Aku mungkin mengenalmu hanya sebentar,
Tauku tentangmu juga masih dangkal,
Kita bahkan hanya sedekat kamu dan sepasang sumpit,
Yang dengan mudah tergantikan oleh garpu dan sendokmu.
Kabarmu juga jarang sampai, aku pun tak berani untuk sekedar menyapamu, takut kalau kau terganggu,
Aku terlalu pengecut untuk sekedar menanyaimu, kalau-kalau kau butuh bersandar di bahuku,
Aku terlalu bodoh menafsirkan sinyalmu yang sempat kuat, hingga akhirnya meredup karna kenaifanku sendiri,
Harusnya saat itu aku tak menutup diri, kala itu, baiknya segera kuakui,
Namun waktu itu layanganku terlalu cepat putus, padahal terbangnya baru sejengkal kepalaku,
Harusnya saat itu buru-buru ku terbangkan, bukannya terus menerus kuulur hingga tersungkur.
Saat ini yang tersisa hanya sesal, bersama rasa yang terlambat tersampaikan, bersama gejolak yang jelas sudah basi dalam hati sendiri,
Sekalipun dihangatkan, rasanya sudah tak layak untuk dihidangkan, apalagi untukmu.
Kini yang bisa ku pilih hanya mengikhlaskan dan merelakan,
Karna ternyata rasa itu sudah terlalu usang untuk dapat kau balaskan.
Sesal ini akan jadi pengingat, agar tak memendam rasa sendiri,
Kenangan itu mungkin hanya sedikit, namun setiap detik adalah bagian favorit.
Comments
Post a Comment