Skip to main content

Mungkin Kau Masih Ingat

Hari ini, entah kenapa semua memori itu kembali. Semua cerita tentang bagaimana tawa itu tercipta. Tentang bagaimana tangis itu melebur menjadi satu, menyisakan pedih yang teramat perih.

Hari ini, semua itu terekam jelas, mengulang kembali semua hal indah yang dulu pernah terlewati. Kekecewaan. Rasa bersalah. Kehilangan. Keputusaasan. Perjuangan. Mungkin saat itu aku terlalu muda untuk mengerti bagaimana jalan cerita kisah yang mungkin berusaha kau usahakan. Mungkin saat itu aku terlalu bodoh untuk memahami bahwa kau sudah berjuang sekuat itu. Mungkin saat itu hatiku hanya dipenuhi rasa amarah dan cemburu.

Aku masih ingat, bagaimana pertemuan kita didepan kelas. Melihatmu datang dengan rambut diikat kebelakang, menyapa dengan senyum termanis yang pernah aku lihat. Bagaimana kemudian aku mendengar suaramu lembut, 

“Hai, Mas..”

Tak perlu waktu lama untukku terbenam dalam suka. Tak butuh barang 5 menit untuk segera mendambamu.

Hari itu berlalu dengan menyisakkan senyum bahagia di bibirku selepas sekolah usai. Bayangan wajahmu seolah selalu menari-nari dalam fikiranku. Kau bahkan hanya menyapaku. Tapi ramah tamahmu sebegitu spesialnya hingga wajahmu melekat kuat dalam ingat. Aku mengagumimu. Mencintai senyummu. Menggemari lembut suaramu. Menanti renyah tawamu.

Dua hari setelahnya, ternyata kita dapat kembali bersua. Tapi dengan suasana yang berbeda. Kali ini sepertinya hari itu semesta begitu baik padaku untuk dapat mengenalmu lebih khidmat. Siang itu di kantin sekolah, sambil menenteng botol minuman, aku berjalan mendekatimu.

Kau masih saja terlihat cantik meski siang itu matahari begitu terik. Bahkan kucuran keringat yang membasahi keningmu tak membuat pesona itu pudar. Perlahan aku duduk didepanmu, bersiap untuk membuka obrolan dengan pertanyaan sederhana, seperti, 

“Sendirian aja?” atau sesimpel “Hai, apa kabar?”

Baru saja aku menatap, belum sempat aku memulai, kau sudah lebih dulu membuat hatiku berbunga. 

“Hai mas, sini dong temenin makan.” 

Sembari menunjuk bangku kosong di sebelahmu. Tak perlu lagi ku pikir panjang untuk segera menurutimu duduk bersebelahan.

Mulailah obrolan ringan seputar perkenalan. Lucunya, hingga saat itu aku belum tau siapa namamu. Ternyata tak perlu tau namamu untuk sesegera itu menyukaimu. Sejak siang itu lah aku mulai menasbihkan diri sebagai pengagum beratmu, hingga kini.

Kau begitu anggun, tapi tetap bersahabat. Kau bahkan tak malu untuk melakukan hal konyol yang membuat suasana mencair. Kau begitu hebatnya membuatku tersenyum semudah itu.

Hari terus berlalu, kita semakin dekat. Hingga akhirnya keberuntungan itu memihak padaku.

Resmilah aku menjadi pemilik hatimu saat itu hingga satu setengah tahun kedepan setelahnya. Tak pernah sehari pun aku merasa bosan meski sudah seharian bersua denganmu.

Tak pernah sekali pun aku pernah dengan tega bahkan untuk tidak membalas chatmu dengan cepat. Begitu antusias aku untuk menyambut semua hal darimu.

Satu setengah tahun dalam hidup yang ternyata tak pernah bisa tergantikan oleh siapapun, apalagi terlupakan. Semuanya begitu dalam tertanam dalam ingatan.

Lantunan pianomu, petikan gitarmu, merdunya suaramu masih tergambar jelas.

Bahkan setelah 6 tahun lamanya berselang.

Tak satupun mampu menghapus ingatanku tentangmu. Semuanya hanya jadi nomer 2 setelahmu.

Tapi semuanya tak berjalan mulus-mulus saja. Entah berapa banyak peluru yang bersarang di badan hanya untuk mempertahankanmu. Sudah beratus sayatan pedang tercetak untuk berusaha sekuatku menjagamu.

Tapi waktu berkehendak lain.

Aku harus kehilanganmu. Melepas genggaman tanganmu.

Saat itu aku benar-benar terpuruk.

Kehilanganmu bukan sekedar kehilangan cinta, tapi sahabat, teman, musuh, keluarga.

Aku harus rela melihatmu tertawa meski bukan aku sang penyebab tawa.

Aku harus merelakanmu memadu kasih dengan hati yang sudah tentu bukan aku sang empunya hati.

Hari ini, aku kembali mengingatmu begitu dalam. Mengingat betapa saat itu kau begitu indah untuk kusentuh. 

Mungkin kau akan membaca ini, mungkin juga tidak. Aku tak pernah ingin kau terlupakan. Bahkan jika kau sekuat itu berusaha melupakan.

#ANPK

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...