Skip to main content

Life after breakup.

Ga ada. 

Ga ada life. Belum move.

Hari-hari cuma berulang-ulang muterin John Mayer, terpaku sama bait ini,

Life is full of sweet mistakes, and love's an honest one to make, time leaves no fruit on the tree. But you're gonna live forever in me, I guarantee, it's just meant to be..

Aku tidak tau bagaimana cara melangkah, ketika sudah diam terlalu dalam. Sudah hampir 3 bulan, rasanya masih sepi, belum bisa berdamai dengan keadaan dan menerima kalau ternyata semuanya sudah usai. Aku masih disini, berusaha menanti, entah untuk apa. 

Masih bergelut antara hati dan isi fikiran, rasanya semuanya begitu cepat lalu menghilang. Rasanya sudah kucurahkan semua yang ada, tapi nyatanya tidak ada bekasnya. Hal-hal yang kufikir menjaga dan menguatkan, ternyata justru malah menjauhkan. Kalau hidup hanya sekedar hidup, aku pun hidup, bernafas dan berjalan, tapi entah ketujuan yang mana, karena rasanya tujuanku berhenti di orang kemarin. 

Sudah berganti tahun, namun kosongnya masih terasa, hampanya kian menguat. Aku fikir tempat terakhirku untuk menumpahkan semuanya berakhir di kamu, tapi ternyata kamu memilih pergi, meninggalkan aku yang terseok-seok sudah tak bersisa lagi. Hal termenyakitkan adalah saat mengetahui jika hadirku sudah tak penting lagi. Padahal bersua denganmu adalah hal aku anggap obat untuk segala masalah di dunia ini. Tapi ternyata itu bukan lagi hal yang kau nantikan.

Entah karena aku yang tak mau berpindah, atau memang sebenarnya semuanya masih bisa diusahakan. Rasanya sentuhanmu sulit digantikan, padahal sudah sejak lama pelan-pelan kau mulai meninggalkan, menaruh jarak yang teramat jauh. Tapi aku masih disini, mencoba mengais-ais perhatikanmu, menantikan hal menyenangkan yang biasanya aku rasakan saat bersamamu.

Meski dekat, semuanya terasa jauh.

Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan perasaan dan situasi ini, mungkin harus kubangun logika lagi untuk bisa mengalahkan perasaan menantimu di hati, tapi aku masih belum cukup berani. Aku masih berharap kau jadi sandaran terakhir tiap dunia menghantamku dengan keras, atau bahkan disaat dingin angin malam perlahan menenggelamkan ditengah kesendirian.

Mungkin memang cara kita berbeda, berkali-kali logikaku mencoba menghantam perasaan sendiri, namun nyatanya selalu kalah dengan rasa rindu yang sulit ditepis. Rasanya hatiku melawan dengan kuat saat aku coba menyingkirkanmu, baru sedikit saja sakitnya teramat.

Aku ingat kata-katamu saat pertama kali kau sudahi, kita pasti akan merasakan patah hati terhebat at least sekali dalam hidup, tapi nyatanya aku merasakan dua patah hati bersamaan, kehilanganmu dan orang yang kujadikan panutan.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...