Skip to main content

brOKen

 *CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, BILA ADA KESAMAAN NAMA, TEMPAT, DAN KEJADIAN, BUKAN MERUPAKAN KESENGAJAAN PENULIS. CERITA INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH CREATIVE THINKING. UMY 2017.

Berhari – hari setelah insiden itu, aku telah kembali pulih. Aku kembali melaukan kegiatan seperti biasa. Sudah berhari – hari sejak kejadian itu, aku masih belum berani mengendarai motor. Mengingat kakiku yang belum sepenuhnya sembuh juga. Namun hari itu terasa berbeda. Keinginan mengendarai motor sangat kuat. Kuputuskan untuk memberanikan diri menunggangi kuda besiku seperti biasa.

Seperti biasa, hari itu cuaca di siang hari. Terik matahari menyengat begitu kuat mengendurkan semangatku untuk sekedar memanaskan mesin motor melaju diantara aspal – aspal kota Slawi. Kuputuskan untuk mengurungkan niatku berkendara siang itu. Kutunggu malam datang agar kulit tak terbakar pancaran sinar terik matahari siang.

Kebetulan hari itu hari sabtu, tepat malam minggu. Seperti biasa rutinitas Kids Jaman Now, ku kontak teman – temanku untuk sekedar berkumpul melepas tawa setelah seminggu berkutat dengan buku – buku pelajaran disekolah. Satu, dua, tiga, empat, lima teman menjawab pesanku. Jadilah hari itu kami putuskan untuk Nongs di restoran Fast Food  di tengah kota Tegal.

Lepas maghrib, mulai ku persiapkan motorku. Jaket, helm, sudah terpasang. Kulajukan motorku menuju rumah salah satu temanku, Bujang namanya. Jarak rumahnya dengan rumahku tak begitu jauh, hanya beratus meter saja. Disana rupanya telah menunggu empat teman lainnya. “Weess.. dateng juga nih si merah. Wis mari durung tong ?” sapa Ghopal. “Alhamdulillah, Cuma ya embuh. Njabane tah wis mari, mbuh njerone. Soale ora tak nggawa maring Rumah Sakit. Semoga bae ora papa.” Jawabku.

“Tyas, karo Sibang endi? Daning ora muncul – muncul?” ujarku menanyakan dua teman lainnya. “Kayane tah lagi otw, tak telfoni ora ngangkat.” Jawab Bujang. “Wis neng kene sit bae, esih sore ka, karo ngenteni Isya,  jam tengah wolu bae mangkate. Kie mau ibune enyong bar tuku Tahu Aci, takis sit bae.” kata Bujang. “Siap bosque!” jawabku dan Ghopal serentak.

Oo iya, sedikit penjelasan, Tahu Aci adalah salah satu makanan khas Tegal. Terbuat dari tahu kuning yang dipotong jadi dua berbentuk segitiga yang di atasnya ditempel aci, kemudian di goreng. 10 menit berselang, Tyas dan Sibang datang. “Nah kie teka bocahe.. untung wis pragat Tahune. Hahaha..” ujar Ghopal.

“Edan tulen.. bisa di bersihi kabeh ah, ora keduman ora acan enyong.” ujar Tyas. “Yuh gas, pan mangkat jam pira kie?” tanya Sibang. “Kalem, esih sore. Jam setengah 8nan bae mangkate.” Kata Bujang. Kami pun kembali menyantap jamuan yang masih tersisa sambil meneguk segelas kopi Toraja hangat.

“Lim, Lim.. ente esih karo bocah SMA X kae kan?” tanya Tyas. “Karo kae sapa?” jawabku. “Kae lho, si Nada. Wis pirang wulan karo kue Lim?” Sibang menanyakan. “Nembe pan 2 wulan kie bang, engko patang ndina maning. Hahaha.” Jawabku. “Ntap nemen ente ya, nembe bubar, wis ana gantine maning..” kata Ghopal.

“Aku hanya tak nyaman jika hati ini kosong. Serasa dingin, hampa tanpa ada penyemangat. Sedaaaapp... wkwkwkwwk” jawabku. “Sing penting aja kaya sing ndisit maning. Aja terlalu percaya, ngko weruh – weruh, tarokane karo ente, jalane karo wong liya.” Sergah Tyas. “Siap – siap. Akan ada tempat untuk sebuah hati yang mencinta dengan tulus. Mungkin aku bukan orang yang tepat, karna hati ini begitu mencinta dengan kuat, tapi tak dapat balasan hasrat. Akan ada satu tempat, dimana hati yang khidmat dicintai dengan hebat.”. jawabku.

“Yuh lah gas.” Ujar bujang. Singkat cerita kami pun telah tiba di tujuan, setelah memesan beberapa kudapan untuk menemani malam dingin dengan balutan hangat obrolan sebuah pertemanan. Setengah jam berlalu, canda dan tawa tak henti – henti menyeruak mengiasi malam saat itu. Tiba – tiba, terlihat sepasang kekasih melangkah masuk. Duduk diantara puluhan mengunjung lain, rasanya begitu kuat, terlihat begitu jelas, tergambar dengan tepat. Kurasa wajah yang terduduk manis itu tak asing dimataku.

“Lim.. Lim.. kayane nyong paham kue sapa.” Kata Ghopal. Mereka berempat memandangiku dengan kuat, seketika obrolan kami senyap. Rasanya mata ini masih belum percaya, ketika dua insan itu saling bergandengan tangan, bercanda – canda mesra. Hati ini terasa tersayat, rasa ini seakan runtuh, senyum yang sedari tadi menghias, seketika pupus. “Loken pan ping pindo kaya kie. Bisa – bisane lho.” Kataku. Seketika terlintas di benakku, lirik – lirik lagu Ada Band dikepalaku.

Tak ayal tingkah lakumu

Buatku putus asa

Kadang akal sehat ini

Belum cukup membendungnya

Aku hanya terdiam, tak dapat berkata – kata. Bahkan untuk sekedar mengumpat saja sudah tak kuasa. Raga ini lemas, hati ini kandas. “Angger koen ngonjogi mana, terus koen dugal karo nduak – nduak maring wadone, kira – kira koen dadi katon keren ora?” ujar Tyas. “Cukup ngerti bae Lim, anggep Allah kue berarti esih sayang karo koen, di tunjukkna apa sing bener. Kabeh peristiwa ana hikmahe. Jare nyong tah, koen cukup nahan hati, bersikap gentle. Gawe Hanna nyesel nyakiti koen dina kie. Tapi uwis cukup. Aja dilanjut. Esih akeh wadon liya sing menghargai hatine koen.” Tyas menasehati.

Aku terdiam. Aku mengiyakan kata – kata Tyas. Untuk apa aku marah? Toh, bagaimanapun, dia adalah orang yang saat ini sedang aku cintai dengan tulus. Masalah hati memang tak bisa dirumus, tapi jangan biarkan sikap menjadi pedang yang menghunus, lalu melukai hati yang sedang tulus. Mungkin saat ini bukan saat yang tepat untuk mendamba hati lain, tapi aku percaya disetiap langkah dengan niat tulus, kelak akan menemukan cerita cinta yang mulus.

“Oke, oke. Mungkin memang enyong terlalu cepet beralih kehati lain, mungkin hati ini terlalu gegabah mencari tempat pemberhentian. Wislah, dewek ngalahi pindah, timbang lara ati neng kene.” Kataku. Kamipun beranjak, melewati sejoli yang mungkin tengah berbahagia. Aku pun berhenti di depan meja mereka. Sambil menyunggingkan senyum, aku ulurkan tanganku bermaksud menjabat tangan mereka.

Saat kemudian tanganku bertemu dengan tangan yang dalam hati sangat aku sayangi, dengan penuh keyakinan kulontarkan sebuah kalimat. “Hei, makasih ya. Mungkin aku bukan orang yang tepat, tapi aku percaya bahwa hatiku terlalu berharga untuk terkoyak olehmu yang banyak sengat. Tolong jaga hati lain, cukup aku. Jangan buat hargamu jatuh menurun lagi. Hati bukan sekedar hatel bus, yang bisa tiap saat kau datangi namun kemudian hanya untuk ditinggal pergi.”

Selesai.

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...