Skip to main content

KFC, Jagonya Gembil!

 Sering denger temen kalian ngomong,

"iihh kok aku sekarang *blablabla*..."

"Ih kok sekarang aku gendutaan.."

"Ih kok sekarang lemaknya kemana mana.."

"Ih kok sekarang celananya jadi sempit..."

"Ih kok sekarang bajunya ga muat..."

Lemak. Gendut.

Momok "menakutkan" bagi sebagian orang yang kelebihan berat badan dan susah untuk ngurusin badan. Gue yakin, kalian pasti iri banget sama orang yang makan banyak gila tapi ga gendut gendut dan berat badan tetep stay di angka aman aja kan? Kalian pasti heran kenapa mereka bisa santai makan tanpa pusingin berat badan sementara kalian buat ngunyah kulit ayamnya "KFC" aja takutnya setelah mati.

Gue juga sama soob..

Cerita mengerikan itu dimulai ketika gue lulus SMP. Dulu waktu gue SMP, bagi gue kelebihan berat badan itu adalah hal yang ga mungkin terjadi sama gue. Mengingat dari SD sampe selesai UN SMP, berat badan gue ga pernah nyentuh angka 51 keatas. Ya tinggi gue cuma 165an. Rasanya mau makan apa aja tuh bebas banget.

Setelah UN SMP selesai, lemak jahat ini mulai berdatangan. Iya setelah UN selesai, tanda libur panjang dimulai. Hari demi hari gue lewatin cuma buat leha leha makan sepuasnya tidur seenaknya tanpa pernah olahraga. Trend itu berlanjut sampai gue kelas 10 SMA. 1 tahun penuh tanpa olahraga berat.

Hasiilnyaaa....

Berat gue naik 10kg dan perut gue bak emak emak muda hamil 4 bulan!!! Otot otot jadi lembek macam slime. Badan jadi bungkuk karena kebanyakan ngemil dan main game. Alhasil stamina turun dan kekuataan gue berkurang. Badan model yg dulu gue punya hilang. Sedih ? Bangeet. Nyesel? Sangaat.

Dan sekarang setelah 3 tahun SMA gue lewatin dengan badan gempal tanpa otot kekar hampir selesai. Dan gue sama sekali gagal buat balikin badan gue yg dulu. Sekarang dipenghujung tahun 2016 misi terbesar gue adalah balikin stamina dan otot otot gue yang dulu hilang. Meninggalkan snack snack renyah dan kulit ayam KFC yang crunchy itu dengan sangat berat. Gue harus kurus !

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...