Skip to main content

I'm Out, Nocturnal Enuresis.

So, here is the thing why I looked quite gloomy shit this month.

Disaat gue berada di kondisi terburuk dalam hidup.  Disaat ketakutan, depresi, dan keterpurukan dalam hidup gue memuncak. I almost wanted to died, seriously. But there was something that made me felt good again, after a lot of pressure that happened to me.

Mungkin dari postingan beberapa post dan snapgram gue di instagram kalian udah bisa liat, gimana gue melontarkan rasa kehancuran gue begitu gelap dan dalam. Dan ya, memang itu yang gue rasain.

Setelah gue berusaha melewati semua kecemasan dan ketakutan gue, sampai di titik gue mulai lelah dan ga kuat untuk menghadapi itu, ada satu titik cahaya yang kembali membuka mata hati gue pada satu hal, ya i still have the God.

Disaat gue berada di titik terendah dalam hidup yang gue rasain, bukan malah ngebuat gue balik untuk mendekatkan diri padaNya, justru malah ngebuat gue merasa bahwa hidup itu gak adil. Why? Banyak hal yang gak bisa gue ceritain, tapi jelas keluarga gue tau apa yang gue rasain. Sebegitu takutnya gue membuat gue frustasi dan ga tau harus ngelakuin apa lagi.

Oke, bakal gue gambarkan sedikit mengenai kenapa gue selebay itu dengan rasa ketakutan gue yang ngebuat gue sedepresi ini.

I’m 19yo. now. Dan selama 19 tahun ini, gue selalu dihinggapi rasa takut, gak percaya diri, frustasi, kegagalan, keputus asaan yang tiap hari gue rasain. Something too private that i can’t tell to anybody, except to my parents and my brother. Hal ini menyebabkan gue perlahan kehilangan arah dalam hidup.

Semua planning, semua cita-cita, harapan, keinginan hancur sebelum gue mulai untuk melangkah.

Day by day, rasa kecemasan ini semakin memuncak. Ketakuatan ini semakin menenggelamkan gue dalam jurang gelap yang dalam dan dingin. Sedikit demi sedikit menghancurkan mental dan kepribadian gue. Mungkin dari kalian banyak yang ngerasain atau bahkan perhatiin, kalo ada.

Makin lama gue makin berasa dalam satu kotak kecil yang gelap yang sama sekali gak ada pintu keluar. Setiap kali gue berusaha ngedobrak, kotak ini makin mengecil menekan gue untuk tetap stay dalam rasa ketakutan. It’s seems like a phobia, but more complicated. Gue kehilangan semangat untuk menggapai sesuatu yang harusnya bisa gue dapetin, tapi itu semua dipaksa untuk menjauh.

Disaat gue berusaha untuk berkembang, rasa ketakutan ini seolah gak mengijinkan, terus menekan gue sampai dimana gue merasa putus asa dan akhirnya gak bisa berbuat apa-apa. Gue selalu berusaha berdamai dengan diri sendiri, tapi semuanya sia-sia. Disaat gue udah sedikit melangkah, tapi ketakutan itu kembali menarik gue dalam-dalam. Disaat gue mulai merangkak dan hampir berhasil keluar, muncul duri duri beracun yang seolah tanpa belas kasihan menusuk dibalik dinding yang tengah gue panjat.

Sayangnya, semua ini cuma gue rasain sendiri. Gue cuma bisa mengeluh tentang keadaan tanpa pernah bisa mengutarakan secara explicit. Semua orang bernasehat sama tanpa bisa merubah apa-apa.  Keadaan ini makin mengganggu disaat gue hidup sendiri. Semuanya bener-bener gue hadapin sendiri, tanpa pernah orang tau betapa rasa ketakutan ini begitu hebat merengkuk hidup gue.

Sampai ditahun ini. Disaat gue beranjak 19 tahun. Disaat dimana sebentar lagi umur gue bukan belasan lagi, gue bener-bener gak bisa apa-apa. Hidup serasa stuck di satu titik yang seharusnya gak perlu lagi gue takutkan. Tapi ini malah makin kuat.

Gue bener-bener capek untuk terus-terusan menghadapi hal yang sama belasan tahun tanpa pernah tau solusinya, yang makin lama makin merusak segalanya. Gue masih mencoba berdamai dengan keadaan. Mencoba menerima dengan berharap ini gak akan bertahan selamanya.

Cuma 2 hal yang bikin gue bertahan sekarang, Agama dan Keluarga. Perjuangan gue selama belasan tahun berdiri sendiri hanya untuk dua alasan, kepercayaan keluarga dan taat dengan agama. Thats why gue masih bisa nulis ini dengan nyawa masih menempel. Lebay? Memang. Ini sangat menyulitkan setiap langkah yang akan gue ambil. Gue berusaha terus bertahan dalam kotak kecil gelap tanpa cahaya ini. Ini begitu menyakitkan, makin lama makin bertambah parah.

Satu – satunya hiburan dalam perjuangan ini Cuma dengan mengingat pencapaian-pencapaian dalam hidup gue dengan diselimuti rasa takut ini. Gue bahkan sampe gak percaya bahwa gue bisa ngelewatin semuanya dengan diringkuk perasaan yang gak pernah orang lain rasakan. Menahan rasa sakit yang dari hari ke hari makin mengganggu. Sampe gue gak percaya bahwa Tuhan itu bener-bener ada.

Sampai hari ini. Setelah gue mengingat semuanya, gue kesampingkan ketakutan kan kengerian dalam hidup gue. Ternyata gue terlalu sombong untuk tidak meyakini bahwa Tuhan tidak diam. Gue sadar gak semua orang merasakan ketakutan hebat yang gue rasakan, tapi Dia, dia menggariskan hidup gue dengan dramatis.

Tuhan mengirimkan berbagai anugerah yang selama ini ada, tapi tertutup oleh kekalutan dan kegelapan hidup gue. Betapa Dia kasih kekuatan hebat yang bikin gue bertahan sampe sekarang. Yang bikin gue masih bisa bertemu orang baru, membuka lebar mata melihat dunia yang tak sesempit kotak kecil hitam yang selama ini mengurung jiwa gue.

Tuhan kasih sesuatu yang gak gue minta, tapi ternyata lebih bermanfaat daripada apa yang gue inginkan. Gue masih bisa melihat dunia dari lubang kecil dalam kotak yang jarak pandangnya melebihi ekspektasi gue. Dia tidak mengeluarkan gue dari kotak itu, tapi dia membawanya terbang. Dari lubang kecil itu gue bisa melihat dunia jauh lebih hebat dari apa yang bisa gue bayangkan. Sampai pada akhirnya gue bisa melewati pencapaian-pencapaian yang gak mungkin bisa gue bayangkan dengan keadaan gue bisa gue lewatin.

Memang, banyak hal yang harusnya bisa gue dapet tapi akhirnya gak mampu gue sentuh sedikitpun. Semuanya begitu menyakitkan. Gue gak mau berakhir tragis seperti orang depresi lain yang sama gak kuatnya kek gua mengakhiri semua perjuangannya dengan sia-sia tanpa dapet apa-apa. Gue udah jalan jauh, dengan menyeret-nyeret luka yang makin hari makin bertambah pedih. Gue gak mau menyia-nyiakan ai mata yang jatuh dari orang tua gue melihat perjuangan gue yang begitu sulit untuk mencapai titik sekarang.

Tiap orang memang punya masalah masing-masing. Dan hidup memang gak mudah. Dalam depresi ini gue selalu berusaha meyakinkan diri untuk tetap kuat dan bersabar menghadapi semuanya. Gue percaya kemampuan gue gak Cuma sampe disini. Gue masih bisa berkarya, mendapatkan apa yang orang lain bisa dapatkan walaupun dengan keadaan yang gak seterang mereka.

Gue memang terlihat lemah dan bodoh disaat rasa takut itu menutupi pikiran gue. Menghantui setiap langkah yang akan gue ambil, menusuk-nusuk hati yang ingin bersabar tapi selalu dihancurkan. Sampai gue gak sadar, diluar sana ada banyak orang yang pengen gue bangkit, ada yang masih peduli sama gue.

Bahkan sampai sekarang gue gak pernah percaya yang namanya sahabat. Karna mereka gak bisa meredakan rasa takut ini. Itu hal terbodoh yang gue percaya. Terlepas dari itu, mereka gak tau apa yang sebenernya gue hadapi. Gue gak bisa cerita. Satu-satunya orang yang sedikit bisa melegakan gue Cuma ibu. Karna Cuma sama dia gue bisa cerita.

Hari ke hari orang silih berganti masuk kehidup gue. Dan mereka sama sekali gak bisa merubah rasa takut ini. Tapi at least, mereka berhasil membuat gue lupa sejenak dengan kekalutan itu. Mereka berhasil membuka kotak ini walau sejenak, membiarkan gue bernafas lega barang beberapa jam, walau kemudian kotak ini menutup rapat kembali dengan sendirinya.

Gue gak bisa mengungkapkan rasa takutan itu, tapi setidaknya itulah gambaran yang tiap hari selama bertahun-tahun gue rasakan. Mungkin ada dari kalian yang percaya, atau malah berfikiran bahwa ini hanya sebuah drama karna gue baru putus. Fuck that shit, man. Masalah gue lebih kompleks dari sekedar ditinggal orang yang sangat gue percaya, tapi dia malah menjatuhkan gue kedalam kotak lebih dalam lagi. Itu gak ada apa-apanya. Gue gak setolol itu depresi karna cuma kehilangan orang lain doang.

Gak ada tujuan apa-apa gue nulis ini. Gue Cuma berusaha ingin sedikit merasakan kesejukan dari apa yang gue tulis disini, di tengah keadaan yang seperti ini.

Gue minta maaf sama semua orang yang pernah berusaha peduli sama gue tapi gue acuhkan. Gue minta maaf sama semua orang yang pernah berusaha menghibur gue tapi gue abaikan. Gue minta maaf sama semua orang yang berusaha mau ngerti dan menenangkan gue tapi gue gak peduli.

Bukan karna gue sesombong itu. Gue seneng. Sangat seneng. Tapi mau gimana? Gue gak bisa apa-apa. Lubang ini terlalu dalam. Sekalipun gue berusaha larut dalam kebahagiaan, kotak ini gak bakal diem. Dia bakal terus menarik gue masuk kedalam. Lagi dan lagi. Gue sangat berterima kasih dengan usaha kalian.

Ini semester kedua gue kuliah, dan mestinya 8 semester itu gak lama. Semoga dengan berjalannya waktu, Tuhan bisa memutuskan untuk andil menghancurkan kotak ini dan membiarkan gue tumbuh dan berkembang dengan terang tanpa diselimuti rasa takut dan depresi berkepanjangan. Gue Cuma takut gue out of control, lalu melakukan hal bodoh karna ketakutan ini makin lama makin meradang.

Minta doanya, siapapun yang kenal gue, I love you guys. Ini semua gak gampang.

Gue, yang bertahun-tahun dihadapkan dengan rasa takut dan gelap yang sampai sekarang masih mengantui aja masih bisa bertahan. Depresi ini udah bukan hal asing buat gue. Harusnya, kalian yang lebih beruntung bisa hidup damai, tanpa cemas, takut, depresi kek gue bisa lebih hebat dari yang kalian bayangkan. Karna sampai dititik ini buat gue udah hal yang luar biasa. Apa lagi kalian yang normal?

Gue gak berusaha sok-sok mengedukasi. Buat apa? Ngurus diri sendiri aja kelimpungan setengah mati. Tapi dari apa yang gue rasakan, semoga bisa buat kalian lebih berdamai dengan diri sendiri. Bersyukurlah, karna diluar sana ada banyak orang yang gak bisa bebas ngelakuin apapun yang mereka suka dengan tenang tanpa rasa takut kek kalian.

I’m out.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...