Skip to main content

Macet Mudik Lebaran

Marhaban Yaa Ramadhan...

Gak kerasa bulan ramadhan tahun ini tinggal satu hari lagi, ada yang bolong gak nih puasa tahun ini?

Anyway, biasanya tanggal - tanggal segini tuh waktu - waktunya mudik lebaran.  Macet dimana - mana. Dan gue baru ngerasain yang namanya macet itu bikin stres parah. Padahal cuma sejam, tapi itu ditengah matahari yang lagi terik- teriknya, ditambah laper puasa. Tinggal ke resean orang bertambah pesat. Dan disini gue mulai mengamati orang - orang sekeliling gue yang sama - sama mudik, sama - sama pengen cepet sampe, semuanya juga pake nafsu, terobos sana, nyerobot sini.

Sadar gak sih? Semakin kalian tidak sabar dan berlaku egois, semakin tinggi tingkat kemungkinan macet itu terjadi. Kenapa? Ya jelas aja sekarang coba bayangin, misalkan lu dari barat mau ke timur dan lu ngelewatin jalan yang cuma 2 jalur. Tapi entah kenapa pasti ada aja yang masih nekat bikin jalur sendiri. Akibatnya? Posisi kendaraan jadi gak teratur. Yang dari barat kanan kiri ketutup kendaraan, begitu juga dari arah timur. Terus kapan jalannya kalo jalur orang lu embat? Kenapa sih gamau sabar sedikit untuk agar kita bisa ngelewatin perjalanan dengan lancar dan nyaman. Mending pilih jalan pelan tapi continue dari pada jalan ngebut tapi lama nunggu macetnya kan? Sabar lah.. Kita semua juga sama - sama pengen sampe tujuan dengan lancar dan selamat.

Sekian...

Oh iya, sekalian gue berserta keluarga mengucapkan Minal Aidzin Wal Fa Idzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat Hari Kemenangan, SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI :)

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...