Hari ini aku makan di sebuah tempat yang biasa saja.
Lalu mataku tertuju pada satu meja yang riuh di seberang: seorang ayah, ibu, dan tiga anak yang sedang bertukar tawa dengan bebas.
Pemandangan itu sederhana, tapi mendadak dadaku sesak.
Aku tersenyum, sambil diam-diam iri pada kehangatan yang dulu terasa begitu wajar bagi kita.
Sudah lama rumah kita tidak duduk dalam kebersamaan yang utuh seperti itu. Tidak ada lagi dirimu yang memarahiku pelan karena malas makan, lalu tetap menyuapiku di tengah restoran.
Siang ini, aku sengaja memesan semangkuk sayur asem. Rasanya memang tidak sepenuhnya sama dengan racikanmu, Bu. Namun, sesapan pertama sudah cukup dekat untuk membuatku terdiam. Menemukan rasa yang mirip saja sudah terasa seperti mengetuk pintu masa lalu, membuatku pulang sebentar.
Tadi malam kau mampir lagi dalam mimpiku.
Aku lupa kalimat apa yang kau ucapkan sebelum aku terjaga, tapi hangat belaian tanganmu di kepalaku masih tinggal, dan senyum tenangmu terlihat begitu terang.
Aku rindu sekali, Bu.
Jujur, aku masih belum sepenuhnya ikhlas dengan semua yang terjadi.
Masih ada amarah yang kupendam pada dunia yang terasa begitu tega pada manusia sebaik dirimu. Seolah kebaikan menguap begitu saja, tanpa pernah benar-benar dihitung.
Sejak kau sakit, hidup seperti memukulku dari segala arah.
Namun, aku memilih tidak tumbang.
Di sela langkah yang tertatih ini, aku bertahan sambil terus merawat sekerat harapan yang keras kepala, suatu hari kau akan kembali sehat dan bugar, seperti dulu.

Comments
Post a Comment