Skip to main content

My Family, Hope, and Determination

Gue kadang mikir kalo ada banyak hal yang beda dihidup gue yang gue rasain. Entah dari aspek manapun itu, gue gak ngerti apa yang terjadi awalnya, tapi setelah gue udah tumbuh makin besar dan gue udah mulai ngerasain gimana rasanya hidup, gue udah bisa ngerti apa yang terjadi dari dulu sampe sekarang yang gak pernah gue pahami dulu.

Sekarang, setelah gue udah mulai memahami sisi lain dari hidup gue yang diliat orang dari luar itu terkesan "baik - baik saja" ternyata gak terbukti didalamnya. Problema - problema yang baru gue sadari dan baru gue ngerti sekarang bikin gue jadi sering mikirin hal yang sebenernya, itu bukan porsi gue, itu bukan bagian dari sesuatu yang seharusnya gue pikirin di usia gue yang sekarang. Tapi lambat laun, mau gak mau gue juga tau sendiri, dan itu emang gak bisa gue hindari. Apalagi gue tahan.

Gue ngerasa ada yang ngeganjel di sisi - sisi yang kasat dimata gue dulu itu mulai remang - remang dan akhirnya terlihat dengan gamblang. Entah gimana gue harus nyeritainnya, yang jelas semua itu jelas berpengaruh dan akan jadi bagian dalam otak gue yang udah sesak sama hal - hal yang sebenernya gak penting, tapi entah kenapa terpikir dan harus dipikirin sama gue, dan itu berat. Berat banget..

Gue cuma pengen hidup gue itu indah seperti yang udah gue lihat di kehidupan orang lain. Gue pengen semua kelurga gue itu tau, dan seenggaknya mulai menyadari apa kekurangan dan keretakan yang seharusnya wajib untuk ditutup dengan lebih banyak lagi keingintahuan dan, mungkin harus lebih peka terhadap hal - hal yang mungkin bagi mereka gak penting, tapi di otak dan hati gue itu membayangi terus. Memang untuk dalam hal ini gue gak bisa berperan banyak. Yah, mungkin gue cuma bisa berharap kalo gue kelak bisa ngerubah semuanya. Ngerubah diri gue, kehidupan gue, keluarga gue, dan semua yang ada didunia ini yang berkaitan dengan gue untuk bisa lebih baik, lebih peka, dan lebih indah lagi dari sebelum - sebelumnya.

Mungkin kalo ortu gue baca posting ini, mungkin mereka cuma senyum dan ketawa sambil, mungkin bergumam, "kamu masih belum saatnya untuk memikirkan hal - hal yang memang belum waktunya untuk ada didalam otak kamu." Kata - kata itu emang gak asing dan akrab banget ditelinga gue, walaupun gak setiap hari gue denger, tapi kata-kata itu bener-bener ngena banget dalam jiwa dan hati gue.

Entahlah, apa yang bisa gue lakuin untuk bisa ngerubah semuanya jadi baik, karna gue sadar, untuk ngerubah diri gue sendiri aja udah setengah mati, tetep aja cuma dikit berubahnya. Hhmm, gue emang gak bisa hidup sendiri kalo mau terus jadi lebih baik.Yang jelas, dari kecil sampe gede sekarang, impian gue untuk hidup dan keluarga gue cuma satu. Bahagiain orang tua gue entah dengan cara apapun yang gue bisa lakuin, akan gue lakuin, meskipun harus gue serahin satu satunya nyawa gue buat mereka gak masalah. Nyawa gue sama sekali gak berharga dibandingkan dengan sedikit aja senyum kebahagiaan ditiap raut wajah keluarga gue karena kebahagiaan yang gue kasih. Itu yang sampe sekarang belum bisa gue wujudtin.

Gue berharap, secepatnya gue bisa buktiin ke mereka, kalo gue gak salah ada dirangkulan keluarga gue. gue lebih milih untuk nyerahin semua yang gue punya buat keluarga gue, daripada gue kantongin sendiri. Berapapun jumlahnya. Gue cuma pengen ngeliat mereka seneng karna gue berhasil dan mampu bikin mereka semua tersenyum melihat cita - cita dan impian gue terwujudkan, entah masih ada atau nggak ada gue nanti.

Gue bakal buktiin kalo gue gak salah dilahirin dari rahim seorang ibu yang luar biasa dan didik dengan cara yang luar biasa yang gak bakal bisa gue dapetin dari siapapun. Dia istimewa dan gak ada gantinya. Sayangnya gue belum pernah berhasil sekalipun nyenengin dia dengan usaha gue sendiri, dan gue nyesel.

Tuhan, semoga semua doa, harapan, impian dan cita - citaku terwujudkan. Semoga gue bisa berguna disini, Amin...

Comments

Popular posts from this blog

tentang rasa yang tumbuh diam-diam

Jujur gue nggak tahu mau nulis apa. Tapi kayak pengen cerita aja, nulis ngalir gitu, cuma pengen cerita. Tentang seseorang. Tentang rasa. Tentang kedekatan yang mungkin datang terlalu cepat, tapi gak bisa juga dibilang salah waktu. Beberapa waktu terakhir, gue cukup sering bareng sama seseorang. Kita gak bisa dibilang “deket” banget, tapi sering bareng, main bareng, nongkrong bareng, kadang berangkat kerja bareng. Awalnya terasa biasa. Lama-lama, nggak tahu kenapa, jadi terasa istimewa. Dia bukan cuma cantik dan pintar, tapi juga punya aura yang tenang, soft spoken, dan senyum yang... bikin hari terasa lebih ringan. Dia mungkin adalah tipe orang yang bikin lo merasa nyaman hanya dengan keberadaannya, nyenengin banget diajak ngobrol. Kita mulai akrab karena sering jogging bareng. Tapi karena gue gak kuat lari, kita lebih sering jalan kaki muterin jogging track, bisa sejam dua jam, cuma jalan dan ngobrol. Dari situlah semua dimulai. Dia cerita soal hubungannya yang baru aja selesai, tent...

asing

for the first time, i didn’t look at you, even when we crossed paths. we’ve finally become strangers, just like you wanted. and again, seeing you makes it hard to breathe we’re strangers now. it feels weird, doesn’t it? maybe it's time to let go. you stopped caring, and i started hiding. we’ve drifted so far,we’re not the same anymore. it sucks, faking indifference when all i feel is the opposite. even though i know your words already killed any hope we had. now, i’m learning to stay quiet, in the middle of all these screaming memories. your voice doesn’t echo in me anymore, and your eyes, they used to feel like home, now they just pass over me, like i was never even there. i still smell your perfume, still remember the food you gave me before the goodbye. i still see your laugh—wild and unfiltered under the Bandung's skies, still feel how your touch used to silence every storm inside me. i don’t know how to forget, but you’ve already stopped remembering, i’m still drowning, wh...

yabegitulah.

Hello, there! Ini bukan tentang mengenang, tapi memahami jika langkah sudah lelah, namun pergolakan rasa tidak bisa diredam.  aku mengerti jika damai adalah tanpaku, aku tau jika lelah akan sirna tanpa harus ada aku, dan aku paham jika damai itu ternyata melepaskan.  tapi akan ada yang hilang disitu, tentu akan ada luka yang tergores, akan ada lubang tanpa isi, yang pasti tertinggal setelah ditinggal pergi.  begitu juga disini, segala hal yang pernah mengisi direnggut paksa tanpa permisi. kesepian itu kemudian merangsek masuk tanpa kendali. kini aku sendiri, memegang tali yang sudah dilepaskan.  tapi ini bukan tentang meromantisasi itu lagi, ini soal berdamai, melangkah, kemudian segera merelakan. melupakan bukan opsi, karena ekspektasi dan harapan itu pernah setinggi awan, walau akhirnya harus dikubur dalam-dalam.  setidaknya, terima kasih. meski pelangi itu hanya sebentar, cerah itu hanya sesaat, damai itu hanya pelapis dari kegelisahan, isi itu hanya awal unt...