Skip to main content

Peperangan Melupakan

كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٌ لَّـكُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تَكۡرَهُوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ خَيۡرٌ لَّـکُمۡ‌ۚ وَعَسٰۤى اَنۡ تُحِبُّوۡا شَيۡـــًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ وَاَنۡـتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Kutiba alaikumulqitaalu wa huwa kurhullakum wa 'asaaa an takrahuu shai'anw wa huwa khairullakum wa 'asaaa an tuhibbo shai'anw wa huwa sharrullakum; wallaahu ya'lamu wa antum laa ta'lamuun.

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [2:216]

Barangkali itu ayat Al-Quran yang bisa mengingatkan ku untuk selalu mencoba mengikhlaskan sesuatu yang teramat aku cintai.

Pernah ga kalian ngerasain gimana sakitnya ketika kalian telah memperjuangkan sesuatu, jatuh berulang kali, lalu akhirnya kalian mendapatkan itu, tapi tiba - tiba sesuatu yang kalian dapatkan itu hilang, hancur, musnah seketika? Mungkin itu yang tengah kurasakan sekarang. Setelah sekian lama berjuang, bertahan, berusaha, dan akhirnya hampir mendapatkannya, tiba - tiba semuanya berubah jadi 0 lagi.

Banyak orang mengingatkanku untuk mengikhlaskannya, tapi hanya untuk sekedar ikhlas saja butuh perjuangan ekstra keras. Bahasa kerennya sekarang itu MOVE ON. Sulit sekali untuk merelakan sesuatu yang kita cintai untuk pergi tanpa alasan yang jelas, atau malah sesuatu itu pergi karna adanya gangguan dari orang lain. Berat, sangat berat. Bahkan hanya untuk sekedar melupakan ingatan manis yang pernah terjadi. Perih rasanya. Seperti ada kekosongan yang amat berarti dihidup kita. Mencintai sesuatu memang mudah, tapi untuk melupakan cinta yang telah bersemi itu bukan perkara membalikan telapak tangan begitu saja.

Jika memori dalam hidupku bisa ku format, aku lebih memilih menghapusnya secara paksa ketimbang harus melewati proses panjang untuk sekedar melupakannya. Memang, segala sesuatu yang kita rencanakan hasilnya tidak selalu seperti yang diharapkan. Aku berusaha mengerti itu, aku berusaha berfikir rasional menggunakan akal fikiran, namun hatiku menolak.

Jika dari awal aku tau, untuk sekedar mencintai seseorang kita harus juga siap untuk merasa sakit dan kehilangan. Jika aku tau untuk melewati proses itu begitu sulit, mungkin aku akan sangat enggan untuk berurusan dengan cinta. Mungkin memang ini jalan yang harus aku tempuh, mungkin ini jalan cerita hidupku yang pasti terukir. Namun apa dayaku jika hati ini tak mampu menerima? Kesal, sedih, kecewa, marah. Semuanya melebur menjadi satu rasa yang sulit diungkapkan.

Aku hanya berharap, jika memang dia bukan yang terbaik, atau memang belum waktunya untuk bersama, aku ingin ada yang bisa menggantikannya untuk beberapa waktu, dan menemaniku melewati masa ini, atau bahkan malah bisa menggantikan rasa yang telah hancur ini. Aku hanya ingin bahagia. Rasanya percuma rasa ini tercipta jika aku tak tau harus diberikan pada siapa selain orang terdekat dan yang Maha Kuasa.

Aku hanya ingin menjadi bintang jatuh. Dimana setiap orang yang melihatku selalu memanjatkan permohonan yang baik, selalu berharap semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Bukan malah menjadi bola api yang menghantam keras.

"In the end, we only regret the chances we didnt take."

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...