarnya the Beatles juga berusaha diwujudkan dalam sebuah komik yang dirilis secara digital oleh perusahaan penerbit buku Bluewater Productions yang sudah kali ketiga merilis buku dengan tema the Beatles. Komik tersebut berjudul "Paul McCartney : Carry That Weight" dan mengangkat Paul sebagai tokoh utama. Komik tersebut menceritakan berbagai penyebab kehancuran band dan kisah cinta John dan Yoko. 


### Postingan ini sudah pernah saya muat di Kaskus dengan Judul yang sama ###

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...