Skip to main content

Days After..

 Udah 4 bulan sejak pertama ngekos, masuk kuliah. Mencoba hidup baru sendiri di kota orang yang jauh dari rumah. Sedikit banyak udah mulai banyak kisah selama disini. Sudah bukan lagi tentang bagaimana mengatasi homesick. Sudah bukan lagi membiasakan diri hidup tanpa keluarga. Tapi tentang bagaimana bisa bertahan, belajar, dan menghadapi berbagai kisah baru dalam hidup.

Hidup sendiri memang tidak mudah, meskipun finansial masih dibantu orang tua, tapi tentang bagaimana mengatur hidup agar tidak sia-sia. Menjalin hubungan dengan orang baru, membiasakan diri dengan budaya, hidup mandiri tanpa boleh berkeluh kesah, dengam bayangan cita-cita yang kelak akan kugapai. Kerinduan bukan lagi menjadi sesuatu yang sulit, tapi tentang bagaimana membangun pribadi baru yang mampu bertahan, berguna, dan bermanfaat. Semuanya butuh proses yang tidak mudah.

Banyak orang melihat aku hidup dengan santai tanpa beban, tanpa banyak yang tau apa beban yang menumpuk di kepala. Banyak hal yang harus aku siapkan, kuatkan dan pertahankan. Tentang begitu banyak hal yang harus aku hadapi dan lewati bukan hal yang sepele. Kadang hidup memang tak seindah kelihatannya. Tak seperti renyahnya tawa, tak semanis senyum disetiap kesempatan bertatap. Dibalik keacuhan ini tertanam hati yang enggan untuk menunjukkan perih.

Cenderung menepi, menghindari riuhnya saling bersapa, berdiam diri mencari sepi. Membenamkan diri dalam sendiri, mungkin hal yang sering aku pilih ketimbang ikut melebur dalam ramai. Tak banyak hal yang bisa kuceritakan. Tak banyak kisah yang bisa kusampaikan. Tak banyak kata yang bisa kuucapkan. Hanya melalui tulisan dalam kesendirian aku bisa sedikit merasa lega. Kadang senyuman sulit untuk tergambar, kadang tawa tak semudah itu terpecah. Keceriaan tak seperti yang terlihat. Sedihpun kadang tak bisa tergambarkan.

Rasanya diri tak mampu menapak, hanya sendiri. Terdiam di satu titik yang entah sampai kapan akan bergeser lalu menyeruak menjadi lukisan yang layak untuk dipandang mata. Hanya lewat kata, yang tertulis dalam nuansa perih ini hati bisa sedikit nyaman, setidaknya tuk beberapa waktu sembari menghisap kepulan asap yang sedikit dapat menenangkan.

26 Desember 2017.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...