Skip to main content

Sahur dan Perjuangan

Kalo dikosan, jam segini lagi keluar nyari sahur sambil menggigil, mana ga ada yang bonceng pula. Jogja kalo jam segini kerasa dingin banget gila, apalagi di zona Kasihan, Bantul.

Terus abis sahur tanpa tidur, bingung mau ngapain, soalnya jam 7 kelas, blablas sampe siang. Pulang kelas bukannya ngantuk, malah tambah melek mata, padahal badan udah panas dingin ga keruan, sorean dikit deket buka, udah mulai dingin badan. Jadinya buka pake es dikit, langsung ingusan.

Kalo udah gitu, cuma Procold yang jadi andalan. Baru bisa tidur, paginya mendingan, hidup mulai normal. Sampe malem berikutnya, kumat lagi, ga tidur sampe sahur, kelas pagi, ga tidur sampe sore, buka puasa pake es dikit, flu lagi, demam, hantem Procold lagi. Gitu terus sampe pulang lebaran kerumah.

Aku serapuh itu aja, masih bisa banget bangunin kamu sahur, nemenin nugas, dengerin km marah-marah, bikin kamu ketawa, telfon dri jam 7 sampe mau deket sahur, pura-pura baik-baik aja biar kamu seneng, nugas sambil telfonan, bangunin tidur siang biar kamu ga telat cari takjil.

Tapi jarang hargain.

Anyway,

Selamat makan sahur ya, kamu. Aku selalu percaya kalo semua usaha akan berbuah, semua yang berjalan akan sampai juga. Tapi aku juga percaya, kalo berjuang itu seperti melarungkan perahu kertas di tengah lautan, mungkin sampai kedaratan, tapi bisa juga karam ke dasar lautan.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...