Skip to main content

Menikmati Hari di Kedai Kopi Bersama Sisa Keganasan Merapi

Kopi dewasa ini sudah bukan lagi menjadi sesuatu yang biasa saja. Namun, kopi sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar masyarakat.

Menikmati Kopi, di Sisa Keganasan Merapi

Di Indonesia, terdapat berbagai macam jenis kopi yang bisa tumbuh dengan baik. Maka, jangan heran jika penduduk Indonesia sudah tidak asing lagi dengan kopi. Dari mulai masyarakat perkotaan hingga pedesaan, kopi sudah menjadi tren.

Dengan semakin meningkatnya permintaan kopi, hadirlah berbagai macam kedai kopi diseluruh penjuru nusantara. Dari berbagai konsep kedai kopi, mulai yang modern hingga yang bernuansa alam tradisional khas Indonesia. Salah satunya adalah Kedai Kopi Merapi, yang terletak di Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Menikmati Kopi, di Sisa Keganasan Merapi

Di Kedai ini, para pengunjung akan dimanjakan dengan nuansa pedesaan di Lereng Gunung Merapi dengan pemandangan khas sisa-sisa kengerian erupsi gunung berapi paling aktif didunia tersebut. Di kedai inilah para petani kopi yang awalnya hanya mengolah kopi menjadi bubuk lalu dikirimkan ke beberapa daerah di Yogyakarta, mulai menyadari bahwa kopi punya nilai ekonomis yang lebih dari itu.

Bapak Sumijo, pria paruh baya yang memiliki inisiatif untuk mengembangkan nilai ekonomis kopi. “Awalnya kami punya cita-cita, selain kopi itu dihasilkan untuk kopi bubuk, untuk meningkatkan nilai ekonomis kopi, bisa ditingkatkan lewat jalur wisata, atau agroculture-tourism. Akhirnya kami membangun desa wisata petung berbasiskan kopi”, kisah pemilik kedai tersebut.

Hadirlah Kedai Kopi Merapi sebagai kedai kopi pertama di lereng merapi. Namun nahas, belum sempat kedai dibuka, Merapi sudah menunjukkan keganasannya di tahun 2010. Alhasil kedai kopi tersebut hancur terkena erupsi Merapi. Namun, kegagalan itu nyatanya tidak membuat Sumijo kapok.

Menikmati Kopi, di Sisa Keganasan Merapi

Pada November tahun 2012, dengan modal yang pas-pasan, ia nekat untuk kembali membuka kedai kopi tersebut. Alasan utama pria tambun ini kembali membuka kedai kopi Merapi, adalah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Karena, ia menjelaskan bahwa jika hanya mengandalkan , tanaman kopi saja, para petani hanya akan emndapatkan hasilnya setelah 3-4 tahun tanam, padahal para petani disana membutuhkan hasil harian. Kedai Kopi Merapi ini dirasa tepat untuk menjawab keresahan tersebut.

Menikmati Kopi, di Sisa Keganasan Merapi

Beliau juga menuturkan, jika kedai kopinya itu tidak akan mengadaptasi konsep kebanyakan kedai kopi dipusat kota yang rata-rata menyediakan fasilitas Wifi dan atau Proyektor. Ia memilih untuk mengkonsepkan kedainya secara tradisional dengan tidak menyediakan piranti tersebut. Tujuannya agar para pengunjung yang datang bisa lebih dekat dan menikmati suasana alam di sekitar kedai tersebut. Selain itu, ia juga berharap jika para pengunjung yang datang tidak sekedar mampir untuk ngopi, namun juga berinteraksi dengan sesama pengujung.

Kedai Kopi Merapi mensupplay kopi dari petani local yang pengolahannya dipusatkan di Koperasi Kebun Makmur. Jenis kopi Arabika dan Robusta hasil tangan dingin dan telaten para petani di Kabupaten Sleman pun sudah dapat pengunjung nikmati dengan unik dan berbeda di kedai ini. Antusiasme masyarakat dengan hadirnya kedai kopi ini makin meningkat. Kedai Kopi Merapi pun semakin lama semakin berkembang pesat. Dari yang awalnya hanya mampu menampung sekitar 8 hingga 10 pengunjung, sekarang kedai ini sudah mampu menerima hingga 250an pengunjung untuk datang menikmati kopi di kedai ini.

Aktivitas Gunung Merapi pun jelas sangat mempengaruhi pengunjung yang datang ke kedai kopi ini, meningat letaknya yang berada di lereng gunung. “Namun kalo statusnya belum ‘awas’ masih aman untuk berkunjung kesini”, ujar pak Sumijo.

Menikmati Kopi, di Sisa Keganasan Merapi

Hadirnya kedai kopi Merapi ini juga tak hanya berdampak bagi pemiliknya saja. Dengan semakin pesat perkembangan kedai ini, lapangan kerja pun meningkat. Warga pun juga turut menitipkan produk-produk rumahan non-kopi seperti snack, oleh-oleh, dan makanan-makanan lainnya di kedai ini. Selain itu, dengan meningkatnya jumlah pengunjung ke kedai ini, harapannya produk kopi dari Koperasi Kebun Makmur hasil olahan petani lokal juga meningkat penjualannya.

“Kami fokus ke pasar lokal dulu yang dikuatkan, permintaan ekspor ke eropa sudah banyak, namun karena ketersediaan kopi yang terbatas, kami belum bisa melayani. Hitungan kami, kenapa kami memikirkan pasar local dulu, di jogja itu, dari data jumlah kedai cafĂ© di jogja ada lebih dari 1600an, belum hotel dan restoran, sehingga kebutuhan kopi di jogja itu termasuk tinggi. Jika kami bisa 30% saja memenuhi kebutuhan kopi di jogja, hitungan saya kopi merapi sudah hampir habis,” pungkasnya.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...